Amunggut Tabi: WPA Sudah Lama Siap Mengamankan Kebijakan Pemerintah Sementara ULMWP

Dari Markas Pusat Pertahanan (MPP) West Papua Army (WPA) melalui Sekretaris-Jenderal Amunggut Tabi, Gen. WPA menyatakan menyambut dengan gembira dan telah siap dalam waktu cukup lama untuk mengamankan segala kebijakan Pemerintahan Sementara United Liberation Movement for West Papua (Provisional Government of the ULMWP) yang telah diumumkan Presiden Pemerintahan Sementara H.E. Hon Benny Wenda dan telah siap mengamankan pelaksanaan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) ULMWP yang telah disahkan Komite Legislatif ULMWP dalam KTT Komite Legislatif III tanggal 18 Oktober 2020.

Pembentukan pemerintahan sementara ialah konsekuensi hukum yang logis dari proses upgrade nama kepemimpinan dan sistem organisasi ULMWP yang telah terjadi dengan perubahan-perubahan bylaws ULMWP yang telah terrposes secara bertahap sejak tahun 2017, yang kini memuncak dengan pengesahan UUDS 2020 Republik West Papua pada 20 Oktober 2020.

Pengesahan UUDS ULMWP 2020 ini mengandung konsekuensi hukum logis lanjutan, yaitu mewajibkan Komite Eksekutif ULMWP untuk mensahkan UUDS ULMWP dan membentuk pemerintahan, maka telah berlangsung sidang Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa ULMWP yang telah mensahkan UUDS ULMWP tanggal 29 Desember 2020.

Atas dasar pengesahan UUDS ini dan sekaligus pengusulan dan pengukukan H.E. Hon Benny Wenda sebagai Presiden dan H.E. Rev Edison Waromi sebagai Perdana Menteri, maka telah sah dan berlaku Undang-Udanng Dasar West Papua 2020 untuk wilayah politik dan huku West Papua, yang adalah wilayah bekas jajahan Belanda bernama Nederland-Niuew-Guinea, bekas pemerintahan UNTEA – PBB bernama West Irian, bekas jajahan Indonesia berturut-turut bernama Irian Barat, Irian Jaya, Papua, dan Papua dan Papua Barat.

Dengan pengesahan UUDS dan pembentukan Pemerintahan Sementara ULMWP, maka semua pihak dimintakan untuk tunduk kepada kesepakatan bersama, tunduk kepada Undang-Undang. Dengan demikian siapapun yang bertentangan dengan UUDS ialah musuh bangsa Papua yang harus dihadapi dengan arif dan bijaksana. Semua pemimpin bangsa Papua sama-sama mendukung kebijakan bersama ini dalam rangka mengakhiri penderitaan rakyat.

Gen. Tabi mengatakan,

Era perjuangan untuk melepaskan diri dari belenggu kolonialisme telah berakhir dengan pengesahan UUDS dan dengan pembentukan pemerintahan sementara ULMWP. Sekarang dan ke depan ialah era perebutan kekuasaan dari tangan penjajah. Oleh karena itu isu-isu dan agenda serta percakapan di antara orang Papua yang bersifat perjuangan harus dihentikan. Sekarang kita bicara mengenai merebut dan mengkleim kemerdekaan yang telah kita raih dan yang dianulir secara sepihak oleh NKRI.

Mulai sekarang kita harus tunduk kepada UUDS ULMWP, dan melupakan udang-undang penjajah asing, yang datang untuk merampok, mencuri, meneror, memenjarakan, menyiksa, dan membunuh. Kita harus melupakan Undang-Undang iblis dan mulai menjalani kehidupan sehari-hari dengan UUDS ULMWP yang didirikan dengan nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, yaitu Tuhan Yahwe

Gen. WPA Amunggut Tabi

Di akhir briefing, Gen. Tabi menyatakan,

WPA sebagai alat negara telah siap dan mendukung pengesahan UUDS ULMWP dan pengumuman pemerintahan sementara ULMWP, dan memintakan kepada Presiden dan Perdana Menteri untuk segera menyusun kabinet.

Gen. WPA Amunggut Tabi

Gen. A. Tabi: No More Unconstitutional Moves

From the Central Headquarters of the West Papua Revolutionary Army (WPRA), in the names of God Almighty, in the name of Jesus Christ, the Most High Commander in Chief of World Revolutions at all times, in the name of the Holy Spirit that gives us wisdom, knowledge and power, Gen. WPRA Amunggut Tabi invited all Melanesians from and in West Papua to celebrate 1 December 2020 as the historic National Awakening Day for West Papua as a collective entity called Papuan people, West Papua nation-state and New Guinea crown pigeon as our national state emblem.

“West Papua independence movement has already legalized a provisional constitution to rule above all interests and this law is the supreme commander of all independence movements and organisations. The Legislative Council of the United Liberation Movement for Wet Papua (ULMWP) has passed the Provisional Constitution in October 2020.

We have now entered into a new era of our independence movement: organised, unified, modern and constitutional government that leads our independence movement.

No more factionalism! No more stigma of separatists! No more branding of illegal groups or trouble-makers! No more law-breakers! It is time now to call Indonesia and her troops as illegal, trouble-makers and illegitimate representation of our Melanesian will and aspirations.

West Papua Army is now a legal combat troops to free a colonised territory of West Papua and hear peoples.

Let us unite as a people, with one goal: to free West Papua, to free Indonesia, to free Melanesia, to free the world from colonialism and from environmental crises.

says Gen. WPRA Amunggut Tabi, one of the Commands of WPA

The isle of New Guinea has the answer to global environmental problems. We Melanesians in West Papua have the legitimate experience and knowledge to contribute to the world.

December 1st, 1961 is the day where our national flag, national anthem and state emblem were officially installed, recognised by the colonial governments of both the Netherlands and Australia.

We invite all Melanesians in West Papua and from West Papua, to act according to the rule of law, subdue ourselves, our differences and our struggle to the constitution, set aside our differences, unite ourselves with one spirit: One People – One Soul!

All the praise, worship and honour to Him only! Let us surrender to His Plan, His Power and His Protection!

Issued at Central Defense Headquarters,
On date: 30 November 2020
————————————————————–

Signed

Amunggut Tabi, Gen. WPRA,
BRN: A.DF 018676

Saatnya Bangsa Papua Bersatu untuk Kemenangan oleh Tuhan

West Papua Army (WPA) silakan bergbung dalam Peperangan Rohani melawan kerajaan Iblis hari ini: Indonesia

The Gospel of Melanesia

Oleh Selpius Bobii

FAKTOR PENGHAMBAT UTAMA DALAM PERJUANGAN INI ADALAH BANGSA PAPUA TIDAK BERSATU.

Bahtera Papua sedang terkatung-katung di Samudera karena sepanjang perjalanan perjuangan ini terjadi perebutan NAKODA (pemimpin).

Walaupun demikian, syukurlah bahwa perjuangan bangsa Papua sudah menggema sampai di ujung bumi. Bersyukur juga bahwa doa ratap tangis bangsa Papua sudah didengar Tuhan dan pada waktu-Nya bangsa Papua akan dipulihkan.

Momentum yang sedang bergulir ini adalah saat yang tepat bagi para pejuang bangsa Papua untuk rekonsiliasi dan konsolidasi bersatu.

Persatuan kita adalah kekuatan kita.

Tinggalkan ego organisasi, ego pribadi dan segera berhenti saling serang menyerang antar organ/ faksi dan sesama pejuang.

TIDAK LIHATKAH: “MAMA PUPUA TERUS MENANGIS INI?”

ORGANISASI hanyalah sebagai MOBIL dan AGENDA sebagai JALAN, bukan sebagai tujuan. TUJUAN AKHIR PERJUANGAN KITA adalah Merdeka Untuk MENEGAKKAN HARGA DIRI dan menghadirkan Kerajaan Allah di Tanah Papua.

Marilah kita membawa perjuangan bangsa Papua ke dalam rencana dan kehendak Allah.

Sudah cukup…

View original post 92 more words

Gen. WPRA Amunggut Tabi: WPA Fokus Satu Arah, Satu Bidikan: NKRI

Menanggapi berbagai kritikan atas langkah ULMWP mensahkan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Negara Republik West Papua (NRWP), di mana para perwira yang ada di rimba New Guinea memberikan ancaman dan teguran kepada ULMWP dan gerilyawan yang bersatu dengan ULMWP dalam West Papua Army (WPA), Gen. Tabi menanggapi dan mengatakan,

Kita ini orang Kristen. Ayah dan ibu kita orang Kristen. Kita dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa Kristen. Kita dibesarkan dan menjadi pemimpin dengan bimbingan Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa bernama Yesus Kristus, Tuhan, Raja, Hakim Mahaagung dan Raja Damai”.

Agama Kristen tidak mengajarkan semua yang dipertanyakan. Semua ancaman, semua benci-membenci, semua teror, itu ajaran terorisme ada dalam agama apa? Ada dalam budaya siapa? Ada dalam realitas kehidupan bangsa mana?

Melanesia tidak! West Papua tidak! orang Kristen tidak!

Jadi, kami di Markas Pertahanan Tentara West Papua, bersama Panglima Komando WPA saat ini tidak mempermasalahkan dan tidak pernah menyalahkan siapa-siapapun, anak-anak Papua itu aset bangsa jadi kami tidak perlu menyalahkan apalagi mengancam mereka. Itu akan menghibur penjajah dan mereka akan bersujud-sembah melihat kita saling memarahi, apalagi memusuhi.

Ajaran agama Kristen, kita sebagai orang Kristen diajarkan (1) “Kasih” kepada Allah, dan (3) kasih kepada sesama manusia seperti (2) kasih kepada diri sendiri. Itu rumus matematika absolute, tidak dapat diganggu-gugat. Jadi, kalau ada yang menebarkan kebencian dan kata-kata yang memecah-belah, maka kita doakan dan kita ampuni, kita doakan agar Roh Kudus menjamah hati mereka, pikiran mereka, roh mereka.

