Gen. Tabi Congratulates Chad’s Interim President: Mahamat Idriss Deby

From the Central Defense Headquarters of West Papua Revolutionary Army (WPRA), Gen. Amunggut Tabi expresses

CONGRATULATIONS

to Interim President of Chad

Mahamat Idriss Deby

for your appointment as the Interim President of Chad.

We, from the Western Half of the Isle of New Guinea, from the Nation-State in Waiting: West Papua, send you all best wishes and congratulations.

May your leadership bring about changes for better future of your country and for all Afrikans.

Salute,

Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN:

West Papua Army Memperingati 1 Desember 2020

Di Markas Pusat Pertahanan (MPP), West Papua Revolutionary Army (WPRA), telah diperingati HUT Manifesto Politik Bangsa Papua, yang adalah tonggak sejarah kebangkitan bangsa Papua, yang disaksikan dan diakui oleh negara kolonial Belanda dan Australia.

Peringati 59 tahun manifesto Politik (1 Desember 1961 – 1 Desember 2020) disertai pengumuman Pemerintahan Sementara (United Liberation Movement for West Papua), menyusul pengesahan UUDS NRWP pada Oktober 2020, maka WPRA mengadakan upacara pengibaran bendera Sang Bintang Kejora pada hari Selasa (1 Desember 2020) di MPP WPRA

Sebagai pemegang Komando West Papua Army, Mathias Wenda, Chief Gen. WPRA memberikan sambutan kepada seluruh pasukan dan kepada para pemimpin ULMWP di seluruh dunia.

.Papua Merdeka! Papua Merdeka! Papua Merdeka! #ULMWP#WestPapuaArmy#WestPapua#Republic_of_WestPapua#FreeWestPapua#Referendum#ReferendumWestPapua

Rakyat Papua di Lapago Tolak Otsus Jilid II dan Tuntut Referendum

West Papua Government

Foto bersama usai menghadiri Rapat Dengar Pendapat (RDP) di Wilayah Lapago, Selasa (17/11/2020) di halaman kantor Dewan Adat Papua Balim. (Onoy Lokobal – SP)

WAMENA, SUARAPAPUA.com — Seluruh elemen masyarakat asli Papua yang berdomisili di wilayah adat Lapago dengan tegas menolak Otsus Jilid II dan menuntut referendum untuk menentukan nasip sendiri bagi bangsa Papua.

Hal itu mengemuka dalam rapat dengar pendapat (RDP) untuk wilayah Lapago yang dilaksanakan di halaman kantor Dewan Adat Balim, Selasa (17/11/2020) kemarin, dihadiri perwakilan seluruh elemen masyarakat yang ada di wilayah adat Lapago.

“Berdasarkan hasil RDP yang diadakan di wilayah Lapago, seluruh elemen masyarakat dengan tegas menolak Otsus Jilid II dan minta referendum bagi bangsa Papua,” ujar Dominikus Surabut, ketua Dewan Adat Papua (DAP), usai memimpin kegiatan RDP.

“Semua sudah nyatakan sikap tegas, tolak Otsus jilid II dan minta referendum,” ujarnya lagi kepada wartawan di Wamena.

Suksesnya kegiatan ini, kata Surabut, berdasarkan mandat dari MRP untuk…

View original post 524 more words

ULMWP Tetapkan Konstitusi Sementara West Papua

West Papua Government

dailypost.vu, 27 Oktober 2020 [Adorina Massing]

United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) telah meningkatkan Anggaran Rumah Tangga ke status Konstitusional Sementara, menuju jalan untuk mencapai referendum dan kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.

Ketua ULMWP Mr.Benny Wenda telah menulis pernyataan yang melaporkan keputusan yang dibuat dari sidang tahunan ketiga Kongres Dewan Legislatif pada 14-17 Oktober di Papua Barat, dan keputusan Dewan Legislatif untuk menetapkan Konstitusi Sementara yang mengikat untuk Papua Barat.

“UUD Sementara memastikan bahwa ULMWP diatur oleh aturan dan norma demokrasi, hak asasi manusia, dan penentuan nasib sendiri. Setiap unsur UUD Sementara ini demokratis, ”tulisnya.

“Setiap elemen dirancang untuk melindungi budaya, identitas, dan cara hidup kami.

“Ini menunjukkan jalan menuju impian kami untuk menciptakan Negara Hijau pertama di dunia, di mana setiap agama dan makhluk hidup dilindungi oleh hukum.

“Kami telah belajar dari dunia tentang perlunya melindungi dan membangun pendidikan, perawatan kesehatan dan energi terbarukan, untuk membela hak-hak migran Indonesia…

View original post 181 more words

Mengempuni dan Mendoakan Orang Indonesia Adalah Perintah Allah untuk Orang Kristen

Pada saat Angkatan Bersenjata Papua Merdeka atau West Papua Army berbicara tentang “pengampunan” dan doa untuk pengampunan bagi orang-orang yang membenci dan merencanakan serta melakukan kejajahtan terhadap bangsa Papua, maka tentu saja bisa menimbulkan penafsiran bahwa kita mengampuni Indonesia atas semua hal yang dia lakukan selama ini di Tanah Papua, atas diri dan nyawa bangsa Papua.

BUKAN BEGITU!

Amunggut Tabi, Gen. WPRA mengatakan,

Ini adalah strategi peperangan Rohani, karna kita tidak hanya berperang secara jasmani, tetapi terutama kita berperang secara rohani, untuk memenangkan hati Allah, karena Tuhan hanya berpihak kepada KEBENARAN, dan yang dimaksud “KEBENARAN” di sini ialah KEBENARAN DIA sendiri, bukan kebenaran saya, apalagi kebenadan Anda.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” *Yohanes 4:16a”, di sini Alkitab TIDAK mengatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan orang Kristen”. Apalagi Alkitab tidak mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan orang Papua”. Sama sekali tidak!

Allah mengasihi semua orang, orang Papua, Indonesia, orang Kristen, orang Islam, orang Ibrani, orang Yunani, orang hitam-putih, orang timur-barat orang utara-selatan, orang Melayu, orang Melanesia. Semuanya

Pada saat kita berdoa, mengeluh tentang penjajahan Indonesia atas tanah Papua, mengeluh dan mengundang Allah untuk turun tangan membantu dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan berbagai hal lain, kita harus tahu bahwa pertama-tama kita harus berbicara atas dasar kasih.

Kasih harus menjadi alasan, dasar, titik-tolak, dan sebab daripada doa kita. Bukan kebencian. Bukan denndam. Bukan kepahitan. Bukan….., bukan….

Kasih…. Kasih…. dan Kasih…. harus menjadi dasar.

Kasih kita harus kita buktikan dengan pertama-tama mengampuni. Setelah kita mengampuni, maka kedua kita doakan. Setelah kita doakan maka terakhir kita lupakan.

Setelah itu baru kita datang kepada Allah, menyampaikan petisi kita kepada-Nya, dengan tulus, dengan terus-terang, dengan berani, dan menuntut Tuhan berperkara.

Matius 5:24 TB

tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.TB: Alkitab Terjemahan Baru

https://www.bible.com/id/bible/306/MAT.5.24.TB

Amunggut Tabi, Gen. WPA: 1 Desember Hari Kebangkitan Nasional Papua 01

Dr. Jack Wanggai menulis di status halaman Facebook sebagai berikut

REMEMBER!History that we must straighten for the nation’s generation today.December 1st is NOT Independence day for Melanesian Papuans

Artinya: Ingat! Sejarah harus diluruskan untuk generasi bangsa hari ini. Tanggal 1 Desember BUKAN hari kemerdekaan untuk orang Melanesia Papua.

Amunggut Tabi, General WPA ketika ditanya di MPP TRWP mengatakan bahwa selama ini telah terjadi kekeliruan fatal di antara bangsa Papua, yang disebabkan pertama-tama oleh kolonial Indonesia, dan kedua karena orang Papua sendiri tidak sekolah baik, maka mudah dimanipulasi.

Karena dua alasan ini, maka bangsa Papua telah diajarkan bahwa 1 Desember 1961 adalah Hari Proklamasi Kemerdekaan Papua. Dalam hal ini secara konseptual dua kesalahan. Atau bisa dikatakan juga dua kebodohan.

Kesalahan atau kebodohan pertama, karena kita menyebut hari proklamasi tetapi tanpa Teks Proklamasi adalah sebuah kesalahan fatal atau kebodohan yang patut kita tertawai diri sendiri. Jadi, dengan demikian, kita bisa menertawakan diri sendiri dengan mudah bahwa kita sudah salah menganggap suatu hari tanpa teks proklamasi kita pandang sebagai HUT kemerdekaan

Kesalahan atau kebodohan kedua karena wacana 1 Desember HUT Proklamasi ini dikeluarkan oleh NKRI sendiri, bukan oleh para pejuang Papua Merdeka. Ini murni gagasan NKRI yang dikeluarkan lewat FOREGI – PDP, yaitu dua organisasi bentukan NKRI sendiri.

Bangsa Papua memang dasar tidak tahu diri secara jelas. Mudah ditipu, muda tertipu dan juga mudah percaya. Dibilang iblis itu baik, orang Papua bisa percaya. Dibilang “kata revolusi itu komunis punya”, orang Papua juga percaya. Dibilang “Papua harus baku-bunuh baru merdeka”, orang Papua juga masih saja percaya.

Jadi, singkatnya, menurut Dr. Benny Giay, bangsa Papua memang memenuhi syarat untuk dijajah.

Doa Undangan Terbuka untuk Octovianus Motte, Jeffry Pagawak, Victor Yeimo dan Sebby Sambom

Dalam doa bersama di Markas Pusat Pertahanan Tentara West Papua di Yako, Vanimo, Papua New Guinea, di antara para perwira Tentara Revolusi West Papua Gen. WPA Amunggut Tabi menyampaikan doa kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus sebagai berikut.

Di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, Aku sebagai hamba-Mu, General WPRA Amunggut Tabi datang menghadap, Lapor, Ya Yesus Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa.

Lapor, saya mengundang Engkau, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu dalam perjuangan Papua Merdeka, sehingga apa yang terjadi dalam perjuangan ini bukan kehendak manusia, bukan kehendak oknum, bukan kehendak pribadi, tetapi adalah kehendak Tritinggal Allah, kehendak bersama dan kehendak untuk merdeka dan bebas bagi bangsa Papua, wilayah West Papua.

Lapor, di dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, izinkan saya mengundang lewat doa ini, kepada

  1. Tuan mantan Ketua ULMWP, Dr. Octovianus Motte, di Amerika Serikat
  2. Tuan Victor Yeimo, mantan Ketua KNPB, di Tanah Papua
  3. Tuan Jeffry Pagawak, di Tanah Papua
  4. Tuan Sebby Sambom di Tanah Papua.

agar mereka datang bergabung dengan orang tua mereka, Mathias Wenda, Chief Gen. WPRA, dan bergabung ke dalam ULMWP untuk membawa perjuangan bangsa Papua memasuki tahapan-tahapan penyelesaian pendirian negara, sebelum berhadapan dengan NKRI.

Saya tahu bahwa NKRI menginginkan UUDS NRWP ini tidak disahkan pada tahun ini sebelum UU Otsus disahkan untuk memperpanjang pendudukan NKRI atas tanah Papua.

Saya tahu bahwa ada organisasi dan oknum di dalam ULMWP mendukung program NKRI secara terang-terangan. Saya sudah tahu nama mereka, dan saya juga telah tahu di mana mereka bertemu dan mereka membicarakan apa saja dengan NKRI. Akah tetapi itu tidak penitng. yang terpenting ialah bahwa kami semua satu bangsa, satu tujuan: One People – One Soul. Dan atas dasar itu Engkau tahu, saya mengasihi mereka dengan sungguh-sungguh dari dalam hati saya.

Ya, Yesus, Engkau sebagai Raja Damai yang akan datang memerintah segenap alam semesta sepanjang masa, yang sedang kami persiapkan di dalam Negara Republik West Papua untuk kedatangan-Mu.

Ya Yesus, Engkau tahu, bahwa Negara Republik West Papua ialah Negara yang didirikan dengan cita-cita untuk menghadirkan kerajaan Allah di Bumi, seperti di surga, bukan untuk keadilan dan kemakmuran materialis duniawi, bukan untuk kemerdekaan dan kebebasan jasmaniah yang fana, bukan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang bersifat sangat duniawi. Engkau telah lihat dasar pemikiran dan rancangan Undang-Undang yang secara langsung mengundang keterlibatan-Mu secara legal-formal negara dalam perjuangan ini.

Iblis masih ada, dia bekerja menebar kecurigaan, menebar ke-akuan yang mematikan, dan menebarkan rasa takut, rasa saling mencurigai, rasa saling membenci dan rasa saling mendendam, yang tidak sehat dan tidak beradab.

Dalam Darah Yesus saya patahkan dan saya hancurkan segala kuasa kegelapan.

Sampaikanlah undanganku yang sangat pribadi ini kepada saudara-saudara-ku sebangsa, seiman, sependiritaan dan senasib.

Tuhan, lihat hatiku! Lihat pikiranku! Sampaikanlah hati ini, perasaan ini, cinta-kasih ini, kasih Allah yang ada di dalam hati kami kepada saudara-saudara-ku di mana-pun mereka berada.

Hadirlah dan nyatakan kehendak-Mu. Tunjukkan kuasa-Mu.

Engkah telah datang ke dalam dunia ini dan mati lalu bangkit mengalahkan iblis, yang memisahkan kami dari Allah, yang memisahkan kami suku-suku di Tanah Papua, mendamaikan kami dengan Allah dan mendamaikan kami di antara suku-suku di Tanah Papua.

Kepentingan kami, kehendak kami, pemikiran kami, kedudukan kami, perjuangan kami semuanya hanya sementara untuk di dunia ini selama kami hidup di dunia ini.

Kami berdoa demi kepentingan hidup kekal. Kami minta karena kewajiban kami sebagai orang Kristen, bukan karena kewajiban di dalam posisi kami secara politik ataupun militer. Itu sama sekali sementara. Yang kekal ialah kebenaran bahwa kami hanyalah manusia, yang telah dilahirkan, dan sekarang hidup dan kemudian akan mati, dan roh kami akan hidup di alam baka Bukan sebagai orang Yali, bukan sebagai orang Walak, bukan sebagai orang Mee, bukan sebagai orang Lani, bukan sebagai orang Papua, bukan sebagai orang Indonesia, tetapi sebagai anak-anak Allah, satu babptisan, satu kasih, satu pengharapn.

Dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus hamba-Mu berdoa. Kiranya kabulkan-lah doa kami ini. Berbisik dan berteriaklah ke dalam hati dan pikiran semua bangsa Papua, secara khusus saucara-saudara sebangsa, setanah air, seperjuangan dan senasib yang kaimi sebutkan secara khusus dalam doa ini.

Dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus! Amin!

Penjajah, Peneror dan Pembunuh OAP HANYA 1: Indonesia atas nama NKRI

Dari Markas Pusat Pertahanan West Papua Army (WPA)

Ancaman terhadap para petinggi politik ULMWP dan petinggi militer khususnya dari TRWP pernah dikeluarkan oleh oknum yang tidak diketahui sumbernya, akan tetapi diperkirakan ada orang-orang di dalam ULMWP sendiri yang bermain di air keruh, ada juga orang-orang dari luar ULMWP.

Tujuannya untuk mengaburkan perjuangan dan menekan para pimpinan ULMWP agar tidak mengambil langkah-langkah berani, tegas dan cepat dalam rangka menyelamatkan nasib bangsa Papua dari penjajahan NKRI.

Menurut pengamatan kami, kalau sebuah tuduhan menyebutkan nama-nama pribadi orang Papua, maka yang membuat teror itu jelas-jelas orang Indonesia. Karena satu-satunya pembunuh orang Papua, peneror dan yang mengancam orang Papua selama ini HANYA NKRI dan antek-anteknya.

Perbedaan sangat biasa, apapun dan di manapun ada perbedaan. Perbedaan bukan untuk dijadikan sebagai dasar untuk saling mengancam, memusuhi, apalagi meneror untuk dibunuh.

Sekali lagi, PEMBUNUH BANGSA PAPUA ialah NKRI, dan orang Indonesia, dan oleh karena itu atas nama apapun, dengan alasan apapun, siapa saja-pun, kalau ia berbicara dan bertindak menghabisi nyawa manusia Papua, berarti DIA ITU ADALAH NKRI, atau dia itu antek-antek dan kaki-tangan penjajah yang menyamar seolah-olah berbicara untuk Papua Merdeka.

Oleh karena itu ada tiga hal yang harus kita lakukan sebagai sebuah bangsa beradab dan sebuah masyarakat yang baru saja memiliki Undang-Undang Dasar Negara, yaitu

  1. Mari kita berdoa dengan sungguh-sunggu kepada Tuhan pencipta dan sumber separatisme sedunia, agar Tuhan mengampuni semua salah dan dosa yang dilakukan NKRI dan orang Indonesia terhadap orang Papua ras Melanesia. Kami sebagai umat beragama yang telah menyelesaikan perjuangan ini tidak berhak menahan pemberian maaf dan pengampunan kami terhadap sesama manusia, yang tidak tahu apa yang mereka perbuat.
  2. Mari kita melupakan masa lalu dan memandang ke masa depan, dan mendoakan semua orang Papua, di manapun kita berada. Hentikan mengeluarkan emosi negatif apapun, dengan alasan apapun, kepada sesama orang Papua, karena dampak daripada emosi dan energi negatif justru merugikan bangsa Papua. Tuhan Yesus mengampuni dosa kita dan karena itu Allah telah melupakan dosa kita, dan kita telah didamaikan dengan Allah, hanya karena kasih.
  3. Perbesar dan kembang-biakkan ‘cinta-kasih” dan mari kita bagikan kepada semua orang, di manapun mereka berada, apapun bangsanya, apapun negaranya, terutama sesama orang Papua dan kepada orang Indonesia.

Mata kita tertuju kepada tujuan, hati kita tertuju kepada harapan hidup kekal di saat Hakim Mahaagung datang menghakimi dan Raja di atas segala raja memerintah semesta alam sepanjang masa.

Dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, hamba-Mu berdoa kepada Allah Bapa di sorga. Nama saya AmungguT Tabi, General WPRA, datang kepada-Mu sebagai Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa, untuk mengajar saya dan semua saudara sebangsa dan setanah air saya, untuk mengikuri Rumus Enam Balok kartu politik Papua Merdeka, yaitu Rumus Kasih.

Aku tahu persis, bahwa adalah kasih yang telah mengalahkan Ibilis. Karena kasih Engkau bertahan menderita sebagai manusia, disalibkan, mati dan dikuburkan. Dan karena kasih pula Engkau memberikan Roh Kudus untuk menjadi kekuatan untuk mengalahkan roh-roh kegelapan duniawi yang selalu meneror dan menakut-nakuti hati dan nurani.

Aku tahu persis, ya, Yesus bahwa adalah kasih yang memelihara kami bangsa Papua sampai hari ini

Adalah kasih yang memungkinan sebuah Undang-Undang Dasar sebuah negara bernama Republik West Papua telah disahkan baru-baru ini.

Adakah karena kasih yang mendasari penghakiman terakhir, yang akan memberikan hadiah kepada hamba-Mu ini sesuai perbuatanku di dunia ini, dan akan menghukum bagi orang-orang berdosa, penumpah darah, pencuri, perampok, peneror, pembunuh dan pendosa-pendosa lainnya.

Adalah kasih yang harus saya gunakan untuk menyelesaikan perjuangan ini Ya Tuhan, saya tahu persis, BUKAN DENDAM, BUKAN BENCI, BUKAN NASIONALISME MEMBABI-BUTA, bukan saling menyiku dan meneror, bukan saling membunuh, tetapi dengan kasih,

Di dalam nama Yesus saya tolak kuasa kegelapan yang menghantui pemikiran dan perasaan orang Papua.

Di dalam nama Yesus saya tolak roh egosime pribadi dan egoisme kelompok yang membelenggu bangsa ku.

Di dalam nama Yesus saya tolak roh pecah-belah dan saling menceritakan, yang telah lama berakar-urat di tengah-tengah bangsa Papua.

Di dalam nama Yesus, saya tolah roh ketakutan karena teror dan intimidasi, yang ditebarkan ibilis dan pengikut-pengikutnya.

Di dalam nama Yesus, saya kleim kemenangan di dalam Yesus Kristus atas dasar KASIH ALLAH

Di dalam nama yesus saya kleim kesatuan dan persatuan bangsa Papua sebagai satu nenek-moyang, satu bangsa, satu nasib, dan satu cita-cita serta satu pengharapan di dalam Yesus Kristus.

Di dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus,

Di hadapan segenap komunitas makhluk, benda alam, bentang alam, roh, tubuhan, hewan, arwah para pahlawan yang telah gugur di medan perjuangan bangsa Papua, dan arwah anak-cucu yang akan lahir.

Amin! Amin! Amin.

Call for Jihadis to go to West Papua following unrest

Johnny Blades, RNZ Pacific Journalistjohnny.blades@rnz.co.nz

Indonesia's Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in West Papua Photo: Supplied
Indonesia’s Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in West Papua Photo: Supplied

Jihadis are being encouraged to go and fight in West Papua by Indonesian Muslim hardliners.

Front Jihad Islam, or FJI, issued a call to arms in the Indonesia-ruled Papuan provinces after non-Papuan settlers were among the victims of recent violence there.

Unrest has surged in Papua region since August, including a day of rioting and violence in the Highlands city of Wamena two weeks ago when about 30 people were killed.

The unrest came off the back of widespread public demonstrations by West Papuans protesting against racism and calling for a referendum on independence from Indonesia.

According to Indonesia’s government, more than 11,500 people have been evacuated from Wamena since then due to safety fears. That many of these people are settlers from other parts of Indonesia has caused concern and prompted action back in Java.

FJI has been busy spreading its message online, replete with videoed torching of the Papuan Morning Star Flag and banners calling for Jihadis to be recruited for fighting in Papua against Papuans.

That’s a concern to Saiful Islam Payage, the head of Papua’s chapter of the Ulema Council, Indonesia’s top Muslim clerical body.

“I am very worried. So, I strongly forbid the Laskar who are in the name of religion for war or jihad in Papua,” he said.

He said that for now, there were only demonstrations in Java, and that no mobilisation of jihadis had yet occurred in the Papuan provinces. But he warned that if hardliners sought to bring their brand of divisiveness to Papua, he would have them expelled.

Indonesia's Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in Papua Photo: Supplied
Indonesia’s Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in Papua Photo: Supplied

Indonesian human rights researcher Andreas Harsono said that following recent violence in Wamena, a number of Islamic groups mobilised in Javanese cities.

Those organisations had been making two types of public calls – one, from a Muslim NGO network, was urging people to donate to humanitarian assistance for victims of the unrest in Wamena and other parts of Papua.

The other, from the likes of the FJI and the Islamic Defenders Front, was a call to recruit jihadis to go to Papua and protect fellow Muslims.

According to Mr Harsono, his concern stems from the way that most Indonesians have limited knowledge of the situation in Papua and the context of widespread human rights abuses there.

“Most victims are indigenous Papuans. Many Indonesians do not know the problems there,” he said.

“But because of emotions, because of sentiment, Muslim sentiment, they might think that fellow Muslims are being victimised in Papua. Thus, they will provide the ingredients to support these kind of misleading calls.”

While noting his concern, the researcher also said that he didn’t deem the threat as major currently because as yet no cleric of significant influence had called for jihadis in Papua.

Furthermore, Mr Harsono said that Indonesian military and police personnel were on hand to provide security in Wamena and other towns in a region where the population was predominantly Christian.

While Papua has generally enjoyed harmonious inter-religious relations, Mr Harsono said groups aggressively promoting sharia law already had a foothold in the region.

“We have one in Sorong; we are also seeing Laskar Jihad, a militant Muslim group, setting up a base in Keerom; also in Wamena – not militant, but quite aggressive.

“So these kinds of organisations are starting to appear in many parts of both Papua and West Papua provinces over the last decade.”

The presence of hardline Islamic campaigners in Keerom regency, which sits right on the border with Papua New Guinea, is not the only security concern along the 141st meridian east.

Land and sea access points between the two countries were closed last weekafter two people died in a shootout near the border on the Indonesian side where there’s been a troop build-up.

The governor of PNG’s West Sepik province, Tony Wouwou, said fellow Melanesians on the other side looked to flee across the border to safety in PNG.

But he said having Indonesian military in pursuit of them brought risk for his people.

“I’m a bit scared. I’m worried if my people go across and you never know what could happen. They might get bullet wounds or something because the Indonesians might think we’re Wamenas [people from Wamena] and all this, and receive a wound, and maybe our people will retaliate or something. I don’t want that to happen.”

He said the border entry point to Indonesia should remain closed until security threats abate.

Source: RNZ

Thousands of West Papuan students return home over safety fears

Over 2000 West Papuan university students have returned home from Indonesian cities since last month over safety fears.

Protesters march in Jayapura. Photo: Whens Tebay

Racist harassment of Papuan students in university dormitories in Javanese cities last month sparked weeks of widespread protests and unrest in Papua.

While Indonesian police have started investigations into the harassment, many students claim they continue to face threats and feel unsafe.

As of Monday, 2047 students had been recorded by Papua’s provincial government as having left their studies to return to their home region since August.

The majority of the students are from Highlands regencies in Papua.

Last month, in response to the harassment, Papua’s Governor Lukas Enembe offered support to students who wished to return home from Java.

Source: RNZ

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: