Terjadi Kontak Senjata di Distrik Bayabiru, Paniai

KOMNASTPNPBNews

Terjadi Kontak Senjata Di Distrik Bayabiru itu murni tindakan TPNPB Kodap XIII KEGEPANIPO PANIAI. Batalyon IV Piyamodide Telah Berasil Tembak Satu Anggota BRIMOB Juga Bakar POS Brimob kilo 99 bayebiru.

Laporan Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM per 20 Maret 2022

Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM telah terima laporan resmi Dari Pimpinan TPNPB Batalyon IV Piyamodide Letnan 1 Ugiitoyai Yumai bahwa mereka telah melakukan Kontak Senjata Dan Berhasil Tembak Satu Anggota BRIMOB.Di kilo 99 bayebiru.

TPNPB Dibawah Komando Komandan Batalyon IV Piyamodide Letnan 1 Ugiitoyai Yumai juga mengklaim bahwa mereka Berhasil bakar POS Brimob, Di lokasi Kilo 99 bayebiru Kontak Senjata Yang telah terjadi.

Silakan ikuti laporan resmi TPNPB Batalyon IV Piyamo Yang dikeluarkan oleh Komandan Batalyon IV Piyamodide dibawah ini.

Tgl:19/03/2022 Batalyon IV Piyamodide

Dibawah Pimpinan Letnan 1 Ugitoyai Yumai berhasil tembak mati satu anggota Brimob Di Daerah Distrik bayebiru Dan Kabupaten Paniai, tepatnya Di Mayabiru. Kontak Senjata terjadi pukul 18:00 sore hari dan baku tembak tersebut masih berlangsung.

Dalam Kontak Senjata ini di pihak TPNPB-OPM tidak ada Yang korban, namun di pihak TNI-POLRI ada satu korban anggota Brimob.

Yang Bertanggungjawab langsung Dalam serangan ini adalah Pasukan TPNPB dibawah Pimpinan

UGITOYAI YUMAI, yaitu

Batalyon IV PIYAMODIDE Dibahwa KODAP XIII KEGEPANIPO. PANIAI

Perlu ketahui Bahwa TPNPB Kodap XIII Kegepanipo Paniai Telah di lakukan Batalyon IV Piyamodide..

Demikian Manajemen Markas Pusat KOMNAS TPNPB-OPM, Bertanggungjawab atas siaran pers ini:

Oleh Jubir KOMNAS TPNPB-OPM Sebby Sambom,

Panglima Tertinggi KOMNAS TPNPB OPM

Mayjen GEN GOLIAT NAMAN TABUNI.

Panglima Daerah TPNPB OPM

KODAP XIII Bridjen :MATIUS GOBAI.

Sekian dan terimah kasih.

,,,Hidup tpnpb.

Warning to the Indonesian Military and the Indonesian Government by Egianus Kogeya.

Warning to the Indonesian Military and the Indonesian Government by the Ndugama Defense Region Commander of TPNPB-OPM Bridgen Egianus Kogeya.

KOMNAS TPNPB-OPM Press Release on July 13th, 2019.

On Friday July 12th, 2019, the management of KOMNAS TPNPB-OPM Headquarters has received a report from the KODAP III Commander of TPNPBNdugama, Papua through Courier.

In his report, the TPNPB-OPM KODAP III Commander Bridgen Egianus Kogeya demands to responsibility for the TNI and the Indonesian Government for the kidnapping of a one-year and eight months-old child, which had been kidnapped by the TNI after his mother was shot dead on Monday July 8th, 2019.

Please follow the Ndugama Region Commander of TPNPB-OPM statement 
below:

We TPNPB-OPM affirm to the TNI and the Government of Indonesia that the TNI shot dead Ms. Kenmalak Gwijangge on Monday July 8th, 2019 and her 1-year and Eight months-old child kidnapped by TNI forces.Therefore the families of the victims and Ndugama defense Region Commander of TNPB-OPM urged to the Governor of the Papua Province and the Central Government of Indonesia in Jakarta with the TNI to immediately return the children who were One Year Eight Months old.

If it’s not the opposite, then I Egianus Kogeya will reply. In this right, the TNI shot dead one mother and one child. But I am Egianus Kogeya and the TPNPB-OPM Forces will reply, With the Goals of the Indonesian people who are straight haired in the land of Papua, especially Ndugama heading to Wamena, I will shoot everyone.

Please forward this statement, Ndugama Defense Region Commander of TPNPB-OPM Bridgen Egianus Kogeya massage. This message was sent through courier of TPNPB-OPM to the Management of the West Papua National Libertion Headquarters. 

Clarification of the age of children who have been kidnapped by the TNI:
The age of the child kidnapped by the TNI on Monday July 8th, 2019 is One Year Eight Months. In our first report we wrote that the age of children kidnapped by the TNI was eight months, but after we collected additional 
information reported that the child who had been kidnapped by the TNI was one 
year Eight Months.

Note:

This report needs to conduct an investigation by a team of human rights workers with independence or by the United Nations, because the TNI closes access for humanitarian workers. The Indonesian military also did not provide space for independence human rights workers to Ndugama, in areas of war conflict between the Indonesian 
Military and the TPNPB-OPM.

And complete information may contact Theo Hesegem in Wamena, Papua.

Forward to all Journalists and Human Rights Working Groups around the World by Spokesman of TPNPB-OPM Mr. Sebby Sambom.

Please see the photo of Mrs. Kenmalak Gwijangge with her child below:

For full report also see attached copies of statement.

Jackson Uble King Morning Devotional For All Loyal Freedom Fighters of West Papua Nation

July 6th, 2019, Source Facebook.com

All respected Free Papua Fighters around the world, and National greetings namely One People One Soul.

Hi loyalist freedom fighters, we need to know that we work half-dead with Faithful in the struggle of the Papuan nation for independence and sovereignty, and the TPNPB-OPM in war field the battle for life and opponents of the Indonesian Colonial military is at this moment.

But their ambitious and name-seeking groups are too arrogant, so we reject the results of the TRWP-ULMWP Extraordinary Congress (KLB).

Remember that the West Papua Army was formed by the West Papua Revolutionary Army (TRWP) under the control of Matias Wenda and Sem Karoba, who were ambitious and selfish.

And the English language is West Papua Revolution Army (WPRA), so west Papua Army is TRWP, just change the word Revolution and everyone is trapped by this TRWP setting up done.

Why? Because TRWP is not recognized and has no mass base in West Papua so they try the name to be recognized.

And all fighters do not realize that they have been trapped into the TRWP settings up, because TRWP is too much of a People’s deception with high promises and the truth is empty promises.

More people who have become victims due to fraud by the TRWP are the Walak tribe, part of the Yali tribe, and part of the Lani Tribe, and part of the Gem Tribe.

Property such as pigs runs out in the area, and the canines of Pigs are neatly arranged in the male houses in the area We mentioned above.

To this day, there are waiting figs for the realization of TRWP’s promise. Mr. Serogo Tabuni, who lives in Britain, is more aware of this.

Mr. Agustinus Aud and fellow Freedom fighters from the area I mentioned above know more about this, We are also witnesses who have witnessed this fraud.
And this fraud has been going on for decades, not weeks or months. And this is the work of the devil impersonating Free Papua.

And this selfishness and ambition has been proven by forming a new military by TRWP with the name West Papua Army, very clear and bright from the eyes of freedom fighters.

Therefore, starting from this event, all of us West Papuans Freddom fighters must be aware and slaughter to see then take a firm stance in order to save the Papuan Nation’s Agenda for Full Freedom.

We are faithful walkers, and this is evident from our loyalty in this struggle.

And there is no words of compromise with groups that deliberately want to destroy the agenda of our nation of West Papua for full independence.
Thus, I hope this short article will open our horizons and we are ready to continue to work towards the aspirations of our Nation, namely the Papuan Nation in the Western Part of Papua.

By Sebby Sambom
Indonesian Malay as follow…..!!!
Renungan Pagi Untuk Semua Pejuang Loyal Bangsa Papua Barat
Tanggal 6 Juli 2019

Semua Pejuang Papua Merdeka yang terhormat di seluruh dunia, dan salam Nasional yaitu One People One Soul.

Wahai para Pejuang loyalis, perlu ketahui bahwa kami kerja setengah mati dengan Setia dalam perjuangan bangsa Papua untuk merdeka dan berdaulat, dan TPNPB-OPM di Medan Perang pertaruhan Nyawa dan lawan Militer Kolonial Indonesia sempai detik ini.

Tapi kelompok cari nama dan ambisius mereka terlalu sombong, oleh karena itu kami menolak hasil KLB TRWP/ULMWP.

Ingat bahwa West Papua Army itu bentukan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) dibawah Kendali Matias Wenda dan Sem Karoba, yang ambisius dan Egois.

Dan Bahasa Inggrisnya West Papua Revolution Army (WPRA), jadi west Papua Army itu TRWP itu sudah, hanya ganti kata Rvolution saja dan semua orang terjebak dengan setingan TRWP ini.

Mengapa? Karena TRWP tidak diakui dan tidak punya massa basis di West Papua sehingga mereka roba nama supaya dapat diakui.

Dan semua pejuang tidak sadar kalau mereka sudah terjebak kedalam setingan TRWP, karena TRWP terlalu banyak tipu Rakyat dengan janji-Hanji yang muluk dan yang sebenarnya adalah janji hampa.

Lebih banyak yang telah menjadi korban akibat tindak penipuan oleh TRWP adalah Suku Walak, Suku Yali sebagian, dan Suku Lani sebagian, dan Suku Gem sebagian.

Harta benda seperti babi habis di wilayah itu, dan taring Babi tersusun rapi di honai-honai laki-laki di wilayah yang Kami sebutkan di Atas ini.

Sampai hari ini taring babi-bai ini ada tunggu realisasi janji TRWP. Tuan SerogoTabuni yang tinggal di Britain itu lebih ketahui juga hal ini.

Tuan Agustinus Aud dan kawan-kawan pejuang dari wilayah yang saya sebutkan di atas lebih ketahuinya akan hal ini, Kami juga saksi yang pernah menyaksikan penipuan ini.

Dan penipuan ini telah berjalan puluhan tahun, bukan minggu atau bulan. Dan ini adalah pekerjaan iblis berkedok Papua Merdeka.

Dan keegoisan serta ambisiusme ini telah terbukti dengan membentuk militer baru oleh TRWP dengan nama West Papua Army, sangat jelas dan terang dari kaca mata pejuang.

Oleh karena itu, mulai dari peristiwa ini Kita semua pejuang harus sadar dan jelih melihat kemudian mengambil sikap yang tegas demi selamatkan Agenda Bangsa Papua Untuk Merdeka Penuh.

Kita adalah pejung yang setia, dan hal ini terbukti dari kesetiaan Kami dalam perjuangan ini.

Dan tidak ada kata kompromi dengan kelompok-kelompok yang sengaja mau hancurkan agenda bangsa Kita West Papua untuk merdeka Penuh.

Demikian, semoga tulisan singkat ini membuka wawasan Kita dan Kita siap untuk berjuang terus sempai menuju cita-cita Bangsa Kita yaitu Bangsa Papua di bagian Barat Pulau Papua.
By Sebby Sambom

‘State-in-waiting’: Papua’s rebels unite against Indonesia rule

Independence groups say they are ready to ‘take over our country’ amid rumbling conflict in far east of the archipelago.

by Febriana Firdaus & Kate Mayberry

Jakarta, Indonesia – The three main armed separatist groups in West Papua have joined forces to step up their push for independence as clashes between the rebels and the Indonesian military has forced thousands of civilians from their homes.

The groups announced this week that they will fight together under the title West Papua Army to be coordinated by the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) – an umbrella group for separatists.

The armed groups – the West Papua Revolutionary Army (TRWP, short for the Tentara Revolusi West Papua), West Papuan National Army (TNPB, short for the Tentara Nasional Papua Barat) and the West Papua National Liberation Army (TPN.PB, short for the Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat) signed the ‘Vanimo Border Declaration’ on May 1.

Benny Wenda, who lives in exile in the United Kingdom after fleeing Indonesia and is the chairman of the ULMWP, said the alliance was capable of leading an independent country.

“The ULMWP is ready to form an independent West Papua,” Wenda said in a statement this week. “Politically and militarily we are united now. The international community can now see without a doubt that we are ready to take over our country.

“Indonesia cannot stigmatise us as separatists or criminals any more, we are a legitimate unified military and political state-in-waiting.”

Amnesty: Indonesian forces behind unlawful killings in Papua (2:35)

West Papua was a colony of the Dutch until the early 1960s when Indonesia took control, cementing its rule with a controversial referendum that followed.

A low-level armed rebellion by indigenous Papuans, who now make up about half the population after years of migration by people from other parts of Indonesia, has been rumbling ever since.

“The military should take this seriously because they tend to underestimate the [rebels],” said Vidhyandika Djati Perkasa, the head of the department of politics and social change at the think-tank Centre for Strategic and International Studies in Jakarta.

“For sure, we know there is fragmentation, but Benny Wenda has strong support.” 

Allegations of abuse

The government in Jakarta maintains that West Papua, which occupies the western half of the island of Papua New Guinea, is Indonesian because it was part of the Dutch East Indies which forms the basis of the country’s modern-day borders.

Papua is also rich in natural resources and the site of the world’s largest gold mine and its second-largest copper mine, but its people remain among the country’s poorest.

Violence flared again in December after rebels attacked a road construction project in the central highlands killing at least 17 people, triggering a military crackdown.

Some 35,000 civilians have been forced from their homes as the security forces attempt to flush out the rebels from the forested mountains.

Brigadier General Sisriadi, the spokesman for Indonesia’s military, told Al Jazeera he could not comment on the formation of the armed alliance.

He stressed that the military would continue to work with the police to track down suspected separatists, accusing them of destroying property and attacking civilians.

Sisriadi pointed to a local media report from January that said four separatist groups were surrendering to the army.

“They are Indonesian,” he said. “And we don’t think of them as outsiders.”

CSIS’s Vidhyandika Djati Perkasa said the think-tank’s recent research indicated that there was widespread support for independence among young Papuans and that the government needed to reconsider its strategy in the territory by focussing more on diplomatic than military approaches.

“The paradigm must change,” he said.

Human rights groups have long accused the Indonesian security forces of abuses in Papua.

In a report last July, Amnesty International described the territory as a “black hole” for human rights and said its research had found at least 95 unlawful killings between 2010 and 2018.

Human Rights Watch has documented what it says is the misuse of treason laws against pro-independence supporters in the restive territory.

Papuans risk detention for expressing their views including holding peaceful demonstrations or attending meetings related to West Papua’s political status. Those who fly the Morning Star flag – the symbol of West Papuan independence – could face a prison term of as many as 15 years.

In May, 39-year-old Polish traveller Jakob Skrzypski, was jailed for five years after being found guilty of treason for meeting pro-independence activists when visiting Papua.

SOURCE: AL JAZEERA NEWS

Bentuk Pasukan Baru, Separatis Sesumbar Bakal Ambil Alih Papua

JAKARTA – Tiga tentara pemberontak Papua Baray telah bergabung di bawah kendali gerakan kemerdekaan yang dipimpin oleh Benny Wenda. Mereka pun sesumbar mengatakan bahwa mereka sekarang siap untuk mengambil alih Papua.

Pernyataan itu dikeluarkan ketika pihak berwenang Indonesia tengah meningkatkan upaya dalam pencarian terhadap lima tentara dan sembilan awak dari helikopter cadangan militer yang hilang pada Jumat pekan lalu.

Papua Barat, yang berbatasan dengan Papua Nugini, telah berada di bawah kendali Indonesia sejak 1969 dan berada dalam cengkeraman konflik separatis yang telah berlangsung lama.

Kelompok-kelompok bersenjata ini pada bulan lalu bersatu di bawah komando Gerakan Pembebasan Bersatu untuk Papua Barat (ULMWP) – organisasi payung untuk tiga kelompok kemerdekaan.

Baca juga: Separatis Papua Bentuk Tentara Baru, Menolak Cap Penjahat oleh Indonesia
“Secara politis dan militer kita bersatu sekarang. Masyarakat internasional sekarang dapat melihat tanpa ragu bahwa kita siap untuk mengambil alih negara kita,” kata Wenda, ketua ULMWP.

“Indonesia tidak dapat lagi menstigmatisasi kami sebagai separatis atau penjahat, kami adalah negara kesatuan militer dan politik yang sah yang sedang menunggu,” imbuhnya seperti dikutip dari The Guardian, Rabu (3/7/2019).

Kelompok-kelompok itu termasuk TPNPB, yang menyerang sebuah situs konstruksi pada bulan Desember lalu dan dilaporkan membunuh 17 orang.

Insiden itu memicu aksi militer di wilayah itu, merenggut puluhan nyawa di kedua sisi.

Tak lama setelah serangan itu, Wenda memberi tahu Guardian bahwa dia tidak bisa menghentikan TPNPB, tetapi menyerukan agar tenang.

Bobby Anderson, peneliti Papua dan mahasiswa doktoral di Sekolah Kebijakan Publik Universitas Chiang Mai, memperingatkan bahwa kelompok pemberontak sebelumnya mengumumkan penyatuan yang tidak ada artinya.

“Pernyataan komando bersatu ini mungkin hanya ULMWP yang mencoba mengambil momentum dari tindakan Nduga,” kata Anderson.

“Kami tidak akan tahu apakah itu nyata sampai kami melihat aksi bersenjata terkoordinasi baik di Nduga dan di luar, yang akan menunjukkan bahwa deklarasi ULMWP adalah kenyataan,” imbuhnya.

“Saya pribadi punya keraguan. Faksi-faksi (separatis bersenjata) ini dipenuhi dengan ‘para jenderal’ yang cenderung tidak menerima perintah. Mereka beroperasi dalam perintah terbatas di area diskrit,” imbuhnya.

Namun Anderson mengatakan memiliki kepemimpinan Wenda mungkin membuat perbedaan, dan perintah terpadu yang belum pernah terjadi sebelumnya dinilai akan meningkatkan pertumpahan darah.

“Dia berhasil menyatukan ULMWP dari perwakilan sipil dari kelompok-kelompok kemerdekaan Papua yang berbeda dan yang diadakan selama ini sangat mengesankan,” ucapnya.

Penyatuan itu menandai perkembangan baru lain dalam konflik yang telah berlangsung lama, hanya beberapa hari setelah terungkap bahwa anak-anak Papua Barat dilibatkan dalam pertempuran.

West Papua rebels unite to form new army

Armed rebel groups in Indonesia’s West Papua have reportedly united to form a new army under a single command.

A release from the office of the chairman of the United Liberation Movement for West Papua, Benny Wenda, says it’s the first time the three major factions have come under a single arm.

Under the This ‘Vanimo Border Declaration’, the Liberation Movement is taking political leadership of the new grouping, formed today and dubbed the West Papua Army.

Mr Wenda says they are ready to take over Papua and are calling for international and domestic support.

“We welcome any assistance in helping us achieve our liberation. Indonesia cannot stigmatise us as separatists or criminals any more, we are a legitimate unified military and political state-in-waiting,”

he said in a statement.

The new force includes the West Papua Liberation Army, which is fighting a bloody war with state forces in Nduga regency.

Also joining the united front are the West Papuan National Army and the West Papua Revolutionary Army.

Source: https://www.rnz.co.nz

Sayap militer Pembebasan West Papua bersatu dalam West Papua Army (WPA)

Jayapura, Jubi – Konflik dan perpecahan internal di antara Pejuang Gerilya maupun Pemimpin Komando Militer Papua Barat telah terjadi sejak lama. Hal ini dipandang sebagai persoalan utama yang merupakan salah satu hambatan dalam proses perjuangan pembebasan rakyat West

Selama bertahun-tahun itu pula proses rekonsiliasi dan konsolidasi Komando Militer Papua Barat dilakukan. Dalam catatan Jubi, sekitar 13 kali proses rekonsiliasi ini dilakukan, yakni :

  1. Pembentukan Pasukan Sukarelawan Papua (PVK), tahun 1961-1963, di Holandia, West Papua, sebagai Embrio Organisasi Sayap Militer West Papua.
  2. Deklarasi Batalion Kasuari, tanggal 19 April 1964, di Manokwari, Pegunungan Arfak. West Papua.
  3. Deklarasi TPN-OPM. Tanggal 01 Juli 1971, di Tanah Waris, West Papua.
  4. Pertemuan Para Pemimpin Faksi PMK dan Marvik antara Tuan Jacob Pray dan Tuan Zet Rumkorem yang difasilitasi oleh Pemerintah Republik Vanuatu, pada tahun 1985, di Port Fila.
  5. Kongres Tingkat Tinggi TPN.PB, 1998, di Markas Viktoria, Scotyau, Bewani, PNG.
  6. Kongres Tingkat Tinggi TPN.PB, 2004, Markas Besar, Merauke, West Papua.
  7. Kongres Tingkat Tinggi TPN. PB, 2005, di Ilaga West Papua.
  8. Deklarasi Dewan Militer TPN.PB, 2005, di Markas Viktoria, Scotyau, Bewani, PNG.
  9. Kongres Nasional TPN.PB, 2006, di Markas Border, PNG.
  10. Kongres Tingkat Tinggi TPN.PB, 2006, di Markas Tingginamburt, Puncak Jaya, WP.
  11. Kongres Tingkat Tinggi TPN.PB, 2007, di Markas Bring, Grimim Nawa, WP.
  12. Persatuan Sayab Militer West Papua, TRWP, 2012, di Markas Border, PNG.
  13. Kongres Tingkat Tinggi, TNPB, 2016, di Serui, West Papua.

Beberapa kali pula Kongres Militer West Papua telah dilakukan dalam rangkaian rekonsiliasi namun tak tercatat secara resmi.

“Beberapa momentum rekonsiliasi dan konsolidasi internal komando militer tersebut diatas adalah sebuah dinamika adanya perbedaan pandangan atau pendapat tentang struktur kepemimpinan nasional dan strategi operasional komando militer secara umum,” ungkap John Rumbiak, Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) mengenai proses rekonsiliasi dan konsolidasi yang terjadi selama ini.

Menurut Rumbiak, proses ini telah tuntas sejak tiga tahun lalu, tepatnya setelah Deklarasi Saralana, tanggal 27 November – 03 Desember 2017 saat ULMWP melakukan Kongres Tingkat Tinggi (KTT) Pertama, yang dihadiri oleh Para Pemimpin dari semua Komponen Perjuangan Sipil, Diplomasi Politik dan Militer West papua untuk membahas dan memutuskan agenda kerja dan struktur kepemimpinan ULMWP, periode 2018 – 2020.

Dalam Forum KTT tersebut para pemimpin dari Komponen Militer Papua Barat yaitu Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN. PB), Tentara Revolusi West Papua (TRWP), Tentara Nasional Papua Barat (TNPB), mendapat kesempatan waktu untuk menyampaikan beberapa pandangan umum tentang perkembangan perjuangan di dalam negeri, salah satunya menyangkut perpecahan internal Komando Militer yang sedang terjadi.

“Dibutuhkan upaya persatuan kembali secara nasional,” lanjut Rumbiak, mengenai kesimpulan dari pandangan umum tersebut.

Sesuai dengan pandangan politik dari militer tersebut maka, Forum KTT Pertama ULMWP, telah memutuskan untuk mengeluarkan Rekomendasi Tentang Rekonsiliasi dan Konsolidasi Internal Komando Militer Papua Barat, dan kemudian dilanjutkan oleh Ketua Eksekutif ULMWP, yang saat itu baru terpilih (Beny Wenda).

Dikatakan oleh Rumbiak, sesuai dengan keputusan KTT Pertama ULMWP, tahun 2017, kemudian RAKER Eksekutif ULMWP Ke-I tentang struktur kerja eksekutif dan pelimpahan kewenangan kerja Biro Pertahanan dan Keamanan ULMWP, biro ini telah menyelesaikan program kerja prioritas yaitu Rekonsiliasi dan Konsolidasi Internal Militer Papua Barat secara Nasional (Sorong – Merauke) yang kemudian membentuk panitia Kongres Luar Biasa I West Papua Army (WPA). Anggota panitia ini merupakan perwakilan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Tentara Revolusi West Papua (TRWP) dan Tentara Nasional Papua Barat (TNPB).

Kongres Luar Biasa ini menghasilkan beberapa keputusan antara lain :

  1. Para Panglima Komando TPNPB, TRWP dan TNPB telah menyepakati, memutuskan dan menyatakan bersatu dalam agenda kerja perjuangan Bangsa West Papua
  2. Para Panglima Komando TPN.PB, TRWP, dan TNPB, telah menyepakati, memutuskan dan menyatakan bersatu dalam satu nama West Papua Army.
  3. Para Panglima Komando TPN.PB, TRWP, dan TNPB, menyepakati, memutuskan dan menyatakan bersatu dalam sat garis kordinasi komando West Papua Army dibawah ULMWP.
  4. Struktur Koordinasi Kerja Komando West Papua Army berbentuk Semi Negara.

“Hasil ini telah dilampirkan untuk diketahui oleh seluruh Komponen Perjuangan Rakyat West Papua, dan Masyarakat Internasional.  Sayap militer West Papua secara resmi dan sah telah menyatakan dukungan penuh kepada ULMWP selaku sayap politik diplomasi. Hal itu terbukti dalam legitimasi tanda tangan dari setiap Panglima Pemegang Komando Militer dari Sorong sampai Merauke,”

ujar Rumbiak.

Mengenai keputusan dalam KLB I WPA ini, ketua ULMWP, Benny Wenda mengatakan WPA telah menyatakan siap membela dan melindungi wilayah beserta masyarakat Sipil West Papua dari kejahatan Indonesia dan sekutunya.

“WPA juga menolak dialog antara Jakarta dan West Papua dan mendukung proses perjuangan diplomasi yang di dorong oleh ULMWP,” ujar Wenda.

WPA juga ikut menjaga perdamaian dunia dari ancaman teroris, perdagangan narkotika dan segala jenis perdagangan illegal dan siap melaksanakan Konvensi Den Haag, Kovensi Jenewa 1949 dan Hukum Humaniter Internasional serta hukum internasional lainya yang berlaku di masa perang dan keadaan damai.  (*)

Source: JUBI

Separatis Papua Bentuk Tentara Baru, Menolak Cap Penjahat oleh Indonesia

Muhaimin, JAKARTA – Gerakan United Liberation for West Papua (ULMWP) atau Serikat Pembebasan Papua Barat yang selama ini dicap pemerintah Indonesia sebagai kelompok separatis telah membentuk tentara baru. Dengan pembentukan tentara baru ini, ULMWP menolak label separatis dan penjahat oleh pemerintah Indonesia.

Pemimpin ULMWP, Benny Wenda, mengatakan untuk pertama kalinya tiga faksi yang selama ini melawan militer Indonesia telah bersatu membentuk pasukan baru di bawah satu komando.

Tentara baru itu diberi nama “West Papua Army (Tentara Papua Barat)”. Tentara baru itu dibentuk di bawah “Deklarasi Perbatasan Vanimo”.

Benny Wenda mengatakan pihaknya siap mengambil alih Papua dan menyerukan dukungan internasional dan domestik.

“Kami menyambut bantuan apa pun dalam membantu kami mencapai pembebasan kami. Indonesia tidak bisa lagi menstigmatisasi kami sebagai separatis atau penjahat, kami adalah negara kesatuan militer dan politik yang sah dalam penantian,” katanya dalam sebuah pernyataan, yang dikutip RNZ, Senin (1/7/2019).

Tiga faksi yang bersatu menjadi “Tentara Papua Barat” ini adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)—yang terlibat konflik berdarah dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Nduga—, Tentara Nasional Papua Barat dan Tentara Revolusi Papua Barat.

Sebelumnya, TPNPB blakblakan merekrut anak-anak remaja sebagai tentara untuk melawan militer Indonesia. Kelompok itu menyadari bahwa melibatkan anak-anak dalam konlik bersenjata adalah pelanggaran konvensi internasional, namun mereka mengklaim hal itu diperlukan dengan melihat perkembangan yang terjadi di Papua Barat.

Perekrutan anak-anak itu bahkan dipublikasikan sebagai bahan propaganda. TPNPB merilis foto yang menunjukkan anak-anak remaja mengenakan seragam ala militer dan menenteng senapan.

“Anak-anak ini secara otomatis menjadi pejuang dan penentang militer kolonial Indonesia,” kata Sebby Sambom, juru bicara TNPB.

Dia mengatakan sekitar selusin tentara anak berusia antara 15 dan 18 tahun saat ini berjuang untuk kelompoknya di berbagai daerah di Papua.

Kodam XVII/Cenderawasih telah mengecam tindakan TNPB yang merekrut anak-anak remaja sebagai tentara anak untuk melawan militer Indonesia. Kapendam Cenderawasih Kol Inf Muhammad Aidi Nubic menjelaskan bahwa sejatinya bila ada dua atau lebih pihak yang bertikai, maka semua pihak wajib hukumnya untuk memberikan perlindungan kepada anak-anak, wanita dan orang lanjut usia (lansia).

“Apabila ada pihak yang melibatkan anak-anak, wanita dan lansia dalam pertikaian atau pertempuran, maka pihak tersebut telah melanggar hukum HAM (hak asasi manusia) dan Humaniter. Apalagi mereka merekrut dan mengeksploitasi anak-anak di bawah umur untuk terlibat dalam pertempuran,” katanya dalam pernyataan tertulis yang diterima SINDOnews.com. (mas)

TPN-OPM Nyatakan Bertanggung Jawab Atas Penembakan di Nduga

Jayapura – Tentara Pembebasan Nasional – Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) melalui salah satu petinggi organisasi itu, Panglima Daerah Militer Markodap III Ndugama, Egianus Kogeya menyatakan bertanggung jawab terhadap penyerangan pekerja Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI di Distrik Mbua, Papua.

Hal ini dikatakan Juru Bicara TPN-OPM Sebby Sambom dalam rilisnya kepada BeritaSatu.com, Rabu (5/12) siang. Sebby Sambom mengatakan, Panglima Daerah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Markodap III Ndugama, Egianus Kogeya menyatakan bertanggung jawab terhadap penyerangan pekerja Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua.

Disebutkan, sejak 2 Desember 2018 di bawah pimpinan Komandan Operasi Tuan Pemne Kogeya, telah dilakukan operasi di Kali Aworak dan Kali Yigi dengan sasaran operasi Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua.

“Kami yang lakukan dan kami siap bertanggung jawab. Penyerangan ini di bawah pimpinan Panglima Daerah Makodap III Ndugama Tuan Egianus Kogoya dan komandan Operasi, Pemne Kogeya. Lebih dari tiga bulan kami memantau dan melakukan patroli, dan kami sudah secara lengkap mempelajari pekerja di Jembatan Kali Aworak, Kali Yigi, dan Pos TNI Distrik Mbua. Mereka adalah satu kesatuan,” kata Seby yang menyampaikan keterangan Egianus Kogeya.

Diungkapkan, Pos Mbua adalah pos resmi sebagai pos kontrol dan yang bekerja di Kali Aworak dan Kali Yigi adalah murni anggota TNI (Zeni Tempur/Zipur). “Karena kami tahu bahwa yang bekerja selama ini untuk jalan Trans (Papua) dan jembatan-jembatan yang ada sepanjang Jalan Habema Juguru Kenyam Batas Batu adalah murni anggota TNI,” katanya.

Lanjut dia, sasaran serangan mereka tidak salah, sebab TPN-OPM tahu mana pekerja sipil atau tukang biasa, dan mana pekerja anggota TNI. “Walaupun mereka berpakaian sipil atau preman,” katanya.

“Kami juga siap bertanggung jawab terhadap penyerangan Pos TNI di Distrik Mbua. Yang melakukan perlawanan dan penyerangan adalah TPNPB Markodap III Ndugama, bukan warga sipil. Kami pimpinan sampai anggota TPNPB Komando Nasional punya kode etik perang revolusi. Kami tidak akan berperang melawan warga sipil yang tidak seimbang dan sepadan,” kata Sebby Sambom.

Sumber: Suara Pembaruan

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: