Kepada Yang Terhormat
Seluruh pemimpin, aktivis, organisasi dan pendukung perjuangan hak menentukan nasib sendiri bagi Bangsa Papua
Di Tempat
Perihal: 65 Tahun West Papua: Dijajah Ego Pemimpin Sendiri
Saya menulis surat ini bukan dari luar, melainkan dari dalam — dari pengalaman 26 tahun di jalan perjuangan ini. Dari semua yang saya dengar lewat pelaku dan saksi mata di masal lalu ditambah dari yang saya saksikan selama 26 tahun belakangan, akhirnya saya sampai kepada satu Kesimpulan bahwa: yang bermasalah dalam Papua Merdeka bukanlah roadmap, bukan tujuan, dan bukan pula organisasinya yang dipandang dunia sebagai berbagai macam, terpecah-belah dan membingungkan bagi mereka. Dari dalam sendiri, yang paling bermasalah adalah ego pribadi para pemimpin, yang memanfaatkan dan memupuk ego kelompok yang menyertainya.
Anatomi penyakit ini sudah 65 tahun terlacak. Anak yang baru akan bernama “West Papua” — diumumkan 1 Desember 1961 — ditelanjangi dan ditinggalkan telanjang sejak awal, ketika perselisihan antara pimpinan Niew Guinea Raad, yang ditugaskan untuk menjaga dan membesarkan bayi dimaksud, terutama Tuan Nicolaas Jouwe dan Tuan Markus W. Kaisiepo mengorbankannya karena perbedaan pendapat keduanya. Sentimen masing-masing pemimpin waktu itu lebih mewarnai daripada kepentingan bersama untuk merdeka dan berdaulat sebagai negara-bangsa modern bernama West Papua.
Kita mewarisi cekcok itu. Di era berikutnya, cekcok antara Tuan Jacob Hendrik Pray dan Seth J. Roemkorem kembali membelah gerakan — dan sampai hari ini, 2026, bekas-bekas lukanya masih terasa secara kolektif oleh seluruh bangsa, padahal cekcok itu awalnya berangkat dari persoalan yang sekadar pribadi, sekedar sentiment dan pandangan pribadi sesama pempimpin, dipicu oleh perbedaan suku-bangsa, cara berpikir, pola penanganan masalah Papua Merdeka dan dipupuk oleh pendekatan yang dipilih masing-masing pribadi pemimpin yang bervariasi.
Kita lanjutkan lagi: cekcok mulai terjadi antara orang gunung dan orang gunung. Sejak 1977, orang Wamena bergabung ke dalam perjuangan — tetapi bersama mereka ikut tertular pola yang sama. Pembunuhan Laurentz Dloga dan Hans Bomay secara berturut-turut adalah bukti bahwa cekcok ini tidak mudah diobati: masalah sebenarnya pribadi antar-individu orang Wamena, tetapi ketidakcocokan pribadi itu dimanfaatkan kesatuan pasukan dan kesatuan suku, sehingga terjadilah saling mengorbankan. Masing-masing pemimpin melekat kepada kesatuan organisasi militer dan politik, masing-masing juga terbentuk ke dalam masing-masing suku sehingga tampil di permukaan sebagai permusuhan yang mematik. Lalu kita bertanya, “Di mana Indonesia? Apakah Indonesia pihak yang dilawan?”
Dan paling mutakhir: cekcok antara Presiden ULMWP Tuan Menase Tabuni dengan Presiden Pemerintahan Sementara ULMWP Tuan Benny Wenda. Bila kita bedah anatomi masalahnya, maka Papua Merdeka dan para tokohnya tengah mengidap penyakit spikologi politik “egoisme”: ego yang kemudian memanfaatkan organisasi untuk memupuk dan memelihara perbedaan. Akar persoalannya, berdasarkan pengamatan saya, terletak pada perselisihan antara Tuan Octovianus Mote dan Tuan Benny Wenda, yang berdampak kepada Tuan Menase Tabuni, Tuan Markus Haluk, dan akhirnya berdampak besar kepada Pemerintahan Sementara yang dibentuk ULMWP berdasarkan UUDS yang disahkan KTTLB ULMWP dan organisasi ULMWP sebagai organisasi induk atau Lembaga yang melahirkan Pemerintah Sementara.
Kalau dirunit secara psikologi politik dan dinamika kelompok, kedua penyakit ini bekerja seperti lingkaran setan yang saling mengunci (vicious cycle).
1. Egoisme yang Tidak Bisa Dikalahkan (Unconquerable Egoism)
Penyakit pertama adalah egoisme akut yang telah membatu memelihara dan mengembang-biakkan perpecahan. Ketika seorang pemimpin terjebak dalam egosentrisme, dia mengalami kegagalan kognitif dan emosional untuk melihat dari kacamata orang lain. Mereka mengidentifikasi diri mereka sendiri sebagai perjuangan itu sendiri. Akibatnya:
- Meleburnya Ego Publik dan Pribadi: Kritik terhadap pandangan pribadinya dianggap sebagai pengkhianatan terhadap bangsa. Dan kritik terhadap dirinya dilihat sebagai perlawanan terhadap perjuangan atau kepentingan bersama, maka dibangun kekuatan bersama untuk melawan mereka yang dianggap mengkritik.
- Mitos “Sang Juru Selamat”: Muncul keyakinan keliru bahwa “hanya lewat garis komando perjuangan nya atau kepemimpinannya saja akan berhasil dan orang lain Adalah musuh perjuangan”. Egoisme ini menolak kompromi, menolak regenerasi, dan membuat para pemimpin lebih memilih melihat gerakan ini jalan di tempat atau bahkan hancur, ketimbang dipimpin oleh orang lain yang berbeda pandangan. Mereka tidak pernah merekruit dan memperdayakan perjuangan kepada generasi penterus secara sistematis, mereka hanya mencari orang-orang yang kebetulan ada di depan mata, yang bisa dimanfaatkannya untuk menghibur egonya, mengabaikan kepentingan bersama.
2. Rasa Takut yang Berakar pada Paranoia dan Insekuritas
Penyakit kedua—yang jauh lebih beracun—adalah rasa takut. Rasa takut di sini bukan takut kepada musuh bersama, melainkan ketakutan eksistensial antar-sesama saudara sendirisasi sendiri, dalam suku sendiri, dalam lingkaran sendiri. Ketakutan ini bermanifestasi menjadi empat racun emosional:
- Rasa Curiga (Suspicion): Setiap langkah atau strategi yang diambil oleh pihak, biarpun itu sesama, bawahan ataupun atasan lain tidak pernah dilihat sebagai alternatif solusi, melainkan dicurigai sebagai upaya untuk mengkudeta atau mengerdilkan pengaruh kelompoknya, atau dicugai sebagai pihak yang bertentangan dengan kelompok dan tujuan perjuangan bersama. Rasa curiga muncul dan mencap pihak lain sebagai kolaborator dan agen dari pihak lawan, dipakai oleh pihak lawan, menjalankan agenda pihak lawan, dan sebagainya. Pemimpin yang takut selalu dipenuhi dengan paranoia ke dalam dan keluar. Sedikit-sedikit melihat sesame pejuang sebagai lawan, tindakan lawan sebagai membahayakan nyawa.
- Rasa Cemburu (Jealousy): Ketika satu figur atau kelompok mendapatkan panggung diplomasi atau simpati publik yang lebih besar, faksi lain meresponsnya dengan kecemburuan akut, bukan dukungan. Di sisi lain, para rasa cemburu juga bertumbuh di dalam diri para pempimpin, yang berakibat kepada kekakuan, kebingungan dan salah kaprah dalam menjalankan kebijakan ataupun dalam Menyusun strategi.
- Rasa Tidak Percaya kepada diri sendiri dan yang bersifat Resiprokal (Mutual Distrust): Yang pertama, rasa takut menimbulkan rasa tidak percaya kepada diri sendiri. Itu sebabnya selalu mengharapkan, dan juga sampai kepada titik memaksakan rakyat supaya menyatakan dukungan, menyerukan kepada gereja atau Masyarakat adat atau organ pergerakan lapangan untuk menyatakan dukungan. Apa sebabnya? Tidak percaya kepada diri sendiri. Yang kedua ialah kehilangan kepercayaan total (crisis of trust) di antara para pihak di dalam organisasi perjuangan ataupun di antara sesame pejuang yang membuat komunikasi jujur menjadi mustahil. Rapat-rapat koordinasi tidak lagi menjadi wadah konsolidasi, melainkan panggung intrik politik lokal. Rapat-rapat rutin tidak dilakukan, akan tetapi lebih mengharapkan para pejuang untuk harus mengikuti keinginannya sendiri, dan kalau ada pertanyaan maka dicurigai sebagai ancaman, dan kalau ada protes maka dihadapi sebagai musuh.
Ketika egoisme yang membatu bertemu dengan rasa takut yang paranoid, hasilnya adalah sabotase internal. Kita sibuk saling mengawasi, saling menjatuhkan, dan memelihara luka lama, sementara “bayi West Papua” yang dikandung 1 Desember 1961 dan dilahirkan 1 July 1971 itu terus dibiarkan kedinginan dalam ketelanjangannya.
3. Lalu apa obatnya? Apa resep untuk Meminum Obat dimaksud?
Menyembuhkan penyakit kronis yang sudah bersarang selama 65 tahun ini tidak bisa dilakukan dengan sekadar merombak struktur organisasi atau menulis ulang dokumen diplomasi. Penyakit psikologis harus disembuhkan dengan terapi kesadaran kolektif dan restorasi mentalitas kepemimpinan.
Jika kita ingin bayi “West Papua” ini selamat dan tumbuh besar, para pemimpin hari ini harus berani mengambil langkah-langkah radikal untuk menyembuhkan diri mereka sendiri:
a. Membunuh Ego demi Menghidupkan Bangsa (Decentring the Ego)
Solusi untuk egoisme yang membatu adalah kerendahan hati politik (political humility). Para pemimpin harus sadar bahwa Papua Merdeka jauh lebih besar daripada nama besar, suku, atau faksi mereka.
- Institusionalisasi Gerakan: Kepemimpinan harus diubah dari figur-sentris (berpusat pada satu orang) menjadi sistem-sentris. Keputusan tertinggi harus berada di tangan institusi bersama, bukan di mulut individu yang merasa diri paling berjasa. Struktur kepemimpinan organisasi harus jelas, dan dijalankan berdasarkan mekanisme organisasi, administrasi dan birokrasi yang tertata secara professional.
- Konstitusionalisasi Gerakan: Kepemimpinan harus beruba dari pergerakan sporadic dan figure-sentris menjadi pergerak berdasarkan aturan dan azas yang berlaku bagi semua pihak, dengan garis-garis kebijakan, kewajiban, larangan dan sangsi atau hukuman yang jelas dan tegas pula, disertai dengan aturan penegakkan semua aturan yang secara kolektif diakui dan dapat ditegakkan oleh apparat yang kompeten dan tegas.
- Suksesi Lapang Dada: Pemimpin yang matang dan yang akan membantu mencapai tujuan organisasi adalah mereka yang tahu kapan harus memimpin dan kapan harus mempersiapkan generasi muda untuk menggantikannya, tanpa merasa kehilangan kehormatan. Kepemipin tanpa regenerasi, dan tanpa mempercayai dan mempercayakan kepada orang lain, terutama generasi penerus adalah kempimpinan mandul dan tidak berguna bagi kepentingan bersama.
b. Membangun Jembatan Kepercayaan (Building Radical Trust)
Untuk meruntuhkan tembok ketakutan, kecurigaan, dan kecemburuan, kita membutuhkan rekonsiliasi psikologis yang jujur.
- Meja Kemanusiaan, Bukan Meja Politik: Sebelum duduk membicarakan strategi dan diplomasi luar negeri, para pemimpin yang bertikai harus duduk bersama di satu meja untuk saling mendengarkan, mengakui kesalahan, dan saling memaafkan secara adat, secara organisasi dan secara personal.
- Transparansi Komunikasi: Rasa curiga lahir dari ruang gelap. Harus ada mekanisme komunikasi yang terbuka, di mana setiap organisasi dan pemimpin membagikan informasi secara jujur tanpa ada agenda tersembunyi (hidden agendas). Ketika transparansi dibangun, kecemburuan terhadap pencapaian faksi lain akan berubah menjadi rasa bangga kolektif.
c. Konsolidasi Berbasis Nilai, Bukan Berbasis Sentimen
Kita harus berhenti memupuk sentimen primordial—seperti pemisahan antara gunung dan pantai, barat dan timur, atau senior dan junior. Pengikat gerakan ini harus berupa nilai-nilai universal kemanusiaan dan hak atas tanah adat yang dimiliki bersama oleh seluruh bangsa Papua.
Sejarah telah menghukum kita dengan 65 tahun jalan di tempat karena kita membiarkan ego dan ketakutan memegang kemudi perjuangan. Generasi terdahulu telah mewariskan cekcok, tetapi kita memiliki pilihan penuh untuk tidak mewariskannya kepada anak-cucu kita yang lahir hari ini.
Mari kita tanggalkan pakaian keangkuhan kelompok kita. Mari kita dekap kembali bayi “West Papua” yang telanjang itu bersama-sama. Sebab pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat seberapa keras kita berteriak menuntut kemerdekaan dari luar, melainkan seberapa mampunya kita memerdekakan diri kita sendiri dari penjajahan ego di dalam dada kita masing-masing.
Pertama, saling mengakui. Tidak ada satu pemimpin atau satu kelompok sebagai pemilik tunggal atas darah yang telah disumbangkan dan nyawa orang Papua yang telah melayang sejauh ini — yang gugur di gunung dan di pantai, yang dipenjara, yang dibuang, yang berdemo di jalan, milik semua pihak. Jouwe – Kaisiepo dan Prai-Roemkorem dulu, Mote – Wenda sekarang, telah membuktikan bahwa tumpangan bersama di satu panggung itu mungkin. Jadikanlah itu permanen, bukan momen sesaat di depan kamera.
Saling mengakui menunjukkan kedewasaan para pemimpin dalam berorganisasi secara modern, kematangan psikologis dan kesiapan untuk memimpin sebuah negara West Papua yang merdeka dan berdaulat di luar NKRI. Saling mengakui adalah bukti kekalahan egoisme adalah cikal-bakal dari otoriterianisme yang menjadi pintu masuk kejahatan terhadap sesama. Sebaliknya, saling menyalahkan dan saling mencurigai menandakan kami sebenarnya masih sangat jauh dari tujuan akhir perjuangan kita. Tuhan pasti tidak senang, tanah leluhur dan pahlawan yang telah pergi tidak memberkati. Anak-cucu yang akan datang akan mengutuk kita.n
Kedua, saling membatasi. Perselisihan pribadi akan selalu ada — manusia memang begitu, kehidupan memang selalu diwarnai pro dan kontrak, tarik dan dorong, sebagai dinamika dalam hidup. Yang salah bukan ketika pemimpin berbeda, melainkan ketika perbedaan pribadi meminjam nama pasukan, suku, dan organisasi untuk saling menghabisi Selain itu, permasalahan lanjutnya ialah perselisihan pribadi tidak sanggup diselesaikan oleh para pemimpin itu sendiri, sehingga ia menjalar keluar, ke segala penjuru dan wilayah gerakan, organisasi dan basis. Maka tetapkanlah tertulis: batas kewenangan setiap organ, masa jabatan yang terbatas, mekanisme pergantian pemimpin yang damai, dan forum khusus penyelesaian perselisihan antar-pemimpin — supaya kecemburuan pribadi tidak lagi punya pintu masuk ke dalam organisasi. Empat aspek ini harus menjadi perhatian dan dirawat secara konsisten oleh setiap pejuang yang ada dalam organisasi perjuangan kemerdekaan West Papua.
Pada saat terjadi perselisihan antara ULMWP organisasi dan pemerintahan bentukannya (Pemerintah Sementara ULMWP), maka secara konstitusional tidak mengalami konflik apa-apa, akan tetapi konflik terjadi pada lapisan pimpinan, karena ego para pemimpin saling berbenturan dan tidak dapat dikonsolidasikan secara rasional antara apa tugas pokok organisasi ULMWP dan apa tugas pokok Pemerintah Sementara ULMWP. Para pemimpin harus berani duduk bersama dan saling berbagi tugas dan tanggungjawab sesuai AD/ART (Bylaws) ULMWP dan sesuai UUD ULMWP yang membentuk Pemerintah Sementara ULMWP.
Ketiga, saling mendukung. Sebagai buah dari pengakuan dan saling membatasi itu, maka adalah sebuah keharusan bagi organisasi yang terlibat dalam perjuangan Papua Merdeka untuk berbagi tugas, peran dan fungsi secara jelas: siapa yang menangani urusan politik dan diplomasi, siapa yang mengalakkan kerja-kerja advokasi sosial, budaya, lingkundan dan hak asasi anusia, dan siapa mengurus rakyat di tanah sendiri. Yang satu tidak menjatuhkan yang lain, yang satu tidak meremehkan yang lain. Yang satu tidak mencurigai yang lain sebagai kaki-tangan NKRI atau antek asing.
Saling mengakui tanpa saling mendukung sama dengan janji kosong tanpa bukti. Pengakuan harus melengkapi saling pengakuan, sebagai tindakan afirmatif untuk membuktikan pengakuan. Saling pengakuan tanpa saling mendukung sama saja dengan suatu kelahiran tanpa kejelasan jenis kelamin.
4. Penutup Surat: Jalan Keluar
Apa yang kita saksikan bersama baru-baru ini di sela-sela pertemuan Pacific Islands Forum di Koror, Republik Palau, kedua pemimpin Tuan Oktovianus Mote and Benny Wenda duduk berdampingan di satu studio televisi, diwawancarai bersama di hadapan bangsa-bangsa Pasifik sebagai sesama pejuang. Itulah model pemimpin yang harus kita dukung: melupakan perbedaan pribadi secepatnya dan bersatu untuk kebersamaan dalam mencapai tujuan perjuangan. Apa yang terjadi saat ini adalah buah dari gebrakan Tuan Joe Natuman, Utusan Khusus Dekolonisasi negara Republik Vanuatu, yang mempersatukan keduanya di hadapan pemerintah Vanuatu yang vokal mendukung Papua Merdeka, di hadapan para kepala suku, di hadapan Direktur Jenderal Melanesian Spearhead Group, dan di hadapan dunia. Buktinya tertulis di liputan Vanuatu Daily Post awal September 2026: mereka bersama-sama menyerukan persatuan. Maka ajakan saya kepada seluruh pemimpin hanya satu: ulangi itu, secara permanen, dengan tiga langkah:
Para pemimpin yang saya hormati: rakyat tidak lagi bertanya siapa yang benar. Rakyat sudah melihat kebenaran ini diperjuangkan selama 65 tahun namun kapalnya tetap di tempat, karena para awaknya berkelahi di dalamnya. Anak yang terbentuk 1 Desember 1961 sudah 65 tahun dan lahir 1 July 1971 telah berusia 55 tahun dibiarkan telanjang — bukan oleh musuh, melainkan oleh para awaknya sendiri.
Ego harus mati, pembunuhnya ialah kita orang Papua sendiri, para pemimpin sendiri harus menjadi pembunuh egonya sendiri. “Perjuangan West Papua untuk merdeka” harus hidup sebagai hasil dari kematian egoisme. Pemimpin boleh berakhir, perjuangan akan terus berjalan, sampai mencapai titik terakhir: NKRI keluar dari tanah Papua. Tergantung pemimpin siapa yang betul-betul bertekad mencapai garis terakhir, pertama-tama dengan mematikan egonya, kedua dengan bersedia bekerjasama, dengan mengembangkan kemampuan untuk saling mempercayai, saling mengakui dan saling mendukung.
Pemimpin yang tidak berani, atau gagal, atau bahkan dikalahkan oleh egonya sendiri tidak akan pernah sanggup mengalahkan NKRI, karena musuh terbesar bagi seorang pemimpin dan bahkan seorang manusia yang hidup ialah dirinya sendiri, egonya sendiri. Tanpa seorang pemimpin mengalahkan egonya, maka pasti tidak punya modal dasar yang kuat untuk berpandangan dan berjuang mengalahkan NKRI. Balok yang besar di mata sendiri haruslah dikeluarkan dahulu sebelum membereskan kotoran di mata orang lain.
Untuk rakyat Papua harus fokus kepada tujuan dan cara perjuangan bangsa Papua menuju kemerdekaan, tidak termakan oleh ego pribadi para pemimpin dan kemudian tergiring melayani ego mereka, melupakan siapa sebenarnya musuh, dan siapa sebenarnya kawan. Cukup lama bangsa ini berjuang, cukup lama pula bangsa ini gagal belajar dari pengalaman pahitnya sendiri. Semoga catatan kecil ini membantu kita berbenah dan meraih cita-cita kemerdekaan yang telah memakan banyak korban nyawa, waktu, dana dan tenaga ini, hanya gara-gara melayani ego para pemimpin.
Atas nama moyang bangsa Papua, atas nama segenap komunitas makhluk, atas nama tulang-belulang dan atas nama anak-cucu yang akan datang.
Hormat saya,
Yikwanak Kole









Recent Comments