Dari Kantor Penarangan West Papua Army: Salam Damai Natal! dan “Rayakanlah!”

Syukur bagi-Mu Tuhan!!!

Dari Kantor Penerangan West Papua Army, Amunggut Tabi, Gen. WPRA, dengan ini menyampaikan

SALAM DAMAI NATAL! Desember 2020

dan

Selamat memasuki Tahun Baru Januari 2021

kepada seluruh umat manusia di seluruh muka Bumi, baik di alam fisik maupun alam roh, karena damai ini kelahiran Yesus menembus waktu dan tempat, dan lintas dunia dan alam, karna Yesus datang membawa pengharapan hidup kekal bagi semua umat manusia, yang telah mati sebelum Dia datang ataupun yang masih akan lahir.

Kepada rakyat bangsa Papua General Tabi menyebutkan ada lima peristiwa yang harus kita syukuri dan rayakan di akhir tahun 2020 ini dan sambil menyambut tahun 2021

  1. Pertama, bahwa embrio dari Undang-Undang Dasar Negara Republik West Papua telah ada di tangan kita, dan dalam waktu tidak lama lagi UUD NRWP akan lahir. Wilayah West Papua dan bangsa Papua kini memiliki Hukum Positif modern untuk melindingi dari segala jenis, bentuk dan wujud penjajahan
  2. Kedua, Wilayah West Papua kini telah memiliki Pemerintahan modern resmi sejak 1 Desember 2020. Wilayah West Papua yang dulunya disebut Nederlands-Niuew-Guinea, West Irian, Irian Jaya, Papua, dan kini Papua dan Papua Barat telah memiliki sebuah Pemerintahan Sementara yang sah dan konstitusional berdasarkan UUDS yang telah disahkan tanggal 28 November 2020 di Port Numbay West Papua, .
  3. Ketiga, bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah mensahkan Resolusi PBB tentang Hak Asasi Masyarakat Adat (MAHADAT) pada tahun 2007, di mana Pasal 3 menyatakan dengan terang-benderang MADAT berhak menentukan nasibnya sendiri.
  4. Keempat, bahwa PBB telah mensahkan Resolusi PBB tentang Hak Penentuan Nasib Sendiri pada pertengahan Desember 2020.
  5. Kelima, Yesus sebagai Raja Damai telah lahir, dan UUDS NRWP telah menyatakan di Mukadimah sebagai berikut “Kami mengaku dengan penuh syukur dan pujian bahwa bangsa dan negara West Papua adalah dibawah kuasa kemuliaan dan kebenaran Tuhan Yahwe, yang menciptakan Alam semesta, Leluhur dan segala berkat yang dilimpahkan bagi bangsa Papua.”

Rayakanlah! Bersyukurlah! Bergembiralah! dan kembalikan semua pujian dan hormat bagi nama Dia yang menciptakan, Dia yang memelihara, dan Dia yang menentukan nasib kita semua.

Indonesia tidak pernah ada, karena itu tidak perlu bubar! Indonesia sebagai negara ilusi dan imagined society tidak pernah ada, karena itu tidak perlu bubar. Yang perlu bubar ialah NKRI, negara yang dibuat dengan cita-cita adil-makmur berdasarkan darah-darah manusia tak berdosa.

Issued at: MPP WPA

Secretariat-General WPRA,

Signed

Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

Gen. A. Tabi: Sebenarnya WPRA Tidak Termasuk Mendirikan ULMWP, Justru TPN PB OPM Yang Mendirikannya

  • Lalu apa yang terjadi selanjutnya pada tahun ini?
  • Mengapa TPN PB OPM pimpinan Sebby Sambom dan Jeffry Pagawak justru menolak ULMWP dan meneror pada petinggi ULMWP?

General WPRA Amunggut Tabi menyatakan pembentukan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) untuk Negara Republik West Papua (NRWP), yang sementara ini digiring oleh United Liberation Movement for West papua (ULMWP) ialah sesuatu yang menarik dan harus disambut baik oleh semua pihak yang bercita-cita mendirikan NRWP yang merdeka dan berdaulat penuh.

Gen. Tabi mengatakan sebenarnya dari awal WPRA atau TRWP tidak termasuk dalam pembentukan ULMWP. Yang membentuk ULMWP itu ialah sayap politik dari komando TPN PB OPM (Seby Sambom dan Jeffry Pagawak), DM TPN/OPM (Jonah Wenda dan WPNCL) dan TNPB dari NRFPB. Free West Papua Campaign di bawah komando WPRA oleh Hon. Benny Wenda tidak terlibat dalam proses Saralana Declaration.

Gen. Tabi meneruskan,

“Kami di luar proses itu. Kami tidak terlibat. Alasannya karena kami tidak diundang, dan juga karena ada oknum yang kami curigai yang termasuk dalam proses ini sehingga kami memilih untuk tidak melibatkan diri.

Saat ditanyakan “Siapa oknum dimaksud?”, maka Tabi menjawab, oknum dimaksud bukan karena hal negatif, tetapi karena WPRA tahu bahwa kehadiran oknum dimaksud sudah dapat mewakili aspirasi WPRA.

Saat ditanya apakah pernah merencanakan untuk menolak ULMWP, Gen. Tabi mengatakan

“Kami sudah buat Surat Penolakan ULMWP, dan juga sudah disiapkan langkah politik untuk menggagalkan ULMWP.

Akan tetapi, lanjut Tabi, “atas perintah dari Mathias Wenda, Chief Genera WPRA, maka langkah itu dihentikan untuk ‘wait-and-see’, dan akhirnya kami memaksakan diri bergabung dengan ULMWP”

Melanesia.News menanyakan mengapa ada kata “memaksakan diri bergabung dengan ULMWP?”, Gen. Tabi menjawab,

Karena kami tidak diundang dan yang lebih penting karena kami bertindak sebagai penyeimbang, sambil menunggu proses lanjutan. Tetapi setelah kami membaca Konstitusi ULMWP, maka kami temukan ada hal-hal yang bisa dicapai dengan konstitusi itu, oleh karena itu kami diperintahkan Panglima Komando Revolusi untuk menindak-lanjuti dan mencari peluang untuk kami terlibat di dalamnya.

Ditanyakan siapa yang dimaksudkan dengan “kami” di sini? Maka dijawab “Kami dari Free West Papua Campaign“, pendiri dan ketuanya Hon. Benny Wenda sebagai Sekretaris-Jenderal dari Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka (DeMMAK)..

Tabi melanjutkan,

Siapapun orang Papua, baik yang hadir ataupun tidak hadir dalam pendirian ULMWP, baik yang masuk maupun tidak masuk dalam ULMWP, semua OAP hanya menginginkan satu hal, dan sepanjang siapapun yang dapat mewujudkan satu hal itu, maka orang Papua hanya berterimakasih dan beryukur kepada Allah.

Mau bendera berapa bintang, mau organisasi berjuang berapa lama, mau tokohnya siapa, orang Papua tidak memperdulikan. Orang Papua terdesak untuk harus keluar dari belenggu iblis yang mematikan nyawa orang Papua satu per satu, dan akhirnya memusnahkan ras Melanesia.

Melanesia.News menceritakan tentang ancaman yang ditebar oleh TPN PB OPM lewat media-media online dan media sosial, Gen. Tabi menjawab,

Itu tidak benar, itu bukan orang Papua yang buat begitu. Orang Papua punya sejarah perang suku di masa lalu. Tetapi selama 50 tahun terakhir orang Papua telah bersatu-padu secara roh dan emosi. Semua orang Papua hanya berdoa supaya NKRI keluar dari Tanah Papua. Tidak ada kebencian dan tidak ada teror di antara orang Papua. Cerita saling mencelakakan yang pernah terjadi pada generasi lampau itu disebabkan karena orang tua kami tidak paham permainan intelijen Indonesia. Sekarang kita sudah paham, kita sudah tamat dari situ.

Jadi, ancam-mengancam antara orang Papua sama sekali tidak ada saat ini. Semua orang Papua sangat menghargai satu sama lain dan semua orang Papua adalah orang Kristen yang tunduk kepada Hukum Kasih: yaitu kasih kepada Tuhan Allah dan Kasih kepada Sesama Manusia seperti kasih kepada diri sendiri.

Rumusnya jelas, jangan kacaukan rumus itu. Perampok dan pembunuh bangsa Papua hanya satu piha, dari satu arah: NKRI, orang Indonesia. Jangan tuduh adik-adik dan anak-anak Papua sebagai penebar teror

West Papua unrest: Shootout prompts border closure

Land and sea access between Indonesia and Papua New Guinea has been closed after a shootout at the border.

This follows reports of an Indonesian troop build-up along the border from communities in PNG’s West Sepik province.

Indonesian-ruled West Papua has been gripped by weeks of protests and violent unrest which has left dozens of people dead.

Amid a security forces crackdown, concern has been raised in neighbouring PNG about another potential influx of West Papuan refugees

PNG’s Immigration and Citizenship Authority has advised that following a shootout the border is closed to nationals from both sides until further notice.

It said shopping at the Batas market, close to the border on the Indonesian side, as well as movement into the West Papuan capital Jayapura was “completely banned”.

Earlier this week, PNG’s EMTV reported villagers at Wutung on the PNG side of the border as saying school children were ordered to return home.

Usually, most land and sea cross-border movement occurs around Papua New Guinea’s north coast.

Source: RNZ

Penemuan Akun-akun Bot Pendukung Pemerintah Indonesia di Twitter Terkait Papua

Oleh: Liam Fox dan Erwin RenaldiUpdated 6 September 2019 at 4:27 pmFirst posted 6 September 2019 at 4:06 pm

Konflik terkait Papua di Indonesia tidak hanya terjadi jalanan lewat aksi protes dan pengerahan militer Indonesia, tapi juga di dunia maya, menurut seorang penyelidik independen.

Beberapa akun bot pendukung pemerintah Indonesia telah menggunakan foto-foto yang dicuri dari jejaring sosial lainnya.(Foto: Bellingcat)

Benjamin Strick yang juga seorang penyelidik Open Source mengatakan selain pembatasan internet yang telah menyebabkan layanan bagi warga Papua terganggu, kini ditemukan sebuah network atau jaringan akun bot yang menyebarkan konten-konten yang mendukung pemerintah Indonesia melalui jejaring sosial.

Kepada ABC, Benjamin mengaku telah melakukan investigasi pada seluruh unggahan di Twitter dengan tag #WestPapua dan #FreeWestPapua, antara tanggal 29 Agustus hingga 2 September.

Data yang ia miliki kemudian divisualisasikan dengan menggunakan sebuah program online.

“Saya kemudian dapat melakukan analisa network untuk melihat siapa para influencer dari dua topik tadi,” ujar Ben yang juga kontributor Bellingcat, sebuah situs jurnalisme investigasi dan pengecekan fakta yang berbasis di Inggris.

Benjamin mengaku ia menemukan banyak otomotisasi yang datang dari sebuah newtork.

“Setelah diselidiki mereka semua adalah bots yang mempromosikan kegiatan pemerintah Indonesia di Papua Barat.”

Lantas darimanakah Benjamin mengetahui jika akun-akun tersebut adalah bot?

Dari penyelidikannya ia menemukan penggunaan foto palsu dalam akun-akun tersebut, dengan menggunakan foto dari bintang pop di Korea Selatan atau Jepang, hingga foto warga biasa di Amerika Serikat.

Akun-akun tersebut juga menurutnya mengunggah di waktu yang sama, dengan pola, jenis konten dan pola algoritma yang sama. Mereka juga terkait dengan akun-akun di jejaring sosial lainnya, seperti di Facebook dan Instagram.

Tidak diketahui pasti siapa pemiliknya, akun-akun bots promosikan sejumlah kegiatan pemerintah Indonesia di Papua. (Foto: Bellingcat, Benjamin Strick)

“Kebanyakan material tersebut adalah konten video infografik yang menunjukkan kinerja yang dilakukan pemerintah di papua,” ujarnya.

“Atau soal dana yang digelontorkan untuk membantu pelajar Papua dan bagimana warga Papua menghromati bendera Indonesia dan bangga sebagai bagian dari Indonesia.”

Meski ia tidak mengatakan akun-akun bot ini dibuat pemerintah Indonesia, tapi menurutnya jaringan ini memiliki agenda, yakni mendukung pemerintah Indonesia.

“Mereka mencoba memutarbalikkan kenyataan apa yang sebenarnya terjadi di Papua.”

Yang membuat menarik bagi Benjamin adalah beberapa konten menggunakan Bahasa Inggris dan banyak dari akun-akun Twitter tersebut baru dibuat dalam tiga bulan terakhir.

Pemerintah Indonesia sebelumnya telah menuduh adanya keterlibatan pihak asing terkait kerusuhan di Papua dan empat warga Australia telah dideportasi karena dianggap telah ikut unjuk rasa, meski tak ada bukti kuat.

“Jadi saat jurnalis independen ingin tahu soal apa yang terjadi di Papua lewat Twitter dengan kata kunci ‘West Papua’, maka yang ditemukan adalah betapa hebat dan baiknya pemerintah Indonesia terhadap warga Papua.”

Benjamin mengatakan ia sengaja menyampaikan penyelidikannya lengkap dengan langkah-langkah cara melakukannya, termasuk di situs Bellingcat.

“Jika ada yang ingin menyerang hasil temuan saya, mereka bisa mengikuti langkah-langkah yang saya jelaskan dan akan melihat jika hasilnya sama.”

Ia mengaku telah banyak mendapatkan tanggapan, termasuk ancaman dari pengguna jejaring sosial di Indonesia, namun beberapa diantaranya pun ia identifikasi sebagai akun bot.

Beberapa akun bot sudah dinyatakan ‘suspended’ di Twitter dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh pihak Twitter sendiri.

Source: https://www.abc.net.au/

West Papua Army Condemns Racist Statement by Colonial Police in Java, Indonesia

Gen. Amunggut Tabi says such a statement clearly indicates Indonesian people the Nazi of this era. Not many people in the world realize this. The Indonesian government have long practiced apartheid in West Papua and across Indonesia. This is real in the South Pacific, and that Indonesia sees all non-Malays in South Pacific as “non-humans”.

West Papua Army fights in defending the dignity and integrity of all black, white, red, green, and any colours as human beings, with the same and equal rights to be fully recognised and treated as fellow human beings. Therefore, we condemn Indonesian Nazi community and apartheid government in West Papua.

Further info – Email: office@wparmy.info – Mobile: +675-74215300

Read Full Article HERE

West Papua Army (WPA) Congratulates the Achievement of the ULMWP

The West Papua Revolutionary Army (WPRA), an affiliate command of the West Papua Army (WPA) hereby would like to congratulate the victory that West Papuan peoples have just achieved in the Pacific Island Forum (PIF) this week.

The key members of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), the Chair Benny Wenda, Spokesperson Jacob Rumbiak and Treasurer Paula Makakobry were all present at the meeting.

The issue of West Papuan human rights violations is getting full attention at the South Pacific level, where the PIF has an official voice at the United Nations body.

WPRA Secretary-General, Gen. Amunggut Tabi says,

“This is a victory that all Melanesians should remember. We have won politically at the MSG level, and we are now stepping upward, stepping forward, and stepping at wider levels of our politics and diplomacy.

This is the time for us all to thank God for what the Most High Revolutionary Supreme Commander is doing through His interventions. All Melanesian leaders who do not support this struggle will be kicked out from Melanesian politics. Those who speak for the cause will enjoy their lives in this body and after they die.”

Gen. Tabi closes his statement by saying that there will be more victories to come, and therefore Malenesians in West Papua should be ready to celebrate and thankful to God.

Issued at: Central HQs of the WPRA

On date: August 16, 2019
———————————————-

WPRA Secretariat-General,

Signed,

Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

General WPRA Mathias Wenda Congratulates Hon. Benny Wenda and Thanks the Government of the United Kingdom of Great Britain

WPRA Secretariat-General

News Release

Embargoed for Release until Wednesday, July 17th, 2019, at 5 p.m., PGT (GMT+10)

General WPRA Mathias Wenda Congratulates Hon. Benny Wenda and Thanks the Government of the United Kingdom of Great Britain

Chief General Mathias Wenda, the Commander of the West Papua Revolutionary Army (WPRA) as the father of Mr. Benny Wenda and as one of the elders of Lani Koteka Tribes General Wenda expresses thanks and deep appreciation to the Mayor of Oxford City and the Councillors of the Oxford City as well as Her Majesty’s Government of the United Kingdom of Great Britain.

As the Secretary-General Koteka Tribal Assembly or Dewan Musyawarah Masyarakat Adat Koteka – DeMMAK) and the Chair of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP), Honourable Benny Wenda has been awarded “The Freedom of Oxford” symbolizing the recognition from the one of the oldest city councillors in the world that the cause of a free and independent West Papua is democratically justified, according to the universal human rights principles and should be supported by world powers.

Hon. Benny Wenda has been promoting human rights and self-determination of the West Papuan peoples though an international Supervised Vote in West Papua, supported by Parliamentarians in England, Europe, Melanesian countries and African-Caribbean countries.

Hon. Benny Wenda is envisioning a free and independent Republic West Papua applying what his previous Freedom of Oxford City Award Winner, the Late Nelson Mandela’s Tribal Model of Democracy where the principal leaders are guiding the people from behind the crowd, not leading in front.

Issued in:             Central Headquarters of West Papua Revolutionary Army
On Date:              July 17th, 2019, at 4 p.m. UTC+10
———————————————————–
Secretary-General

Signed

Gen. Amunggut Tabi
BRN: A.DF 018676
“httd� ĘS�

Pages: 1 2

MPP West Papua Army: Terimakasih dan Selamat

MARKAS PUSAT PERTAHANAN
WEST PAPUA ARMY

MENYAMPAIKAN

Pujilah.Nama Allah, Moyang Bangsa Papua, Bangs Melanesia atas dianugrahi Penghargaan Noble Freedom of Oxford kepada Tn. Benny Wenda selaku Pemimpin Bangsa Papua.

Kami ucapkan banyak Terima Kasih kepada
Pemerintah Kerajaan United Kingdom atas kepercayaan yang diberikan kepada Bangsa Papua melalui Penyerahan ” Noble FREEDOM OF OXFORD” Kepada pemimpin Bangsa Papua, TN. Benny Wenda.

Doa dan Harapan kami, Berdasarkan Pemberian Penghargaan ini langkah-langkah kemajuan political akan meningkat di negara-negara bagian di kepulauan Pacific.

Doa, darah Dan air mata kami selalu menyertaimu, Amin.

Hormat Kami,
Markas Besar WPA, Wutung, Border 18/7/2019
Salam Satu Komando.
W P A.

Taripura YikwaInak.10

ULMWP Port Moresby and WPRRA Congratulates
ULMWP Port Moresby and WPRRA Congratulates

Warning to the Indonesian Military and the Indonesian Government by Egianus Kogeya.

Warning to the Indonesian Military and the Indonesian Government by the Ndugama Defense Region Commander of TPNPB-OPM Bridgen Egianus Kogeya.

KOMNAS TPNPB-OPM Press Release on July 13th, 2019.

On Friday July 12th, 2019, the management of KOMNAS TPNPB-OPM Headquarters has received a report from the KODAP III Commander of TPNPBNdugama, Papua through Courier.

In his report, the TPNPB-OPM KODAP III Commander Bridgen Egianus Kogeya demands to responsibility for the TNI and the Indonesian Government for the kidnapping of a one-year and eight months-old child, which had been kidnapped by the TNI after his mother was shot dead on Monday July 8th, 2019.

Please follow the Ndugama Region Commander of TPNPB-OPM statement 
below:

We TPNPB-OPM affirm to the TNI and the Government of Indonesia that the TNI shot dead Ms. Kenmalak Gwijangge on Monday July 8th, 2019 and her 1-year and Eight months-old child kidnapped by TNI forces.Therefore the families of the victims and Ndugama defense Region Commander of TNPB-OPM urged to the Governor of the Papua Province and the Central Government of Indonesia in Jakarta with the TNI to immediately return the children who were One Year Eight Months old.

If it’s not the opposite, then I Egianus Kogeya will reply. In this right, the TNI shot dead one mother and one child. But I am Egianus Kogeya and the TPNPB-OPM Forces will reply, With the Goals of the Indonesian people who are straight haired in the land of Papua, especially Ndugama heading to Wamena, I will shoot everyone.

Please forward this statement, Ndugama Defense Region Commander of TPNPB-OPM Bridgen Egianus Kogeya massage. This message was sent through courier of TPNPB-OPM to the Management of the West Papua National Libertion Headquarters. 

Clarification of the age of children who have been kidnapped by the TNI:
The age of the child kidnapped by the TNI on Monday July 8th, 2019 is One Year Eight Months. In our first report we wrote that the age of children kidnapped by the TNI was eight months, but after we collected additional 
information reported that the child who had been kidnapped by the TNI was one 
year Eight Months.

Note:

This report needs to conduct an investigation by a team of human rights workers with independence or by the United Nations, because the TNI closes access for humanitarian workers. The Indonesian military also did not provide space for independence human rights workers to Ndugama, in areas of war conflict between the Indonesian 
Military and the TPNPB-OPM.

And complete information may contact Theo Hesegem in Wamena, Papua.

Forward to all Journalists and Human Rights Working Groups around the World by Spokesman of TPNPB-OPM Mr. Sebby Sambom.

Please see the photo of Mrs. Kenmalak Gwijangge with her child below:

For full report also see attached copies of statement.

Jackson Uble King Morning Devotional For All Loyal Freedom Fighters of West Papua Nation

July 6th, 2019, Source Facebook.com

All respected Free Papua Fighters around the world, and National greetings namely One People One Soul.

Hi loyalist freedom fighters, we need to know that we work half-dead with Faithful in the struggle of the Papuan nation for independence and sovereignty, and the TPNPB-OPM in war field the battle for life and opponents of the Indonesian Colonial military is at this moment.

But their ambitious and name-seeking groups are too arrogant, so we reject the results of the TRWP-ULMWP Extraordinary Congress (KLB).

Remember that the West Papua Army was formed by the West Papua Revolutionary Army (TRWP) under the control of Matias Wenda and Sem Karoba, who were ambitious and selfish.

And the English language is West Papua Revolution Army (WPRA), so west Papua Army is TRWP, just change the word Revolution and everyone is trapped by this TRWP setting up done.

Why? Because TRWP is not recognized and has no mass base in West Papua so they try the name to be recognized.

And all fighters do not realize that they have been trapped into the TRWP settings up, because TRWP is too much of a People’s deception with high promises and the truth is empty promises.

More people who have become victims due to fraud by the TRWP are the Walak tribe, part of the Yali tribe, and part of the Lani Tribe, and part of the Gem Tribe.

Property such as pigs runs out in the area, and the canines of Pigs are neatly arranged in the male houses in the area We mentioned above.

To this day, there are waiting figs for the realization of TRWP’s promise. Mr. Serogo Tabuni, who lives in Britain, is more aware of this.

Mr. Agustinus Aud and fellow Freedom fighters from the area I mentioned above know more about this, We are also witnesses who have witnessed this fraud.
And this fraud has been going on for decades, not weeks or months. And this is the work of the devil impersonating Free Papua.

And this selfishness and ambition has been proven by forming a new military by TRWP with the name West Papua Army, very clear and bright from the eyes of freedom fighters.

Therefore, starting from this event, all of us West Papuans Freddom fighters must be aware and slaughter to see then take a firm stance in order to save the Papuan Nation’s Agenda for Full Freedom.

We are faithful walkers, and this is evident from our loyalty in this struggle.

And there is no words of compromise with groups that deliberately want to destroy the agenda of our nation of West Papua for full independence.
Thus, I hope this short article will open our horizons and we are ready to continue to work towards the aspirations of our Nation, namely the Papuan Nation in the Western Part of Papua.

By Sebby Sambom
Indonesian Malay as follow…..!!!
Renungan Pagi Untuk Semua Pejuang Loyal Bangsa Papua Barat
Tanggal 6 Juli 2019

Semua Pejuang Papua Merdeka yang terhormat di seluruh dunia, dan salam Nasional yaitu One People One Soul.

Wahai para Pejuang loyalis, perlu ketahui bahwa kami kerja setengah mati dengan Setia dalam perjuangan bangsa Papua untuk merdeka dan berdaulat, dan TPNPB-OPM di Medan Perang pertaruhan Nyawa dan lawan Militer Kolonial Indonesia sempai detik ini.

Tapi kelompok cari nama dan ambisius mereka terlalu sombong, oleh karena itu kami menolak hasil KLB TRWP/ULMWP.

Ingat bahwa West Papua Army itu bentukan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) dibawah Kendali Matias Wenda dan Sem Karoba, yang ambisius dan Egois.

Dan Bahasa Inggrisnya West Papua Revolution Army (WPRA), jadi west Papua Army itu TRWP itu sudah, hanya ganti kata Rvolution saja dan semua orang terjebak dengan setingan TRWP ini.

Mengapa? Karena TRWP tidak diakui dan tidak punya massa basis di West Papua sehingga mereka roba nama supaya dapat diakui.

Dan semua pejuang tidak sadar kalau mereka sudah terjebak kedalam setingan TRWP, karena TRWP terlalu banyak tipu Rakyat dengan janji-Hanji yang muluk dan yang sebenarnya adalah janji hampa.

Lebih banyak yang telah menjadi korban akibat tindak penipuan oleh TRWP adalah Suku Walak, Suku Yali sebagian, dan Suku Lani sebagian, dan Suku Gem sebagian.

Harta benda seperti babi habis di wilayah itu, dan taring Babi tersusun rapi di honai-honai laki-laki di wilayah yang Kami sebutkan di Atas ini.

Sampai hari ini taring babi-bai ini ada tunggu realisasi janji TRWP. Tuan SerogoTabuni yang tinggal di Britain itu lebih ketahui juga hal ini.

Tuan Agustinus Aud dan kawan-kawan pejuang dari wilayah yang saya sebutkan di atas lebih ketahuinya akan hal ini, Kami juga saksi yang pernah menyaksikan penipuan ini.

Dan penipuan ini telah berjalan puluhan tahun, bukan minggu atau bulan. Dan ini adalah pekerjaan iblis berkedok Papua Merdeka.

Dan keegoisan serta ambisiusme ini telah terbukti dengan membentuk militer baru oleh TRWP dengan nama West Papua Army, sangat jelas dan terang dari kaca mata pejuang.

Oleh karena itu, mulai dari peristiwa ini Kita semua pejuang harus sadar dan jelih melihat kemudian mengambil sikap yang tegas demi selamatkan Agenda Bangsa Papua Untuk Merdeka Penuh.

Kita adalah pejung yang setia, dan hal ini terbukti dari kesetiaan Kami dalam perjuangan ini.

Dan tidak ada kata kompromi dengan kelompok-kelompok yang sengaja mau hancurkan agenda bangsa Kita West Papua untuk merdeka Penuh.

Demikian, semoga tulisan singkat ini membuka wawasan Kita dan Kita siap untuk berjuang terus sempai menuju cita-cita Bangsa Kita yaitu Bangsa Papua di bagian Barat Pulau Papua.
By Sebby Sambom

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: