Indonesia Memasuki Era Transformasi Budaya Global

By:Kristian Griapon, 16 Oktober 2020

Era reformasi yang terjadi dan dimulai di Indonesia sejak rezim orde baru di tumbangkan pada tahun 1998, telah membawa sebagian rakyat Indonesia pada suatu perubahan pola pandang terhadap tatanan kehidupan yang modernisme dan kritis. Perubahan itu bertumbuh dan berkembang mengikuti perkembangan jaman, disesuaikan dengan dilai-nilai peradaban universal, yaitu

“manusia ditempatkan sebagai manusia, bukan robot, atau binatang yang harus dikendalikan sepenuhnya oleh kekuasaan negara untuk kepentingan penguasa. Dan manusia mempunyai kedudukan yang tinggi sesuai kodratnya yang harus dilindungi, dihormati, dijunjung tinggi, dan dijamin harkat dan martabatnya dalam kehidupan bernegara”.

Negara merupakan pemahaman dari bentuk tatanan kehidupan modern, yang terbentuk diatas kepentingan suatu kelompok etnis dan budaya, bertujuan untuk melindungi dan memberikan jaminan pemenuhan terhadap kebutuhan dasar penduduk yang menjadi warga negaranya tanpa pengecualian, yang meliputi: “Keamanan, Kebebasan, Ketertiban, Keadilan, dan Kesejahteraan”.

Indonesia sejak merdeka menjadi sebuah negara, telah dijadikan ranah perebutan kekuasaan, baik itu ditingkat elit kekuasaan di Pusat maupun di daerah, sehingga kepentingan rakyat diabaikan. Dan para elit politik di Indonesia mempunyai jaringan yang kuat dari pusat hingga ke daerah, jaringan itu dibangun melalui partai politik yang mengakomodir berbagai kepentingan golongan didalamnya untuk saling merebut, mempertahankan dan membagi-bagi kekuasaan negara. Dan rakyat Indonesia selama ini telah dijadikan tameng demokrasi semu untuk kepentingan legalitas kekuasaan dari para elit politik itu sendiri.

Yang terjadi saat ini di Indonesia adalah suatu proses dinamika transformasi budaya global, dimana penguasa negara telah panik menghadapinya. Dinamika transformasi budaya global membuka kedok berbagai kepentingan kekuasaan yang selama ini bersembunyi dibalik kekuasaan negara dan mengatas namakan kepentingan rakyat. Kepentingan-kepentingan rakyat itupun mulai bergeser arah kepada rakyat yang sesungguhnya, dan negara yang selama ini dijadikan tameng kekuasaan telah terbuka kedoknya, dan disaksikan langsung oleh rakyat.

Dalam hubungan internasional, Indonesia sebagai suatu negara tidak bisa menghindari dinamika transformasi budaya globlal yang menyentuh berbagai lini kehidupan masyarakat global diatas dasar peradaban nilai-nilai universal, terutama yang berhubungan langsung dengan Hak Asasi Manusia dan Demokrasi.

Dalam konteks RUU Omnibus law cipta kerja yang disahkan secara mendadak menjadi UU RI pada 5 Oktober 2020, dapat dikatakan merupakan bentuk dinamika transformasi budaya global di Indonesia yang di jadikan alasan kuat oleh pemerintah Republik Indonesia untuk menjamin asas keadilan ekonomi di Indonesia dan mengakomodir seluruh kepentingan pemerintah didalamnya.

Pengadopsian RUU Omnibus law cipta kerja menjadi UU, tidak mematuhi asas transparansi, sehingga memunculkan berbagai tanggapan negatif terhadap pengesahannya. Penggunaan Omnibus Law telah banyak dilakukan oleh negara di dunia terutama yang menggunakan tradisi common law system.

Di dunia terdapat dua sistem hukum yakni common law system dan civil law system. Indonesia mewarisi tradisi civil law system.

Omnibus Law sudah diterapkan di AS dan Kanada mulai tahun 1880-an. Di Asia Tenggara ada Vietnam dan Filipina yang telah menerapkan konsep UU Sapu Jagat ini,dan di Indonesia disahkan menjadi UU pada 5 Oktober 2020.

Diharapkan UU Omnibus law cipta kerja 2020 yang telah menciptakan pro-kontra di kalangan masyarakat Indonesia, benar-benar menjamin keadilan terhadap hak-hak seluruh Warga Negara Indonesia, baik yang bersifat individual maupun kelompok, tanpa harus dijadikan alat kekuasaan negara bentuk baru, untuk menindas warga Negara Indonesia.(Kgr)

Natalius Pigai: Mengapa Orang Papua Marah Pada Pendatang?

TULISAN ini saya tulis berdasarkan realitas yang dihadapi rakyat Papua. Saya telah melihat langsung, memantau, mendengar dan mencatat di mana seluruh isinya cek langsung ke rakyat Papua, juga cerita-cerita dengan tidak kurang dari 8 Bupati/mantan Bupati dan Pejabat masih aktif.

Saya menulis ini adalah kontribusi saya sebagai penyelidik profesional yang pernah menangani tidak kurang dari 15 ribu kasus di Indonesia. Tulisan ini kontribusi saya untuk kebaikan dan perbaikan bersama (bonum commune).

58 Tahun hidup dalam nestapa, ratusan ribu orang Papua dibantai didasari atas kebencian rasisme terhadap bangsa Papua yang berkulit hitam dan rambut kriting.

Kata-kata yang mengandung kekerasan verbal dengan sebut monyet, kera, gorila, bahkan Kete, telah lama diterima orang Papua. Pelakunya tidak hanya rakyat sipil biasa tetapi justru dilakukan oleh aparat negara baik di Papua maupun di luar Papua. Makin lama pendatang bersikap, perilaku dan berbuat rasis dan dibalas dengan sikap segregatif rakyat Papua sebagai ungkapan sakit hati.

Lebih ironis lagi Aparat Intelijen, TNI, dan Polri menjadikan kaum pendatang sebagai mitra, informen bahkan pasukan milisia. Secara sengaja atau tidak aparat menggiring pendatang orang sipil tidak berdosa yang sedang mengadu nasib di tanah Papua sebagai kelompok milisia.

Itulah pemicu kebencian akut rakyat Papua terhadap pendatang, jadi kenapa hari ini bangsa orang Papua dicaci maki, dicemooh, dimusuhi? Mengapa tidak marah kepada aparat negara yang menggiring pendatang rakyat sipil tidak berdosa bermain dalam bara api di Papua yang memang wilayah konflik.

Pernahkah kita tahu bahwa di Wamena, pusat kota dan di daerah lainnya HIV/AIDS berkembang cepat mengancam kepunahan bangsa Papua Melanesia, bukan karena wanita-wanita melayu penjajah seks komersial menjual diri di “lokalisasi” karena memang tidak ada lokalisasi, tetapi mereka bikin gubuk-gubuk kecil di kios-kios dan rumah makan pendatang, di rumah makan “mas mau makan apa, daging mentah atau masak” daging menta berdagang seks, daging masak artinya makanan.

Itulah ilustrasinya jika orang asli Papua makan.

Ketika terjadi aksi protes oleh orang Papua di pusat-pusat kota, aparat sering kali intai orang Papua dari rumah-rumah pendatang atau kios-kios dan rumah makan pendatang, seringkali memberondong peluru dari tempat-tempat ke arah orang Papua.

Sudah terlalu banyak orang Papua mati karena pola ini. Cara-cara ini disaksikan oleh orang Papua, memang Papua ini kota-kota kecil semua terjadi kasat mata, terang-benderang.

Tutur lisan menyebar seantero orang Papua dan modus-modus ini diketahui luas. Sekali lagi bukan pendatang, tetapi pendatang digiring aparat, mau tidak mau “manut” apalagi di wilayah konflik.

Namun salah satu kelakuan yang tidak elok dipertontonkan para pendatang adalah dikala konflik atau cek-cok mulut dengan orang Papua, para pendatang selalu meminta atau berlindung di balik laras senjata, mereka tidak menempuh jalur hukum, saya tidak pernah menemukan orang pendatang melapor atau mencari keadilan di pengadilan melawan orang Papua secara fair.

Judi togel di mana-mana di kota-kota, jual minuman keras dikelola pendatang dan dibekingi aparat.

Apakah kita pernah tahu bahwa daerah penambangan liar dikuasai pendatang, dibekingi aparat, jual minuman keras, narkotika bahkan prostitusi seperti di Degeuwo, Tembagapura, daerah Mamberamo dan lain-lain.

Aparat membekingi orang luar Papua untuk menguasai 3 sumber utama
milik orang Papua; 1) merampas sumber daya alam dengan melakukan penambangan liar (ilegal mining), pengambilan ikan secara liar dan pengambilan kayu secara ilegal. 2). Merampas sumber daya ekonomi orang Papua di seluruh pusat-pusat kota, distribusi barang dan jasa dikuasai pendatang, sumber-sumber ekonomi dikuasai. Kios, pasar, bahkan angkot dan ojek dikuasai pendatang.

3). Merampas hak politik rakyat Papua, perampasan hari ini sudah merambah ke dunia birokrasi dan politik. Pendatang terlalu haus kuasa, mau jadi Bupati, Wakil, DPR dengan cara sogok yang hambur uang sini, hambur uang sana Pemilu hari ini nyaris dikuasai pendatang. Ada kabupaten yang anggota DPR-nya nyaris 100% pendatang, ada kabupaten yang satu keluarga 7 orang DPRD.

Kalau 3 sumber kehidupan utama orang Papua dikuasai, maka apakah ada harapan hidup bagi orang Papua? Masa depan tentu sudah suram.

Apakah tahu bahwa kepala daerah dan pejabat di Papua tersandera dan disandera oleh kontraktor dan anak buahnya yang rata-rata pendatang. Kontraktor menggunakan aparat negara memuluskan proyek, bahkan pencairan terlebih dahulu sebelum proyek berjalan. Karena tekanan dan teror.

Bupati hampir dipastikan disandera kepala dinas yang anggarannya besar seperti PU dan keuangan, kerja sama dengan Polisi dan Jaksa teror kepala daerah dengan bukti penyalagunaan seakan akan Bupati bermasalah, ditunjukaan surat panggilan palsu, SPDP palsu, kepala daerah ketakutan sehingga selanjutnya hasil konspirasi merampok uang negara bermiliar-miliar.

Di seluruh Papua, auditor Badan Pemeriksa Keuangan datang atau didatangi pejabat daerah untuk menyogok agar BPK keluarkan sebuah surat yang bernama “telah selesai melakukan pemaksaan” sekali lagi surat itu bernama “telah selesa melakukan pemeriksaan”, padahal BPK tidak pernah periksa dan tidak pernah ada realisasi.

Akibatnya semua rakyat Papua ini heran kenapa hampir semua kabupaten di Papua tiap tahun dapat predikat WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) merampok uang rakyat dalam jumlah yang besar tanpa pembangunan fisik. Aktor Intelektualnya (gurunya) itu pejabat non-Papua.

Kalau boleh saya jujur “apa adanya”, maka rumah sakit di Papua sudah dicap sebagai “tempat kematian”, bukan tempat persemaian manusia, bukan tempat kehidupan, apalagi rumah sakit pemerintah termasuk milik kepoisian, sekarang rakyat Papua sudah mulai curiga rumah sakit swasta sekalipun milik gereja.

Orang Papua sangat takut ke rumah sakit, mereka lebih memilih pengobatan alami. Telah lama rumah sakit dicurigai orang Papua sebagai tempat pembersihan etnis Papua (etnic cleansing), rata-rata ibu muda yang pernah masuk rumah sakit saat hamil atau melahirkan selanjutnya tidak bisa melahirkan, ada juga ibu yang disuntik kesuburan tanpa persetujuan suami dan dirinya (mungkin ditanya saat mengalami kontraksi kesakitan saat melahirkan) sehingga tanpa sadar meng”iya” kan agar disuntik kesuburan.

Memang rata-rata tampilan fisik bangunan dan di dalam rumah sakit sangat “buluk” bahkan waktu saya dan Manager Nasution mantan Komnas HAM sekarang di LPSK melihat langsung air kran di rumah sakit dok 2, RS satu nomor 1 se-tanah Papua mati seminggu. Padahal air itu vital, air kehidupan tanpa air manusia pasti mati, apalagi di rumah sakit.

Memang di dunia ini tenaga medis dan para medis itu istimewa/mereka wakil tuhan di dunia, tetapi untuk Papua tentu penilaian berbeda.

Jangankan rumah sakit, orang Papua hari ini sudah kehilangan respek kepada romo, pendeta, apalagi kiai, telah lama suara kenabian hilang di tanah Papua Melanesia. Gereja menjadi alat penguasa, menjadi alat milik klik-klik misterius. Hambah tuhan yang membela orang Papua mati mendadak, di daerah pedalaman berhadapan dengan laras senjata.

Tidak ada hukum negara di Papua, tidak ada keadilan di hadapan hukum bagi orang Papua. Keadilan hanya berlaku bagi mereka yang pendatang, kecuali orang Papua membayar “sogok” hakim. Orang Papua yang pejabat begitu saja muda dan cepat dapat kuputusan pengadilan dan salinan keputusan hanya dalam hitungan hari, sementara orang Papua yang kecil dan miskin begitu sulitnya mendapat keadilan.

Hampir 58 tahun pengadilan menghukum orang non-Papua atau aparat kepolisian (belum pernah saya lihat dan baca dokumen) seorang anggota polisi yang dipenjara karena menyiksa dan membunuh di luar pengadilan (extra judicial killing) dan selalu mendapat sorotan dunia.

Semua rintihan, ratapan, kesedihan orang Papua terbungkam di kalbu rakyat Papua. Rakyat Papua tidak punya ruang ekspresi, media masa dibungkam menjadi alat propaganda penguasa dan pendatang. Organisasi masyarakat sipil dan partai politik sebagai instrumen artikulator kepentingan rakyat Papua terbungkam, kekebasan ekspresi terbatas.

Akibatnya apa yang terjadi hari ini adalah meledaknya puncak gunung es yang membeku begitu lama. Itu yang kurang dipahami negara dan rakyat Indonesia.

Bangsa (tokoh-tokoh nasional lintas suku dan agama) sepatutnya meminta negara untuk mencari solusi penyelesaian masalah Papua secara bermartabat dan lebih progresif, bukan memilnta represi militer di Papua.

Kalau meminta operasi militer, maka tidak perlu minta karena sudah 58 tahun operasi militer telah berlangsung, rakyat Papua saban hari hidup dalam ancaman di tanah tumpa darah mereka, yaitu tanah Papua milik bangsa Melanesia.

Saya harus jujur sampaikan bahwa kita ini 2 ras yang berbeda, yaitu Nas Negro Melanesia dan Ras Mongoloid Melayu. Ibarat minyak dan air, tidak akan pernah bisa bersatu kecuali kalau rasisme, Papua Phobia dan diskriminasi dihilangkan dari negara ini dan itu terasa tidak mungkin karena diskriminasi di negeri ini sudah terlalu akut. rmol news logo article


EDITOR: DIKI TRIANTO

OPM = Oras Papua Merdeka, Free Papua Movement, Free Papua Organisation

Explaining Previous Article on OPM

The article is entitled “OPM (Oras Papua Merdeka, Operasi Papua Merdeka, Organisasi Papua Merdeka atau Free Papua Movement?)“, written by a senior OPM personnel. This not was shared on the facebook.com, but we would hereby like to

Port Vila declaration: Seth J. Roemkorem & Hendrik J. Prai
Port Vila declaration: Seth J. Roemkorem & Jacob H.. Prai

Brief history of Free Papua Movement and OPM

This note ays that OPM was never been set up with Constitution, but only by wording, any organisations campaigning for West Papua independence is called organisation for Free West Papua, or Organisasi Papua Merdeka (henceforth OPM). There is no by-laws or legal product that ever been produced by anyone in the Free Papua Movement explaining about the “OPM”.

It is clearly a “public” wording, to name Wets Papua organisations, given by those who watch or monitor, or want to control or support any organisations campaigning for Wet Papua Independence.We can also say that it is a result of media naming for all organisations campaigning for West Papua independence as Organisations for Papua Merdeka (OPM). Politically speaking one can speculate that the name “OPM” was not created by West Papuans, but it was implanted by either foreigners, invisible hands or interest groups, outside of West Papuan peoples or organisations.

The only organisation that has by-laws (constitution) is the FPM (Free Papua Movement) and the Provisional / Transitional Revolutionary Government of the Republic of West Papua) with the constitution called Provisional Constitution of the Republic of West Papua.

It says clearly in the FPB bylaw that OPM )Organisasi Papua Merdeka) has never been established so far therefore, there is a need to establish FPM, which was formed on July 15, 1977.

In July 1, Constitution of the Provisional Government, there is no mention at all about the name OPM, or any other organisation at all.

Another important point to note is that both Provisional Revolutionary Government of TPN/ Marvic/ Roemkorem is still exist to this date, which according to Port Vila Declaration between Prai and Romekorem was assigned to handle the military campaigns of the Free Papa Movement. Whereas the PEMKA, de-facto party of Jacob Prai was assigned to deal with political matters to free West Papua.

The author’s legal perspective suggests that there is a need to reconcile, legally with political decisions by this generation to both implement the Port Vila Declaration with the history that we have created along our struggle, and at the same time not going back to the past but move forward with the current political breakthroughs and events evolving in this generation in order to not only legally maintain the constitutionalism of our movement but also to catch up with the current development and trends in order to win the battle.

Closing Note

1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army
1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army

On one hand, there is clearly an urgent need for all West Papuan independence fighters and organisations to be consistent and at the same time constitutionally rational in following up the struggle to free West Papua. There is a need to re-visit the history and re-position newly formed organisations within the context of our history.

On the other hand, all parties need to understand what is happening today as phenomenon that needs space and management to open the dialogues and consolidation.

One thing is obvious, we cannot undo all that have happened so far, but another thing is also clear, that we need to embrace all parties without forgetting the history of the struggle and legal aspects of all of our organisations and activities.

We are pro-longing our way into a free and independent West Papua, not the Malay-Indos.

ULMWP dan WPA, OPM dan TPNPB: Siapa Penghianat?

Sekilas Catatan

Tiga faksi besar yang bergerilya di rimbah hutan sudah bersatu (TPN, TRWP, dan TNP) dengan sebutan nama” West Papua Army”.

ULMWP secara resmi diumumkan oleh Jubir Eksekutif ULMWP “Tn. Yakob Rumbiak”, di Port-villa Vanuatu tepatnya di Kantor Pusat ULMWP.

Pesan Tuan Ketua Eksekutif ULMWP (Tn. Beni Wenda), menyampaikan: ” persatuan military hari ini sangat penting utk lobi kita di kancah International, kalau ada yang bergerak di luar dari Komando West Papua Army maka ULMWP tidak akan bertanggung jawab.

Sekilas Historical

Hari bersejarah 1 Juli 1971 adalah:

  1. Nama kabinet yang diproklamasikan dengan sebutan nama “Pemerintahan Sementara Revolusi West Papua”.
  2. Alat tawarnya adalah TPN, sebagai sayap militer.
  3. Sebutan nama TPN-OPM dan TPNPB adalah salah dan keliru besar dalam perjuangan generasi sekarang.
  4. OPM dibentuk pada tahun 1949, dan puncaknya tahun 1965 di Arfaik-Manokwari.
  5. OPM mempunyai sayap militer adalah Pasukan Kasuari dan Pasukan Mambruk.

Tesisnya adalah

Semua sejarahwan telah memberikan mandat kepada ULMWP untuk mengakhiri perjuangan bangsa Papua.

Kalau tidak mengikuti arahan ULMWP, maka sesungguhnya adalah pengkhianat dan musuh rakyat bangsa West Papua.

Waa,waa,waa!!!.

Catatan Admin WPArmy.info

Menurut catatan kami, penghianat bangsa Papua ialah orang asli Papua (OAP)

  1. Yang pernah berjuang untuk Papua Merdeka tetapi kemudian menyerahkan diri kepada NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia)
  2. Yang tidak pernah berjuang untuk Papua Merdeka tetapi mendukung NKRI di Tanah Papua, seperti kelompok Merah-Putih.

Apakah keduanya harus dimusuhi dan dibasmikan?

Jawabannya tidak, sama sekali tidak! Yang harus dimusuhi ialah NKRI dan penduduknya, NKRI dan antek-anteknya yang merugikan bangsa Papua, merampas hak kebangsaan Orang Asli Papua.

State Seal - the Federal Republic of West Papua
State Seal – the Federal Republic of West Papua
State Seal - the Republic of West Papua
State Seal – the Republic of West Papua
1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army
1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army

Perusak Papua Merdeka versi Cijje Pace Tanah Arto

NKRI HARGA MATI NAMA-NAMA SEBAGI BERIKUT.

1.Victor Yeimo
2.Sebby sambom
3.Yefry pagawak
4.Leoni Tanggahma
5 Lewis Prai Wellip
6.Warius warpo wetipo
7.Ogram wanimbo
8.Cheva Anam,ALIAS AGUS MABEL

8 orang ini yang pembunuh rakyat bangsa west papua rakyat harus tau.

Kalian telah menghina, merendahkan, mengucilkan martabat Tuan. Benny Wenda lewat Media International, Nasional, lokal dan juga di facebook dll.

Pertanyaan hari ini.

  • Apakah Benny Wenda ada membalas serangan kalian?

Sy pikir tidak dan beliau orang lemah yang tidak mampu membalas kehebatan kalian untuk itu berhenti menyerang orang lemah seperti Benny Wenda.

Yang kalian harus lawan adalah Indonesia dan bukan Benny Wenda.
Nama nama yang sudah terjantumkan diatas hanya hitungan orang saja rakyat bangsa west papua jangan tangkapi mereka, mereka ini di fasilitasi oleh neles tebay maka mereka kerja sama dengan badan inteljen negara BIN. kolonial indonesia maka rakyat jangan tangkapi mereka.

BIN BAIS MURAHAN DI PAPUA.

Perusak Papua Merdeka Versi Joko Kosay

Bikin rusak perjuangan bangsa Papua barat adalah sebagai berikut;

  • Matias Wenda
  • Yalpi yikwa
  • Sem karoba
  • Jhona Wenda
  • Jhontan tabuni
  • Erik walela
  • Fani Kogoya
  • Steven walela
  • Roy karoba
  • Bazoka logo
  • Mbinibaga
  • Delius tabuni
  • Gerson tabuni
  • Alius Komba
  • Janus wanimbo
  • Jack malle
  • Simeon surabut
  • Lukas walilo
  • Kris dogopia
  • Buktar tabuni
  • Vino basial
  • Alen halitopo
  • Simion dabi
  • Ice morib
  • Rahel togodli
  • Regi Wenda
  • Yeli lod Wenda
  • Habel nawipa
  • Yalime tabuni
  • Emison Wenda
  • Mar tabuni
  • Roky medlama
  • Melawan wantik
  • Calvin Wenda
  • Apolos sroyer
  • Apison karoba
  • Elly togodli
  • Mipas Wandikbo dkk.

Group” inilah yang merusak perjuangan dan menyebar berita HOAX. Sampai merusak nama baik tuan Benny Wenda.

Menciptakan konflik internal militer di markas Victoria lalu buatlah TRWP/ WPRA sampai kini buat semua tandingan organisasi sipil maupun militer di Papua yaitu ppk-nrwp dan ka-ulmwp.

West Papua army (WPA) hanya rubah nama dari West Papua revolution army (WPRA)

Agen- agen ini hanya beberapa kota namun hanya berkoar di medsos saja tidak ada bersama rakyat lalu jual beli isu internasional kepada rakyat suluruh teritorial West Papua serta pejabat orang Papua seluruh kabupaten kota di provinsi Papua dan Papua barat.

Beberapa pejabat pemerintah provinsi Papua dan Papua barat terjebak dalam group ini serta terutama sentral coffee arabica di Wamena di kelola oleh adiknya Sem karoba yaitu Selion Karoba.

Team work intelijen tpnpb sdh black-list nama komplotan penipu ini untuk di eksekusi mati.

Kami punya data dan bukti.

Catatan:

  1. Ketua panitia KLB WPA dan biro pertahanan ULMWP segera hapus tanda tangan palsu atas nama beberapa pimpinan militer TPNPB itu segera.
  2. Pimpinan ulmwp Segera bertanggung jawab atas janjikan palsu terhadap rakyat Papua untuk Referendum tahun ini.
  3. Jikalau poin 1 dan 2 tidak lakukan maka militer TPNPB akan eksekusi anak buah di lapangan dan atau kita ciptakan kudeta militer TPNPB dan TRWP WPA.
    Titik.

Mohon teruskan ke kawan2, group, WhatsApp, mesengger, Twitter jangan sampai korban’penipuan , entah ko gunung k, pantai k, timur k, barat k, Utara k, selatan, mohon ikuti langkah langkah perjuangan bangsa Papua barat yang benar.

Terima kasih atas dukungan dan kerjasama Tuhan Allah, tulang belulang akan menyertai kita dalam perjuangan kita.

Oleh: David Rumkorem (Bahasa Indonesia Joko Kosay mengatasnamakan David Romkorem)

GOLIATH TABUNI: TPN-PB Resmi Bergabung Dalam West Papua Army

West Papua Minggu 7 Juli 2019-8:30 WPB Gen, Goliaht Tabuni, Klarifikasi Kelaim Oknum Yang Mengatasnamakan TPN-PB.

Goliaht Tabuni,-Dalam KTT-ULMWP 2017 di Vanuatu, perwakilan militer West Papua yang hadir di sana adalah Sebby Sambom (TPNPB), Jefri Pagawak (OPM), Yona Wenda (TPNPB), Yalpi Yikwa (TRWP). Mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan pandangan politik. Dalam penyampaian pandangan politik, masing-masing memperkenalkan profile militer sembari mendesak kepada ULMWP untuk diakui.

Usulan atau rekomendasi mereka kepada ULMWP adalah memfasilitasi pertemuan Militer West Papua menuju Persatuan militer.

Rekomendasi itu diputuskan oleh pimpinan ULMWP dan merekomendasikan kepada Biro Pertahanan untuk mengkordinasikan semua markas pertahanan Biro Pertahanan ULMWP pun telah melakukan tugasnya untuk mengkoordinasikan kepada seluruh markas militer.

Semua markas telah menyatakan kesediaannya untuk siap menghadiri pertemuan seluruh militer yang difasilitasi atau dimediasi oleh ULMWP melalui Biro Pertahanan.

Wujud dari pada komitmen seluruh pertahanan itu, masing-masing markas telah mengutus dua-dua orang untuk menghadiri Pra Kongres Luar Biasa (Pra KLB).

Utusan masing-masing pertahanan inilah yang membentuk Panitia bersama, baik dari TPNPB, TRWP dan TNPB.

Panitia Penyelenggara bukan Biro Pertahanan ULMWP melainkan representasi dari TPNPB, TRWP dan TNPB.

Seusainya panitia mengeluarkan undangan KLB dan masing-masing Pertahanan mengirim peserta KLB disertai sumbangan untuk pelaksanaan KLB yang dibebankan Panitia.

Sejak Pra KLB hingga KLB-nya Panitia maupun Kepala Biro Pertahanan aktif membangun komunikasi dengan tn. Seby Sambom dan Jefri Pagawak Undangan pun sudah dikirim dan telah diterima oleh mereka.

Pertanyaannya mengapa mereka TIDAK HADIR? padahal merekalah yang mendesak kepada ULMWP untuk memfasilitasi pertemuan Militer.

Sekitar 500 an delegasi dari masing-masing Pertahanan yang hadir telah menyepakati dan memutuskan untuk bersatu dibawa nama West Papua Army atau Tentara West Papua.
Struktur komando tidak dileburkan atau disatukan Masing-masing struktur komando tetap ada tapi hanya membangun garis koordinasi dibawa ULMWP.

Demikian proses yang terjadi Mereka bukan membentuk struktur militer baru ULMWP tidak membentuk tentara baru Demikian sedikit penjelasan Semua ini terjadi karena pentingnya persatuan ULMWP sendiri, representasi dari semua organisasi Perjuangan yg berafiliasi dalam agenda maupun struktur Perjuangan Maka tidak bisa mengakui salah satu militer Langkah yang bisa ditempuh ULMWP demi mewujudkan persatuan militer sebagaimana proses yang berlangsung kemarin.

Sebelumnya, Juru bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB), Sebby Sambom mengatakan dia maupun TPNPB tidak terlibat dalam Kongres Luar Biasa I yang diselenggarakan oleh West Papua Army (WPA) seperti yang dikemukakan oleh Juru Bicara United Liberation Movement for West Papua, Jacob Rumbiak.

TPN-PB dan KNPB akan tunduk dibawah kontstitusi 61/71,tidak akan pernah keluar rill perjuangan

Sesuai Kongres Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat  (TPNPB) di biak ditetapkan bahwa Jendral GOLIATH TABUNI sebagai Panglima tertinggi TPNPB.

Minggu 7 Juli 2019-8:30 WPB Gen, Goliaht Tabuni, Menanggapi Terkait Pernyataan Sebby Sambom yang mengkelaim atas, klarifikasi Sewenang-wenang oknum dan kawan-kawa lainnya tentang penolakan west papua Army, yang bergabung dalam satu komando Militer West Papua Army, tidak kordinasi melalui lisan, maupun tulisan maka” saya secara pribadi Goliaht Tabuni, minta maaf sebesar-besarnya kepada seluruh pejuang maupun, rakyat bangsa papua dimanapun berada tambahnya.

Senin 1 Juli 2019 – 13:52 WIB

Gerakan United Liberation for West Papua (ULMWP) atau Serikat Pembebasan Papua Barat yang selama ini dicap pemerintah Indonesia sebagai kelompok separatis telah membentuk tentara baru. Dengan pembentukan tentara baru ini, ULMWP menolak label separatis dan penjahat oleh pemerintah Indonesia.

Pemimpin ULMWP, Benny Wenda, mengatakan untuk pertama kalinya tiga faksi yang selama ini melawan militer Indonesia telah bersatu membentuk pasukan baru di bawah satu komando.

Tentara baru itu diberi nama “West Papua Army (Tentara Papua Barat)”. Tentara baru itu dibentuk di bawah “Deklarasi Perbatasan Vanimo”.

Benny Wenda mengatakan pihaknya siap mengambil alih Papua dan menyerukan dukungan internasional dan domestik.

“Kami menyambut bantuan apa pun dalam membantu kami mencapai pembebasan kami. Indonesia tidak bisa lagi menstigmatisasi kami sebagai separatis atau penjahat, kami adalah negara kesatuan militer dan politik yang sah dalam penantian,” katanya dalam sebuah pernyataan, yang dikutip RNZ, Senin (1/7/2019).

Tiga faksi yang bersatu menjadi “Tentara Papua Barat” ini adalah Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB)—yang terlibat konflik berdarah dengan Tentara Nasional Indonesia (TNI) di Nduga—, Tentara Nasional Papua Barat dan Tentara Revolusi Papua Barat.

Sebelumnya, TPNPB blakblakan merekrut anak-anak remaja sebagai tentara untuk melawan militer Indonesia. Kelompok itu menyadari bahwa melibatkan anak-anak dalam konlik bersenjata adalah pelanggaran konvensi internasional, namun mereka mengklaim hal itu diperlukan dengan melihat perkembangan yang terjadi di Papua Barat.

Perekrutan anak-anak itu bahkan dipublikasikan sebagai bahan propaganda. TPNPB merilis foto yang menunjukkan anak-anak remaja mengenakan seragam ala militer dan menenteng senapan.

“Anak-anak ini secara otomatis menjadi pejuang dan penentang militer kolonial Indonesia,” kata Sebby Sambom, juru bicara TNPB.

Dia mengatakan sekitar selusin tentara anak berusia antara 15 dan 18 tahun saat ini berjuang untuk kelompoknya di berbagai daerah di Papua.

Sekian dan terima kasih atas perhatian, kiranya Allah Bangsa West Papua Memberkati kita semua AMIN.

SALAM PEMBEBASAN BANGSA PAPUA BARAT

TTD: WEST PAPUA ARMY, Gen, (Goliaht Tabuni)

Sumber: https://www.cenderawasih-pos.com/

Pdt. Dr. Socratez S.Yoman: “Tuhan Kutuk Orang-orang yang Melawan ULMWP

Kepada rakyat dan bangsa West Papua, kita berdoa supaya TUHAN turunkan kutuk, murka, malapetaka, tulah-tulah hukuman kepada orang-orang yang sedang melawan dan berusaha menghancurkan ULMWP “. 

JAYAPURA | Hal itu dikatakan oleh Ketua Umum Badan Pelayan Pusat, Persekutuan Gereja-Gereja Baptis Papua (BPP-PGBP), Pdt. Dr. Socratez Sofyan Yoman melalui status di Facebook, pada hari Jumaat (14/9/2018). Socratez mengatakan, mereka yang melawan United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) adalah musuh terjahat yang sedang berkeliaran. Menurutnya, mereka itu sedang bekerja sama dengan Iblis dan kolonial Indonesia, kemudian sedang bersenang-senang diatas penderitaan yang sedang dialami oleh rakyat Papua. 

“Orang-orang yang sedang melawan ULMWP ialah musuh terjahat dan mereka kerja sama dengan Iblis. Mereka sedang menari-menari dan berdansa atas penderitaan, tetesan air mata, cucuran darah dan tulang-belulang umat TUHAN yang dibantai bangsa kolonial Indonesia,”

ulis Dr. Yoman.

Gembala yang kini sedang memimpin di PGBP itu menyatakan, mereka yang melawan ULMWP itu sedang menyuburkan dan memperpanjang penderitaan umat Tuhan di Papua.

(Baca: Agustinus Aud : KNPB akan Bubarkan ULMWP)

Dr. Yoman meyakini bahwa, orang-orang yang melawan ULMWP itu, mereka telah menjadi perpanjangan tangan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) untuk menjalankan aktivitas kolonial Indonesia di Papua, sehingga dirinya mengajak kepada rakyat Papua untuk berdoa, agar Tuhan mengutuk mereka. 

“Orang-orang yang lawan ULMWP adalah sepertinya orang-orang yang sudah menjadi kaki tangan NKRI/bangsa kolonial. Sekali lagi, kami berdoa supaya orang-orang ini dikutuk dan dimurkai TUHAN,”

tegas Gembala dalam tulisan singkatnya.

Gembala Dr. Socratez S.Yoman mengajak kepada semua umat Tuhan, agar tetap mendukung ULMWP untuk kemerdekaan Papua

“Mari, kita dukung 100% lahir dan batin ULMWP. ULMWP milik rakyat dan bangsa West Papua.” kata Yoman.

(Baca: Warpo Wetipo, KNPB Bersama Rakyat Tolak Aksi ULMWP di Jayapura Source: https://www.cenderawasih-pos.com/

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started