Blog Feed

Facebook dan Twitter Tutup Akun Propaganda Indonesia Soal Papua, Termasuk Akun Bot Pro-Pemerintah RI

ABC Indonesia / ReutersUpdated 6 March 2020 at 4:47 pmFirst posted 6 March 2020 at 10:00 am

Facebook dan Twitter kini menutup sejumlah akun yang dikelola pihak militer Indonesia untuk menjalankan propaganda soal Papua. (Reuters)

Twitter dan Facebook telah menutup sedikitnya 80 akun yang selama ini menjalankan propaganda Indonesia tentang Papua. Akun-akun tersebut diduga terkait dengan sejumlah situs berita yang mempublikasikan propaganda pro-pemerintah Indonesia.

Penutupan ini dilakukan setelah kantor berita Reuters menemukan ada sekitar 10 situs yang menerbitkan konten yang mendukung tindakan TNI dan polisi dalam menumpas gerakan separatis di provinsi Papua.

Sejumlah situs yang pro-pemerintah RI itu diketahui dikelola dan didanai oleh TNI, dengan berkedok sebagai sumber berita independen.

November tahun lalu, bertepatan dengan Hari Pahlawan Nasional, Kolonel Muhammad Aidi, penasihat intelijen Kopassus pernah memberikan penghargaan kepada Yunanto Nugroho, seorang perwira TNI yang juga bertugas mengkoordinir situs-stits tersebut, demikian laporan Reuters.

Ia mengatakan Yunanto sebagai seorang operator komputer militer telah membantu membuat dan mengelola banyak situs berita, sebagai bagian dari “upaya militer” dengan bermitra bersama relawan dari kalangan non-militer, termasuk beberapa wartawan.

“Situs resmi TNI tidak dapat mempublikasikan semua yang kita lakukan, jadi ada beberapa kantor berita yang telah mendukung kami melaporkan berita positif, serta melawan situs negatif, atau berita-berita palsu,” katanya.

Kitaorangpapuanews.com selintas memiliki tampilan seperti Detik.com (Foto: kitaorangpapuanews.com)

Pemberitaan dari situs-situs tersebut kemudian secara aktif disebarkan oleh sejumlah akun Twitter dan Facebook.

Kantor berita Reuters menemukan setidaknya ada 80 akun di Facebook dan Twitter yang terkait situs tersebut.

Sebelumnya, Benjamin Strick, yang juga seorang penyelidik Open Source, menemukan sebuah network atau jaringan akun bot yang menyebarkan konten-konten yang mendukung pemerintah Indonesiamelalui jejaring sosial.

Kepada ABC, Benjamin mengaku telah melakukan investigasi pada seluruh unggahan di Twitter dengan tag #WestPapua dan #FreeWestPapua, antara tanggal 29 Agustus hingga 2 September tahun lalu.

Data yang ia miliki kemudian divisualisasikan dengan menggunakan sebuah program online.

“Saya kemudian dapat melakukan analisa network untuk melihat siapa para influencer dari dua topik tadi,” ujar Ben yang juga kontributor Bellingcat, sebuah situs jurnalisme investigasi dan pengecekan fakta yang berbasis di Inggris.

Benjamin mengaku ia menemukan banyak otomotisasi atau akun bot yang datang dari sebuah newtork.

“Setelah diselidiki mereka semua adalah bot yang mempromosikan kegiatan pemerintah Indonesia di Papua Barat.”

Tidak diketahui pasti siapa pemiliknya, akun-akun bots promosikan sejumlah kegiatan pemerintah Indonesia di Papua. (Foto: Bellingcat, Benjamin Strick)

Beberapa diantara akun-akun tersebut menggunakan foto profil atau animasi seolah sebagai warga Papua.

Akun-akun ini tidak hanya memuji pendekatan TNI untuk “mengatasi masalah seperatisme”, tapi juga mengkritik para pendukung Referendum Papua.

‘Sebagai bentuk jiwa patriot’

Meski mengaku tidak mengetahui keberadaan akun-akun ini, Kodam Cendrawasih kepada ABC Indonesia mengatakan hal tersebut adalah bentuk “rasa cinta pada tanah air” dari sejumlah netizen.

“Bentuk cinta tanah air netizen Indonesia untuk melawan kampanye untuk melepaskan Papua dari NKRI di berbagai platform media sosial, yang dilakukan oleh kelompok Free West Papua (FWP) dari dalam dan luar negeri,” kata Letkol Inf Dax Sianturi, Wakil Kepala Penerangan Kodam XVII Cendrawasih.

Menurutnya, penyebaran informasi yang dilakukan oleh kelompok ‘Free West Papua’ cenderung mendiskreditkan pemerintah Indonesia, khususnya Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian RI.

Ia yakin jika pembelaan dari netizen Indonesia adalah sebagai bentuk jiwa patriot dan kesadaran bela negara melalui spektrum ‘cyber’ harus lebih ditingkatkan, demikan tulis Dax lewat pesan singkat yang diterima ABC Indonesia di Melbourne.

“Ketika ada upaya membentuk opini menyesatkan tentang Indonesia, maka netizen Indonesia akan bergerak melawannya.”

Twitter telah mengaku menutup lebih dari 60 akun yang tampaknya menggunakan identitas palsu.

Saat akun-akun tersebut dicoba untuk diakses, muncul tulisan “Akun Ditutup. Twitter menutup akun yang melanggar ketentuan Twitter”.

Tapi juru bicara Twitter menolak menjelaskan alasan penutupan tersebut.

Sementara itu, juru bicara Facebook menyatakan, pihaknya telah menutup “sejumlah akun” yang ditandai dilaporkan Reuters.

Alasan penutupan itu, katanya, karena melanggar standar komunitas Facebook.

Oktober tahun lalu, Facebook juga menutup akun-akun palsu yang memposting konten tentang gerakan Papua Merdeka.

Simak berita-berita menarik lainnya dari ABC Indonesia.
Source: https://www.abc.net.au/

Papua Police name 13 suspects for deadly Wamena unrest

Papua Police name 13 suspects for deadly Wamena unrest – National – The Jakarta Post

The Papua Police have named 13 people suspects for allegedly having been behind the recent deadly unrest in Wamena, Jayawijaya regency, which caused tens of thousands of residents to flee their homes.

Ten suspects, whose ages range from 16 to 40 years, were already in the custody, while the remaining three are still at large and being hunted by the police, Papua Police spokesperson Sr. Comr. AM Kamal said on Monday.

“The three wanted [suspects] are categorized as provocateurs and are allegedly involved in the KNPB [National Committee of West Papua] and the ULMWP [United Liberation Movement for West Papua],” Kamal said as quoted by kompas.com.

The Indonesian government has blamed both the ULMWP, led by UK-based Papuan exile Benny Wenda, and the affiliated KNPB for orchestrating the unrest that broke out on Sept. 23.

Police investigators claimed they found indications the three were involved with the groups after collecting the testimony of the arrested suspects and witnesses, he said.

Wamena saw violent unrest on Sept. 23 as a mob, reportedly of native Papuans, set hundreds of buildings, including shophouses and government offices, and cars on fire and attacked other residents with weapons.

The turmoil, which the government estimated to have caused material losses amounting to Rp 479.5 billion (US$33.8 million), claimed the lives of at least 33 people, most of whom were non-native Papuans, and injured at least 76 others, according to authorities.

As of Sunday, about 1,726 residents were still staying at a number of evacuation sites, while another 15,544 had left Wamena for other cities across the country after the riots, the Social Ministry said.

Kamal said the police would possibly name more suspects. (gis)

Papua Police name 13 suspects for deadly Wamena unrest – National – The Jakarta Post

Call for Jihadis to go to West Papua following unrest

Johnny Blades, RNZ Pacific Journalistjohnny.blades@rnz.co.nz

Indonesia's Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in West Papua Photo: Supplied
Indonesia’s Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in West Papua Photo: Supplied

Jihadis are being encouraged to go and fight in West Papua by Indonesian Muslim hardliners.

Front Jihad Islam, or FJI, issued a call to arms in the Indonesia-ruled Papuan provinces after non-Papuan settlers were among the victims of recent violence there.

Unrest has surged in Papua region since August, including a day of rioting and violence in the Highlands city of Wamena two weeks ago when about 30 people were killed.

The unrest came off the back of widespread public demonstrations by West Papuans protesting against racism and calling for a referendum on independence from Indonesia.

According to Indonesia’s government, more than 11,500 people have been evacuated from Wamena since then due to safety fears. That many of these people are settlers from other parts of Indonesia has caused concern and prompted action back in Java.

FJI has been busy spreading its message online, replete with videoed torching of the Papuan Morning Star Flag and banners calling for Jihadis to be recruited for fighting in Papua against Papuans.

That’s a concern to Saiful Islam Payage, the head of Papua’s chapter of the Ulema Council, Indonesia’s top Muslim clerical body.

“I am very worried. So, I strongly forbid the Laskar who are in the name of religion for war or jihad in Papua,” he said.

He said that for now, there were only demonstrations in Java, and that no mobilisation of jihadis had yet occurred in the Papuan provinces. But he warned that if hardliners sought to bring their brand of divisiveness to Papua, he would have them expelled.

Indonesia's Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in Papua Photo: Supplied
Indonesia’s Front Jihad Islam looks to recruit jihadis to take up arms in Papua Photo: Supplied

Indonesian human rights researcher Andreas Harsono said that following recent violence in Wamena, a number of Islamic groups mobilised in Javanese cities.

Those organisations had been making two types of public calls – one, from a Muslim NGO network, was urging people to donate to humanitarian assistance for victims of the unrest in Wamena and other parts of Papua.

The other, from the likes of the FJI and the Islamic Defenders Front, was a call to recruit jihadis to go to Papua and protect fellow Muslims.

According to Mr Harsono, his concern stems from the way that most Indonesians have limited knowledge of the situation in Papua and the context of widespread human rights abuses there.

“Most victims are indigenous Papuans. Many Indonesians do not know the problems there,” he said.

“But because of emotions, because of sentiment, Muslim sentiment, they might think that fellow Muslims are being victimised in Papua. Thus, they will provide the ingredients to support these kind of misleading calls.”

While noting his concern, the researcher also said that he didn’t deem the threat as major currently because as yet no cleric of significant influence had called for jihadis in Papua.

Furthermore, Mr Harsono said that Indonesian military and police personnel were on hand to provide security in Wamena and other towns in a region where the population was predominantly Christian.

While Papua has generally enjoyed harmonious inter-religious relations, Mr Harsono said groups aggressively promoting sharia law already had a foothold in the region.

“We have one in Sorong; we are also seeing Laskar Jihad, a militant Muslim group, setting up a base in Keerom; also in Wamena – not militant, but quite aggressive.

“So these kinds of organisations are starting to appear in many parts of both Papua and West Papua provinces over the last decade.”

The presence of hardline Islamic campaigners in Keerom regency, which sits right on the border with Papua New Guinea, is not the only security concern along the 141st meridian east.

Land and sea access points between the two countries were closed last weekafter two people died in a shootout near the border on the Indonesian side where there’s been a troop build-up.

The governor of PNG’s West Sepik province, Tony Wouwou, said fellow Melanesians on the other side looked to flee across the border to safety in PNG.

But he said having Indonesian military in pursuit of them brought risk for his people.

“I’m a bit scared. I’m worried if my people go across and you never know what could happen. They might get bullet wounds or something because the Indonesians might think we’re Wamenas [people from Wamena] and all this, and receive a wound, and maybe our people will retaliate or something. I don’t want that to happen.”

He said the border entry point to Indonesia should remain closed until security threats abate.

Source: RNZ

Indonesian cleric suspect in Papua assault case

Indonesian element of Jihadis declare war on West Papuan, Melanesian Christians
Indonesian element of Jihadis declare war on West Papuan, Melanesian Christians

Indonesian police have named a firebrand Muslim cleric as a suspect in an assault case in Papua

The Jakarta Globe reported that Ja’far Umar Thalib is the former commander of the disbanded Islamist militant organisation Laskar Jihad.

Ja’far, a leading proponent of a puritanical form of Islam with a long history of involvement in sectarian conflict, runs an Islamic boarding school in Keerom district.

Police alleged Ja’far incited his followers to attack the house of a resident in Jayapura, 30 kilometers to the north.

The resident was reportedly confronted at around 5.30am by several sword-wielding people dressed in white.

The pretext for the alleged attack was that he played music too loud and that it disrupted morning prayers at a nearby mosque.

The local chapter of Indonesia’s top Muslim clerical body, the Indonesian Ulema Council, previously warned that Ja’far and his followers could disrupt delicate religious harmony in Papua.

Source: RNZ

West Papua unrest: Shootout prompts border closure

Land and sea access between Indonesia and Papua New Guinea has been closed after a shootout at the border.

This follows reports of an Indonesian troop build-up along the border from communities in PNG’s West Sepik province.

Indonesian-ruled West Papua has been gripped by weeks of protests and violent unrest which has left dozens of people dead.

Amid a security forces crackdown, concern has been raised in neighbouring PNG about another potential influx of West Papuan refugees

PNG’s Immigration and Citizenship Authority has advised that following a shootout the border is closed to nationals from both sides until further notice.

It said shopping at the Batas market, close to the border on the Indonesian side, as well as movement into the West Papuan capital Jayapura was “completely banned”.

Earlier this week, PNG’s EMTV reported villagers at Wutung on the PNG side of the border as saying school children were ordered to return home.

Usually, most land and sea cross-border movement occurs around Papua New Guinea’s north coast.

Source: RNZ

WPRA Will Retaliate against Indonesian army and police if….

Only if the Indonesian army (TNI) and police (Polri) continue to kill students and unarmed civilized on daily basis, unstopped by international civilized community then West Papua Revolutionary Army (WPRA) will retaliate.

Recent deployments of active military and police troops, equipped with fire arms to kill Melanesians in West Papua clearly indicate that Indonesia is declaring war against Melanesians. All Melanesian leaders must united now, because we are defending our human dignity and integrity. We are not just fighting against foreign occupation, but more than that, these military might has been undermining God created human beings in His own Image by calling us Melanesians “monkeys”, “pigs” and “dogs”.

The world should note that it is Indonesia that love violence, love killing, and Indonesia is NOT a democratic country, but it is fully controlled by military might that terrorize Indonesian civilians.

WPRA Strongly Condemns the Killing of Students and Civilians by TNI/ Polri

From the Central Defense Headwaters of West Papua Revolutionary Army (WPRA), Amunggut Tabi, Gen. WPRA hereby

STRONGLY CONDEMNS

the brutal unlawful shootings against un-armed students and civilians who are demonstrating against violation of human dignity by Indonesian TNI and Police officers as well as Indonesian teachers calling Melanesians as “monkeys”.

This time the shootings and killings happened in Wamena and Jayapura on 23 September 2019, adding the numbers to hundreds of thousands of Melanesians, man, women and children, young, adult and children, male and female.

This Nazism of Indonesia and inhuman government should end its occupation over the Republic of West Papua and the international community must respond to humanitarian crises happening for so long.

Issued at: Central Headwaters of WPRA
On Date: 24 September 2019

Secretary-General,

Signed


Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

Natalius Pigai: Mengapa Orang Papua Marah Pada Pendatang?

TULISAN ini saya tulis berdasarkan realitas yang dihadapi rakyat Papua. Saya telah melihat langsung, memantau, mendengar dan mencatat di mana seluruh isinya cek langsung ke rakyat Papua, juga cerita-cerita dengan tidak kurang dari 8 Bupati/mantan Bupati dan Pejabat masih aktif.

Saya menulis ini adalah kontribusi saya sebagai penyelidik profesional yang pernah menangani tidak kurang dari 15 ribu kasus di Indonesia. Tulisan ini kontribusi saya untuk kebaikan dan perbaikan bersama (bonum commune).

58 Tahun hidup dalam nestapa, ratusan ribu orang Papua dibantai didasari atas kebencian rasisme terhadap bangsa Papua yang berkulit hitam dan rambut kriting.

Kata-kata yang mengandung kekerasan verbal dengan sebut monyet, kera, gorila, bahkan Kete, telah lama diterima orang Papua. Pelakunya tidak hanya rakyat sipil biasa tetapi justru dilakukan oleh aparat negara baik di Papua maupun di luar Papua. Makin lama pendatang bersikap, perilaku dan berbuat rasis dan dibalas dengan sikap segregatif rakyat Papua sebagai ungkapan sakit hati.

Lebih ironis lagi Aparat Intelijen, TNI, dan Polri menjadikan kaum pendatang sebagai mitra, informen bahkan pasukan milisia. Secara sengaja atau tidak aparat menggiring pendatang orang sipil tidak berdosa yang sedang mengadu nasib di tanah Papua sebagai kelompok milisia.

Itulah pemicu kebencian akut rakyat Papua terhadap pendatang, jadi kenapa hari ini bangsa orang Papua dicaci maki, dicemooh, dimusuhi? Mengapa tidak marah kepada aparat negara yang menggiring pendatang rakyat sipil tidak berdosa bermain dalam bara api di Papua yang memang wilayah konflik.

Pernahkah kita tahu bahwa di Wamena, pusat kota dan di daerah lainnya HIV/AIDS berkembang cepat mengancam kepunahan bangsa Papua Melanesia, bukan karena wanita-wanita melayu penjajah seks komersial menjual diri di “lokalisasi” karena memang tidak ada lokalisasi, tetapi mereka bikin gubuk-gubuk kecil di kios-kios dan rumah makan pendatang, di rumah makan “mas mau makan apa, daging mentah atau masak” daging menta berdagang seks, daging masak artinya makanan.

Itulah ilustrasinya jika orang asli Papua makan.

Ketika terjadi aksi protes oleh orang Papua di pusat-pusat kota, aparat sering kali intai orang Papua dari rumah-rumah pendatang atau kios-kios dan rumah makan pendatang, seringkali memberondong peluru dari tempat-tempat ke arah orang Papua.

Sudah terlalu banyak orang Papua mati karena pola ini. Cara-cara ini disaksikan oleh orang Papua, memang Papua ini kota-kota kecil semua terjadi kasat mata, terang-benderang.

Tutur lisan menyebar seantero orang Papua dan modus-modus ini diketahui luas. Sekali lagi bukan pendatang, tetapi pendatang digiring aparat, mau tidak mau “manut” apalagi di wilayah konflik.

Namun salah satu kelakuan yang tidak elok dipertontonkan para pendatang adalah dikala konflik atau cek-cok mulut dengan orang Papua, para pendatang selalu meminta atau berlindung di balik laras senjata, mereka tidak menempuh jalur hukum, saya tidak pernah menemukan orang pendatang melapor atau mencari keadilan di pengadilan melawan orang Papua secara fair.

Judi togel di mana-mana di kota-kota, jual minuman keras dikelola pendatang dan dibekingi aparat.

Apakah kita pernah tahu bahwa daerah penambangan liar dikuasai pendatang, dibekingi aparat, jual minuman keras, narkotika bahkan prostitusi seperti di Degeuwo, Tembagapura, daerah Mamberamo dan lain-lain.

Aparat membekingi orang luar Papua untuk menguasai 3 sumber utama
milik orang Papua; 1) merampas sumber daya alam dengan melakukan penambangan liar (ilegal mining), pengambilan ikan secara liar dan pengambilan kayu secara ilegal. 2). Merampas sumber daya ekonomi orang Papua di seluruh pusat-pusat kota, distribusi barang dan jasa dikuasai pendatang, sumber-sumber ekonomi dikuasai. Kios, pasar, bahkan angkot dan ojek dikuasai pendatang.

3). Merampas hak politik rakyat Papua, perampasan hari ini sudah merambah ke dunia birokrasi dan politik. Pendatang terlalu haus kuasa, mau jadi Bupati, Wakil, DPR dengan cara sogok yang hambur uang sini, hambur uang sana Pemilu hari ini nyaris dikuasai pendatang. Ada kabupaten yang anggota DPR-nya nyaris 100% pendatang, ada kabupaten yang satu keluarga 7 orang DPRD.

Kalau 3 sumber kehidupan utama orang Papua dikuasai, maka apakah ada harapan hidup bagi orang Papua? Masa depan tentu sudah suram.

Apakah tahu bahwa kepala daerah dan pejabat di Papua tersandera dan disandera oleh kontraktor dan anak buahnya yang rata-rata pendatang. Kontraktor menggunakan aparat negara memuluskan proyek, bahkan pencairan terlebih dahulu sebelum proyek berjalan. Karena tekanan dan teror.

Bupati hampir dipastikan disandera kepala dinas yang anggarannya besar seperti PU dan keuangan, kerja sama dengan Polisi dan Jaksa teror kepala daerah dengan bukti penyalagunaan seakan akan Bupati bermasalah, ditunjukaan surat panggilan palsu, SPDP palsu, kepala daerah ketakutan sehingga selanjutnya hasil konspirasi merampok uang negara bermiliar-miliar.

Di seluruh Papua, auditor Badan Pemeriksa Keuangan datang atau didatangi pejabat daerah untuk menyogok agar BPK keluarkan sebuah surat yang bernama “telah selesai melakukan pemaksaan” sekali lagi surat itu bernama “telah selesa melakukan pemeriksaan”, padahal BPK tidak pernah periksa dan tidak pernah ada realisasi.

Akibatnya semua rakyat Papua ini heran kenapa hampir semua kabupaten di Papua tiap tahun dapat predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) merampok uang rakyat dalam jumlah yang besar tanpa pembangunan fisik. Aktor Intelektualnya (gurunya) itu pejabat non-Papua.

Kalau boleh saya jujur “apa adanya”, maka rumah sakit di Papua sudah dicap sebagai “tempat kematian”, bukan tempat persemaian manusia, bukan tempat kehidupan, apalagi rumah sakit pemerintah termasuk milik kepoisian, sekarang rakyat Papua sudah mulai curiga rumah sakit swasta sekalipun milik gereja.

Orang Papua sangat takut ke rumah sakit, mereka lebih memilih pengobatan alami. Telah lama rumah sakit dicurigai orang Papua sebagai tempat pembersihan etnis Papua (etnic cleansing), rata-rata ibu muda yang pernah masuk rumah sakit saat hamil atau melahirkan selanjutnya tidak bisa melahirkan, ada juga ibu yang disuntik kesuburan tanpa persetujuan suami dan dirinya (mungkin ditanya saat mengalami kontraksi kesakitan saat melahirkan) sehingga tanpa sadar meng”iya” kan agar disuntik kesuburan.

Memang rata-rata tampilan fisik bangunan dan di dalam rumah sakit sangat “buluk” bahkan waktu saya dan Manager Nasution mantan Komnas HAM sekarang di LPSK melihat langsung air kran di rumah sakit dok 2, RS satu nomor 1 se-tanah Papua mati seminggu. Padahal air itu vital, air kehidupan tanpa air manusia pasti mati, apalagi di rumah sakit.

Memang di dunia ini tenaga medis dan para medis itu istimewa/mereka wakil tuhan di dunia, tetapi untuk Papua tentu penilaian berbeda.

Jangankan rumah sakit, orang Papua hari ini sudah kehilangan respek kepada romo, pendeta, apalagi kiai, telah lama suara kenabian hilang di tanah Papua Melanesia. Gereja menjadi alat penguasa, menjadi alat milik klik-klik misterius. Hambah tuhan yang membela orang Papua mati mendadak, di daerah pedalaman berhadapan dengan laras senjata.

Tidak ada hukum negara di Papua, tidak ada keadilan di hadapan hukum bagi orang Papua. Keadilan hanya berlaku bagi mereka yang pendatang, kecuali orang Papua membayar “sogok” hakim. Orang Papua yang pejabat begitu saja muda dan cepat dapat kuputusan pengadilan dan salinan keputusan hanya dalam hitungan hari, sementara orang Papua yang kecil dan miskin begitu sulitnya mendapat keadilan.

Hampir 58 tahun pengadilan menghukum orang non-Papua atau aparat kepolisian (belum pernah saya lihat dan baca dokumen) seorang anggota polisi yang dipenjara karena menyiksa dan membunuh di luar pengadilan (extra judicial killing) dan selalu mendapat sorotan dunia.

Semua rintihan, ratapan, kesedihan orang Papua terbungkam di kalbu rakyat Papua. Rakyat Papua tidak punya ruang ekspresi, media masa dibungkam menjadi alat propaganda penguasa dan pendatang. Organisasi masyarakat sipil dan partai politik sebagai instrumen artikulator kepentingan rakyat Papua terbungkam, kekebasan ekspresi terbatas.

Akibatnya apa yang terjadi hari ini adalah meledaknya puncak gunung es yang membeku begitu lama. Itu yang kurang dipahami negara dan rakyat Indonesia.

Bangsa (tokoh-tokoh nasional lintas suku dan agama) sepatutnya meminta negara untuk mencari solusi penyelesaian masalah Papua secara bermartabat dan lebih progresif, bukan memilnta represi militer di Papua.

Kalau meminta operasi militer, maka tidak perlu minta karena sudah 58 tahun operasi militer telah berlangsung, rakyat Papua saban hari hidup dalam ancaman di tanah tumpa darah mereka, yaitu tanah Papua milik bangsa Melanesia.

Saya harus jujur sampaikan bahwa kita ini 2 ras yang berbeda, yaitu Nas Negro Melanesia dan Ras Mongoloid Melayu. Ibarat minyak dan air, tidak akan pernah bisa bersatu kecuali kalau rasisme, Papua Phobia dan diskriminasi dihilangkan dari negara ini dan itu terasa tidak mungkin karena diskriminasi di negeri ini sudah terlalu akut. rmol news logo article


EDITOR: DIKI TRIANTO

WPRA Congratulates Kausea Natano as the Prime Minister of Tuvalu

From the Central Headquarters of the West Papua Revolutionary Army (WPRA), an affiliate command of West Papua Army (WPA) in Vanimo, Sandaun Province of Papua New Guinea, on behalf of all our ancestors, those Melanesians who have died for our cause, all of us who are still alive and those to come, I am General WPRA Amunggut Tabi , as the elder of the Walak Tribe and as the Secretary-General of West Papua Revolutionary Army (WPRA), hereby express

CONGRATULATIONS TO
MR HON KAUSEA NATANO

AS THE PRIME MINISTER OF TUVALU SINCE SEPTEMBER 19, 2019

The WPRA would like to thank the support from Tuvalu for the protection and promotion of human rights in West Papua, including the rights to self-termination.

Issued at: The WPRA Central Defense Headquarters
On Date: 19 September 2019
—————————————————————-

Secretary-General,

Gen. Amunggut Tabi, Gen. WPRA
BRN: A.DF 018676

Thousands of West Papuan students return home over safety fears

Over 2000 West Papuan university students have returned home from Indonesian cities since last month over safety fears.

Protesters march in Jayapura. Photo: Whens Tebay

Racist harassment of Papuan students in university dormitories in Javanese cities last month sparked weeks of widespread protests and unrest in Papua.

While Indonesian police have started investigations into the harassment, many students claim they continue to face threats and feel unsafe.

As of Monday, 2047 students had been recorded by Papua’s provincial government as having left their studies to return to their home region since August.

The majority of the students are from Highlands regencies in Papua.

Last month, in response to the harassment, Papua’s Governor Lukas Enembe offered support to students who wished to return home from Java.

Source: RNZ

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started