Geenral Amunggut Tabi melanjutkan bahwa bilamana ada suara-suara kebenciran, serangan-serangan kepada pribadi kita atau kepada organisasi orang Papua, maka itu harus dilihat dalam satu kerangka, yaitu kerangka perjuangan Papua Merdeka. Dalam kerangka itu, maka yang tidak senang dan yang memusuhi perjuangan itu juga hanya satu pihak, yaitu NKRI, dan satu orang yaitu orang Indonesia.

Tidak ada satupun orang Papua yang sepenuhnya dan sesungguhnya mencintai NKRI. Dasar cintanya apa?

Gen. Tabi melanjutkan bahwa kita mencitai semua orang di dunia, termasuk orang Papua dan orang Indonesia, akan tetapi kita menentang NKRI, karena NKRI itu kerajaan iblis yang nyata hari ini.

Negara Kesatuan Republik Iblis (NKRI) adalah negara modern milik pribadi ibilis yang berasaskan ketamakan oleh keakuan dan ketakutan, kebencian oleh karena keakuan yang penuh nafsu dan kekerasan yang dipicu oleh ketakutan, lantaran tida percaya kepada diri sendiri dan kepada sesama.

NKRI identik dusta, NKRI identik dengen pecah-belah. NKRI identik dengan kebencian. NKRI identik dengan teror dan intimidasi, pembunuhan orang Papua, yang adalah manusia ciptaan Allah menurut rupa dan gambar Allah. Siapa yang mengancam, meneror dan merusak gambar Allah, ia akan dirusak oleh Allah sebagai pemilik rupa dan gambar itu sendiri.

Yang harus dilakukan ULMWP dan WPA ialah menabur kasih, membesarkan kasih dan menebar kasih dengan kepada semua orang, baik orang Papua maupun orang Indonesia. Orang Indonesia harus diselamatkan kepada Yesus Kristus, dan orang Kristen Papua bertanggung-jawab untuk itu. Caranya ialah pertama-tama melepaskan West Papua dari cengkeraman NKRI, lalu orang Papua akan bebas bergerak menyebarkan sayap penginjilan dibiayai dengan uang negara untuk menginjili dan meng-Kristen-kan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Iblis, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari Sumatera sampai Bali.

WPRA: “Happy 44th Birthday Papua New Guinea!”

The West Papua Revolutionary Army (WPRA), from the Central Defense Headquarters, the Secretary-General Gen. WPRA Amunggut Tabi says

“Happy 44th Birthday Papua New Guinea!”

Wishing you a happy Independence Day

As we celebrate our political independence 44 years ago, let us look forward at least 44 years from now, how far we have come, and have far we have to go from here:

  1. To free Melanesians in the Isle of New Guinea politically;
  2. To free Melanesians in the Isle of New Guinea socially;
  3. To free Melanesians in the Isle of New Guinea culturally;
  4. To free Melanesians in the Isle of New Guinea technologically;
  5. To free Melanesians in the Isle of New Guinea scientifically;
  6. To free Melanesians in the Isle of New Guinea spiritually, mentally and emotionally; and
  7. To free Melanesians in the Isle of New Guinea economically.

While celebrating our political independence, we are reminded of our job to free our Melanesian countries and our Melanesian people in other aspects of lives, until finally all Melanesians are free, and all Melanesia is free, in all aspects of life, at all levels of life.

From the Central Headquarters of the WPRA, an affiliate Command of the West Papua Army (WPA), I, the Secretary-General of the WPRA, hereby would like to invite Melanesians in Papua New Guinea to finish our job to free New Guinea from any kinds, forms and levels of colonialism on our Island.

Let us raise up beyond fear, as Hon. Powed Parkop, MP has invited us to to so. Let us come out bringing solutions to all big powers in the world, to Indonesians and to Melanesians, that West Papua independence is part of the independence of all parties. West Papua independence is not a problem, but it is a solution for all parties, and particularly for us living on this beautiful, peaceful, healthy Island of New Guinea.

Issued at: The Central HQs of the WPRA
On Date: September 16th, 2019
————————————————————–

Respectfully Yours,

Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

May 1st Declaration of the Formation of West Papua Army (WPA)

The ULMWP Announced the formation of WPA on July 1st, 2019

Be known to the world that a United Military Command for a Free and independent Nation-State of the Republic of West Papua has been form on May 1, 2019 that we call the May 1 Declaration of West Papuan Peoples.

— Oscar Wilde.

This announcement was made by the Spokesperson of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Dr. Jacob Rumbiak in Australia.

West Papua Army was formed after a series of Extraordinary Summits held among the High Ranking Officials of the West Papua Revolutionary Army (WPRA), the armed wing of Free West Papua Campaign, West Papua National Liberation Army – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) – Organisasi Papua Merdeka (OPM) and West Papua National Army – Tentara Nasoinal Papua Barat (TNPB) of the Federal Republic of West Papua.

The Summit was held at Yako Village, nearby Vanimo Town, Sandaun or West Sepik Province of the Independent State of Papua New Guinea.

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: