The New President of Chad: Mahamat Idriss Deby

Following the death of President Idriss Deby of Chad in the Battle Field the Military has announcement his 37 year old Son as the Interim President of ChadūüáĻūüá© making him the youngest President in Africa.

Mahamat Idriss Deby will succeed the late President Idriss as the President of Chad.

Untill his new appointment, he was Leader of the Military Council in the Army.

Former President Idriss Deby had just won his sixth term of office which was announced on Monday but instead of Celebrating his victory he decided to join the army at the battle front after the rebels started making an assault towards the Capital Nd’jamena.

The military said Deby had taken “the heroic lead in combat operations against terrorists who had come from Libya.” After being wounded in battle, he then was taken to the capital, the general announced

Chad has been battling foreign backed rebel uprising for sometime now and now the battle is getting fierce. He died as a result of injuries sustained at the battle front.

Biography of Mahmud Déby Itno:

Mahmud Déby Itno first enrolled at the Joint Grouping of military schools in Chad. He subsequently received training in France, at the military school of Aix-en-Provence. Upon his return he was enrolled in second promotion of semi direct of the school of officer inter arme and latter was appointed to the service branch for the Security of State Institutions (SERS), as a deputy commander of the groupement of infenterie.

His first combat experience took place in April 2006 when rebel attacked the capital city of Chad and later participated in a combat in eastern Chad along with General Abu Bakr al Said, then director of gendarmery, Mahmud was given the rank of major afterward he led forces when he took part in the command of Chadian forces during the Battle of Al Dam, where his army defeated the rebels in an unprecedented victory.

Following his victory, he was appointed command of the armored squadrons and bodyguards of the SERS.

In January 2013, he was appointed second in command of the Chadian special forces in Mali under general Oumar Bikimo. On 22 February, he led his army against rebels in the Adrar el- Ifoghas mountains in Northern Mali leading to the Battle of el-Ifoghas.

They eliminated a rebel base said to be of “significant importance”, inflicting heavy losses upon the rebels but also losing twenty-six men in the process, including Abdel Aziz Hassane Adam, a commander of special forces.

Mahamat took full command of the FATIM and has since been leading operations against rebels in the North

Source: FB

Gen. Tabi: West Papua Mourns and Salute the Example of President Marshal Idriss D√©by

The West Papua Revolutionary Army WPRA though, Gen. Amunggut Tabi here extends

OUR DEEPEST CONDOLENCES

to the people of Chad and the family of the Late

Ghadian Presiden H.E Marshal Idriss Déby Itno

The WPRA mourns the Hero the Heroic death of Chadian President Marshal Idriss Déby. We extend our sincere condolences to the nation of #Chad, the family and the loved ones of the late President Marshal Idriss Déby Itno, the President of Chad.

Rest in Power Commander-in-Chief who died in Battle on this day 20th April 2021. On behalf of the Commnader-in-Chief of West Papua Army (WPA) Chief General Mathias Wenda and the People of West Papua, General Tabi urges the Provisional Government of West Papua to follow the example of the late Chad President.

Issued at: Central Defence Headquarters
on date: 21 April 2021

Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

Dag Hammarskj√∂ld, Sekjen PBB yang ingin Papua jadi bangsa merdeka (1)

Pria itu berbicara pada forum terhormat di jantung Amerika yang sibuk, New York, 8 Maret 1960. Panjang lebar dia urai, bagaimana negara-negara yang baru merdeka akan memperoleh manfaat dari dana khusus PBB yang dirancangnya. Forum itu bernama mentereng; Economic Club. Ini organisasi nonpartisan yang suka membahas isu sosial ekonomi dan politik.

Dia itu punya nama rumit dieja; Dag Hjalmar Agne Carl Hammarskj√∂ld.

Pada tahun itu, dia sudah jadi Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB); Ia telah merancang suatu proyek yang dinamakan OPEX; menempatkan pejabat PBB di negara-negara yang baru merdeka, selama jangka waktu maksimal 6 tahun.

Hammarskjöld sudah menerapkan program itu di Afrika. Pada 1961, ia berencana memasukkan Papua sebagai salah satu negara-negara yang dimaksud sebagai bangsa Papua. Sebuah program yang sangat berani pada masa perang dingin.

Dikutip dari laman resmi PBB (un.org) Hammarskj√∂ld lahir Jonkoping di Swedia, 29 Juli 1905. Ayahnya, Hjalmar Hammarskj√∂ld, adalah Perdana Menteri Swedia selama Perang Dunia I. Pada 1925, ia menyelesaikan studi Linguistik, Sastra dan Sejarah di Universitas Uppsala, Swedia. Ia melanjutkan studinya di universitas hingga menggondol gelar Bachelor of Laws pada 1930.

Tiga tahun berikutnya, 1933, ia meraih gelar doktor dari Universitas Stockholm, dimana ia mengajar dan jadi Asisten Profesor Ekonomi Politik.

Sejak mula, Hammarskj√∂ld menyatakan dirinya sebagai sosok independen. Dia tidak pernah bergabung dengan partai politik mana pun. Dia mengabdi kepada Pemerintah Swedia. Kurun 1941-1948, ia menjabat Ketua Dewan Bank Nasional. Pada 20 Desember 1954, ia jadi anggota Akademi Swedia ‚Äď badan yang memberikan Hadiah Nobel Sastra, dimana ayahnya juga pernah menjadi anggotanya.

Hammarskjöld lantas ditunjuk sebagai Sekjen PBB oleh Majelis Umum pada 7 April 1953, atas rekomendasi Dewan Keamanan. Dia mendapat suara bulat,karena dianggap paling independen. Dia bahkan terpilih lagi pada jabatan yang sama pada September 1957.

Lewat program OPEX, Hammarskjöld bermaksud menyudahi sengketa Papua secara damai. Orang Papua akan diberi kemerdekaan dengan menyisihkan kepentingan Belanda dan Indonesia, yang bertikai memperebut besar pulau terbesar kedua di dunia setelah Greenland itu.

Saat itu, masih ada 88 wilayah di bawah pemerintahan kolonial yang menunggu jadi negara merdeka. Hammarskjöld telah berhasil membawa separuh dari negara-negara itu menuju kemerdekaan.

Baca juga:Herman Wayoi, Wakil Ketua DPR GR Irian Barat, pimpin demo Pepera 1969

Kamerun misalnya, dengan luas lahan yang sama dengan Papua, dulunya berada di bawah pemerintahan Perancis dan Inggris. Pada Maret 1961 rakyat Kamerun melakukan voting di bawah naungan PBB. Mereka yang berasal dari Kamerun Utara memutuskan untuk memperoleh kemerdekaan, bergabung dengan Republik Kamerun.

‚ÄúIa akan mengubah PBB menjadi kekuatan dunia yang penting dan menciptakan sebuah bangsa besar untuk menjadi penyeimbang bagi mereka yang terlibat perang dingin,‚ÄĚ tulis Greg Poulgrain, Indonesianis dari Universitas Sunshine Coast, Brisbane, Australia pada bukunya yang bikin heboh, ‚Äúbayang-bayang intervensi; perang siasat John F.Kennedy dan Allen Dulles atas Sukarno‚ÄĚ (2018).

Dalam kasus Papua, Hammarskjöld hendak menyatakan tuntutan atas kedaulatan Papua, baik yang diklaim oleh Belanda dan Indonesia adalah tidak sah. Ia mengusulkan untuk membantu rakyat Papua lewat peran PBB.

Hammarskj√∂ld membuat solusi bagi rakyat Papua agar mampu bertahan dari tekanan perang dingin.  Sikap Hammarskj√∂ld itu, tentu tidak disenangi blok barat dan timur. Tapi sesuai wataknya, ia tak pernah gentar. Tapi niat   baiknya untuk Papua itu dibikin kandas pada Minggu dinihari, 17 November 1961. Pesawat PBB yang membawanya bersama 15 orang lainnya, jatuh ketika hendak mendekati landasan Ndola di Rhodesia (Zambia). Seluruh penumpang dinyatakan tewas. Murni kecelakaan atau konspirasi pembunuhan? (bersambung).

Editor: Angela Flassy

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: