Gen. WPRA Amunggut Tabi: Semua Komando Wajib Bersatu di dalam WPA

Dari Markas Pusat Pertahanan, Kantor Sekretariat-Jenderal West Papua Army (WPA), Gen. Amunggut Tabi menyerukan kepada semua panglima Komando dan Komandan Gerilyawan Papua Merdeka dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB), Tentara Nasional Papua Barat (TNPB) dan Tentara Revolusi West Papua (TRWP) untuk bersatu-padu membangun organisasi dan profesionalisme West Papua Army (WAP) di bawah Komando Panglima WPA Chief General Mathias Wenda.

Sebagai lembaga profesional yang telah berdiri dan bergerak berpuluh-puluh tahun, jauh sebelum kelahiran organisasi politik United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) dan Pemerintahan Sementara West Papua, maka kami menghimbau kepada semua Komando agar mempesatukan diri dan menyusub barisan.

Dalam militer kita hanya mengenal komunikasi satu arah, yaitu dari Panglima ke bawahan, tanpa pertanyaan, tanpa ragu-ragu, apalagi tidak ada bantahan. Karena pertanyaan dan bantahakan adalah periaku politisi dan politikus, yang tidak terdapat di dalam DNA militer di manapun di seluruh dunia.

Selain itu sejak pengangkatan Panglima Komando WPA tanggal 1 Mei 2021, maka siapa saja dan di mana saja kita berada, yang merasa diri Tentara yang berjuang untuk Papua Merdeka wajib menyatukan barusan, dan melakukan persiapan-persiapan untuk mengikuti dan tunduk kepada perintah serta Disiplin Militer West Papua Army.

Selaku penanggungjawab administrasi organisasi militer Papua Merdeka, kami serukan kepada semua panglima Komando TPN PB, TNWP dan TRWP untuk

  1. Mendata dan melaporkan semua Struktur Komando
  2. Mendata dan melaporkan daftar nama Pasukan, lengkap dengan pangkat dan Batallion Registry Number (BRN);

Mengingat dengan segera perlu dilakukan penyesuaian dalam rangka percepatan Pembentukan Badan Pertahanan dan Keamanan Pemerintahan Sementara West Papua, sebagai pelaksanaan mandat Undang-Undan Dasar (UUD) ULMWP 2020 yang telah ditindak-lanjuti dengan Instruksi Presiden Nomor 1/2021 tentang Percepatan Pembentukan Badan Pertahanan dan Keamanan.

Segala-sesuatu terkait dengan West Papua Army dapat dikomunikasikan ke Sekretariat-Jenderal WPA di army@westpapua.army

Dikeluarkan di: Markas Pusat Pertahanan
pada tanggal: 13 Mei 2021

Sekretaris-Jenderal,

Amunggut Tabi, Gen. WPA
BRN: A.DF 018676

Press Release: West Papuan Provisional Government forms cabinet and departments in blow to Indonesian rule

The Provisional Government of West Papua has announced the formation of a full cabinet commanding 12 government departments throughout the country. The newly-created departments, ranging from Green State Policy to Defense, deepen the challenge to Indonesia’s illegal occupation of West Papua.

After announcing the formation of the Provisional Government on December 1, 2020, the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) has been building up governance capacities inside the colonised territory. The latest move comes after President Jokowi ordered a ‘crackdown’ in West Papua in response to the killing of an Indonesian intelligence chief.

A number of prominent West Papuans inside the country have been appointed to the cabinet, led by Interim President Benny Wenda and the Interim Prime Minister. The ministers will cover the following portfolios:

  • Department of Foreign Affairs
  • Department of Environment and Green State Policy
  • Department of Home Affairs
  • Department of Rights of All Beings and Justice
  • Department of Political Affairs
  • Department of Indonesia Affairs
  • Department of Melanesia Affairs
  • Department of Women Affairs
  • Department of Social and Cultural Affairs
  • Department of Police
  • Department of Defense
  • Department of Finance

Due to the intense political repression of the Indonesian regime, the names of the cabinet ministers are not being released. The departments are working underground in West Papua to undermine Indonesian rule from the inside. The Department of Foreign Affairs will command the ULMWP’s network of diplomatic missions across the world, including the EU, UK, US and Pacific.

The Department of Defense will command the united West Papua Army. The military commanders will include:

  • Supreme Commander Chief General Mathias Wenda
  • Deputy Supreme Commander General Goliat Tabuni
  • Chief of Staff Colonel Amos Sorondany
  • First Deputy Chief of Staff General Titus Murib
  • Second Deputy Chief of Staff General Brigen Fredinand Warobay
  • Third Deputy Chief of Staff General Abubakarak Omawi Wenda
  • Fourth Deputy Chief of Staff Mayor General Terianus Satto

The commanders today announce their commitment to operating within international humanitarian law and the laws of armed conflict, and their support for a peaceful approach to resolving the conflict.

The announcement comes on May 1, the anniversary of the Indonesian invasion of West Papua in 1963, commemorated annually by the West Papuan people.

Interim President Wenda said: ‘On the 58th anniversary of the illegal Indonesian invasion of our country, we take another step towards reclaiming our homeland. We are forming the world’s first Green State, able to protect the rights and life of all beings in place of an Indonesian occupation that has murdered hundreds of thousands of my people. Human rights and climate justice will be at the heart of our Provisional Government.’

Find full statement by Interim President Wenda on the announcement here.

Source: ULMWP

UUDS Menjamin Semua Prajurit Papua Merdeka sebagai Kombatan Kemerdekaan, …

Kami bukan KSB! Kami bukan teroris! Dan kami sama sekali bukan separatis! Kami adalah kombatan atau pejuang yang memiliki status hukum sebagai seseorang yang memiliki hak untuk terlibat dalam peperangan selama konflik bersenjata internasional.

Kami membela tanah leluhur yang diinvasi, dirampok dan dicuri oleh pencuri, penjarah dan perampok. Kami bukan pengacau tetapi kami mengusir pengacau. Kami bukan separatis tetapi kami mengusir separatis. Dengan status pemerintahan sementara berdasarkan UUDS yang telah disahkan, maka segala kegiatan West Papua Army di Wilayah Hukum West Papua ialah sah demi hukum dan kami bertindak melindungi tanah leluhur kami.

“Ingat, kami tidak mengatakan tanah air, tetapi kami katakan tanah leluhur. Yaitu tanah warisan nenek-moyang kami, bukan tanah rampasan, bukan tanah pendudukan. Kami tidak berniat mencuri tanah orang lain seperti yang dilakukan penjajah di manapun di dunia, seperti nyata hari ini lewat NKRI.”

demikian kata Amunggut Tabi, Gen. WPA

Dengan deklarasi UUDS dan disusul pengumuman pemerintahan sementara ini, maka telah menjadi tugas yang melekat bagi West Papua Army dan West Papua Police sebagai kekuatan pertahanan dan keamanan, keuatan penegakkan hukum dan pertahanan wilayah kekuasaan untuk bertindak dalam rangka mengamankan tanah Papua dan bangsa Papua dari berbagai pelanggaran, perampokan, pencurian, penjarahan yang dilakukan NKRI.

Bangsa Papua telah lama “paralized” sehingga tidak mampu berpikir dan bertindak secara konstitusional. Telah memakan waktu lebih dari setengah abad untuk tiba pada tingkatan perjuangan berdasarkan Undang-Undang, meng-upgrade perjuangan ini menjadi perjuangan yang modern dan bermartabat.

Nurani manusia dan dunia telah menilai siapa sebenarnya pembela kebenaran dan hak asasi manusia di Tanah Papua, karena mereka telah tahu Indonesia ada di Tanah Papua untuk menduduki, mencuri, menjarah dan merampok tanah Papua dan kekayaan alamnya; dan pada waktu yang sama menginjak-injak, merendahkan, mengacaukan dan membinasakan manusia Papua. Era itu telah berakhir per tanggal 18 Oktober 2020 saat UUDS disahkan, dan 1 Desember 2020 saat pemerintahan sementara Republik West Papua diumumkan.

demikian kata Amunggut Tabi, Gen. WPA

Dengan bergabung ke Weest Papua Army, maka kita sebagai pejuang pasti disebut sebagai “kombatan”, yang berhak membela diri dalam rangke memperjuangkan pembebasan tanah dan bangsa Papua, dalam rangka mengusir NKRI dari tanah pendudukan: Wilayah Republik West Papua.

Gen. A. Tabi: No More Unconstitutional Moves

From the Central Headquarters of the West Papua Revolutionary Army (WPRA), in the names of God Almighty, in the name of Jesus Christ, the Most High Commander in Chief of World Revolutions at all times, in the name of the Holy Spirit that gives us wisdom, knowledge and power, Gen. WPRA Amunggut Tabi invited all Melanesians from and in West Papua to celebrate 1 December 2020 as the historic National Awakening Day for West Papua as a collective entity called Papuan people, West Papua nation-state and New Guinea crown pigeon as our national state emblem.

“West Papua independence movement has already legalized a provisional constitution to rule above all interests and this law is the supreme commander of all independence movements and organisations. The Legislative Council of the United Liberation Movement for Wet Papua (ULMWP) has passed the Provisional Constitution in October 2020.

We have now entered into a new era of our independence movement: organised, unified, modern and constitutional government that leads our independence movement.

No more factionalism! No more stigma of separatists! No more branding of illegal groups or trouble-makers! No more law-breakers! It is time now to call Indonesia and her troops as illegal, trouble-makers and illegitimate representation of our Melanesian will and aspirations.

West Papua Army is now a legal combat troops to free a colonised territory of West Papua and hear peoples.

Let us unite as a people, with one goal: to free West Papua, to free Indonesia, to free Melanesia, to free the world from colonialism and from environmental crises.

says Gen. WPRA Amunggut Tabi, one of the Commands of WPA

The isle of New Guinea has the answer to global environmental problems. We Melanesians in West Papua have the legitimate experience and knowledge to contribute to the world.

December 1st, 1961 is the day where our national flag, national anthem and state emblem were officially installed, recognised by the colonial governments of both the Netherlands and Australia.

We invite all Melanesians in West Papua and from West Papua, to act according to the rule of law, subdue ourselves, our differences and our struggle to the constitution, set aside our differences, unite ourselves with one spirit: One People – One Soul!

All the praise, worship and honour to Him only! Let us surrender to His Plan, His Power and His Protection!

Issued at Central Defense Headquarters,
On date: 30 November 2020
————————————————————–

Signed

Amunggut Tabi, Gen. WPRA,
BRN: A.DF 018676

Gen. WPRA Amunggut Tabi: WPA Fokus Satu Arah, Satu Bidikan: NKRI

Menanggapi berbagai kritikan atas langkah ULMWP mensahkan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Negara Republik West Papua (NRWP), di mana para perwira yang ada di rimba New Guinea memberikan ancaman dan teguran kepada ULMWP dan gerilyawan yang bersatu dengan ULMWP dalam West Papua Army (WPA), Gen. Tabi menanggapi dan mengatakan,

Kita ini orang Kristen. Ayah dan ibu kita orang Kristen. Kita dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa Kristen. Kita dibesarkan dan menjadi pemimpin dengan bimbingan Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa bernama Yesus Kristus, Tuhan, Raja, Hakim Mahaagung dan Raja Damai”.

Agama Kristen tidak mengajarkan semua yang dipertanyakan. Semua ancaman, semua benci-membenci, semua teror, itu ajaran terorisme ada dalam agama apa? Ada dalam budaya siapa? Ada dalam realitas kehidupan bangsa mana?

Melanesia tidak! West Papua tidak! orang Kristen tidak!

Jadi, kami di Markas Pertahanan Tentara West Papua, bersama Panglima Komando WPA saat ini tidak mempermasalahkan dan tidak pernah menyalahkan siapa-siapapun, anak-anak Papua itu aset bangsa jadi kami tidak perlu menyalahkan apalagi mengancam mereka. Itu akan menghibur penjajah dan mereka akan bersujud-sembah melihat kita saling memarahi, apalagi memusuhi.

Ajaran agama Kristen, kita sebagai orang Kristen diajarkan (1) “Kasih” kepada Allah, dan (3) kasih kepada sesama manusia seperti (2) kasih kepada diri sendiri. Itu rumus matematika absolute, tidak dapat diganggu-gugat. Jadi, kalau ada yang menebarkan kebencian dan kata-kata yang memecah-belah, maka kita doakan dan kita ampuni, kita doakan agar Roh Kudus menjamah hati mereka, pikiran mereka, roh mereka.

Geenral Amunggut Tabi melanjutkan bahwa bilamana ada suara-suara kebenciran, serangan-serangan kepada pribadi kita atau kepada organisasi orang Papua, maka itu harus dilihat dalam satu kerangka, yaitu kerangka perjuangan Papua Merdeka. Dalam kerangka itu, maka yang tidak senang dan yang memusuhi perjuangan itu juga hanya satu pihak, yaitu NKRI, dan satu orang yaitu orang Indonesia.

Tidak ada satupun orang Papua yang sepenuhnya dan sesungguhnya mencintai NKRI. Dasar cintanya apa?

Gen. Tabi melanjutkan bahwa kita mencitai semua orang di dunia, termasuk orang Papua dan orang Indonesia, akan tetapi kita menentang NKRI, karena NKRI itu kerajaan iblis yang nyata hari ini.

Negara Kesatuan Republik Iblis (NKRI) adalah negara modern milik pribadi ibilis yang berasaskan ketamakan oleh keakuan dan ketakutan, kebencian oleh karena keakuan yang penuh nafsu dan kekerasan yang dipicu oleh ketakutan, lantaran tida percaya kepada diri sendiri dan kepada sesama.

NKRI identik dusta, NKRI identik dengen pecah-belah. NKRI identik dengan kebencian. NKRI identik dengan teror dan intimidasi, pembunuhan orang Papua, yang adalah manusia ciptaan Allah menurut rupa dan gambar Allah. Siapa yang mengancam, meneror dan merusak gambar Allah, ia akan dirusak oleh Allah sebagai pemilik rupa dan gambar itu sendiri.

Yang harus dilakukan ULMWP dan WPA ialah menabur kasih, membesarkan kasih dan menebar kasih dengan kepada semua orang, baik orang Papua maupun orang Indonesia. Orang Indonesia harus diselamatkan kepada Yesus Kristus, dan orang Kristen Papua bertanggung-jawab untuk itu. Caranya ialah pertama-tama melepaskan West Papua dari cengkeraman NKRI, lalu orang Papua akan bebas bergerak menyebarkan sayap penginjilan dibiayai dengan uang negara untuk menginjili dan meng-Kristen-kan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Iblis, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari Sumatera sampai Bali.

Chief Gen. WPA Mathias Wenda: Syukur Bagimu! Tuhan untuk UUDS NRWP

Tentara West Papua (West Papua Army)

Syukur bagi-Mu Tuhan!

Upacara Ucapan Syukur dan Peresmian MPP WPA

Pada hari ini, dari Markas Pusat Pertahanan Tentara West Papua (West Papua Army), Panglima Komando WPA Chief General Mathias Wenda, dengan ini menaikkan pujian hormat bagi nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus atas campur-tangan Allah dalam perjuangan bangsa Papua untuk melepaskan diri dari belenggu kaki-tangan iblis bernama: Indonesia (Negara Kafir Republik Indonesia – NKRI).

Menyambut mujizat karya Allah yang telah nyata lewat pengesahan Undang-Undang Dasar Sementara Negara Republik West Pada pukul 3.00 AM (dinihari) tanggal 18 Oktober 2020 bertempat di tempat Sidang Komite Legislatif ULMWP (United Liberation Movement for West Papua), Port Numbay, West Papua, maka pada hari ini diselenggarakan:
Acara: Pengucapan Syukur atas Pengesahan UUDS NRWP
Tempat: Markas Pusat Pertahanan WPA
Ketiatan: 1. Ibadah Syukur
2. Pidato Panglima WPA Chief Gen. Mathias Wenda
3. Tarian Adat Papua

Selaku Panglima Komando Tentara West Papua menyampaikan “SELAMAT” kepada bangsa Papua, dan kepada para pejuang Papua Merdeka, bahwa saat ini

  1. Tanah Papua,
  2. Orang Papua,
  3. Alam Papua,
  4. Roh Melanesia,
  5. Tumbuhan New Guinea,
  6. Benda-Benda Alam New Guinea, dan
  7. Bentang Alam New Guinea

di atas semuanya

  1. para pahlawan yang telah gugur di medan perjuangan, dan
  2. para anak-cucu yang akan lahir ke pulau New GUinea.

menaikkan hormat, puji-pujian dan kemuliaan bagi nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus!

Biarlah semua makhluk bersyukur, memuji dan memuliakan Allah.
Biarlah bangsa Papua merayakan, menaikkan puji-pujian dan tari-tarian bagi Tritunggal Allah di dalam Tuhan Yesus Kristus, Panglima Revolsui Mahatinggi Semesta Alam sepanjang masa.
Biarlah bangsa Papua bergerak saat ini untuk memberkati bangsa-bangsa di manapun mereka berada.

———————————————————————————

Dikeluarkan : Markas Pusat Pertahanan Tentara West Papua
Pada Tgl : 20 Oktober 2020

Panglima Komando Tentara West Papua

Signed

Mathias Wenda, Cheif.Gen. WPA
BRN. A DF 00107676

Gen. WPRA Amunggut Tabi: Why Does the ULMWP Let West Papua Army with No Commander for over 12 Months?

Gen. WPRA Amunggut Tabi has questioned the United Liberation Movement for West Papua (ULWMP) for not announcing the Commander in Chief of the military command that has been formed almost two years ago in the WPRA (West Papua Revolutionary Army) Headquarters in Yako Village, Sandaun Province, the independent State of Papua New Guinea.

He says the delay in announcing the commander in chief has shown to the world that the ULMWP is playing with the suffering and struggles of all Melanesians in West Papua.

Melanesians in West Papua are being terrorized, oppressed, imprisoned and arrested arbitrarily, and even killed, almost on the daily basis. West Papua Army should be responsible to organize guerrilla warfare against the human rights violations in West Papua, but it has been paralyzed and imprisoned, cannot do anything other than waiting for the ULMWP to announce the commander-in-chief and organisational structure with the constitution that legalizes and protects its military campaigns.

Gen. Tabi argues that if the ULMWP believes that military campaign is important for any independence movement in the world, then it would have announced the commander right on the spot, when they were holding the meeting. But they are playing politics, that is why it is taking more than 12 months to announce it.

After the ULMWP Summit for military wing, the ULMWP announced to the world that a military wing was formed from various military commands and united under the ULMWP However it never announced the commander of the united military command.

Why?

There are three possible answers:

  1. Answer number one : the ULMWP does not believe military campaign will solve the problem. It focuses more on political campaign and by diplomacy only Indonesia will end its control over West Papua. ULMWP believes that only by becoming the MSG member, by pushing the MSG and PIF leaders that will allow Indonesia to surrender.
  2. Answer number two: the ULMWP does not know what to do with the outcome of the Summit almost two years ago. The ULMWP does not understand how important it is to make the military command and military commander clear, because West Papua is still struggling for independence.
  3. Answer number three: the Indonesian secret agents have infiltrated into the ULMWP and the ULMWP is now under full control of the Indonesian agents.

There are many more possible answers, but Gen. Tabi says these three possible answers can help us to act or react as we progress from time to time.

We must stop thinking that ULMWP will finally free West Papua. From what it is doing so far, one can easily raise suspicion on its conduct. Only God is the omnipotent that can free us from any kinds and forms of colonialism, Jesus is the Only Peson on earth that says “I am the Way, I am the Truth and I am the Life”, He is the Most High Revolutionary Commander of all times, only the Holy Spirit has the power and can change the history on earth.We must pray more, surrender more and more to God.

West Papua Revolutionary Army is waiting to see if the ULMWP is serious about a free and independent West Papua, whether or not the ULMWP regards military command and military structure is crucial in an independent campaign against mighty militaristic government of Indonesia. If not, the Commander in Chief of the WPRA, Gen. WPRA Mathias Wenda is ready to take control of the overall independence movement.

May 1st Declaration of the Formation of West Papua Army (WPA)

The ULMWP Announced the formation of WPA on July 1st, 2019

Be known to the world that a United Military Command for a Free and independent Nation-State of the Republic of West Papua has been form on May 1, 2019 that we call the May 1 Declaration of West Papuan Peoples.

— Oscar Wilde.

This announcement was made by the Spokesperson of the United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) Dr. Jacob Rumbiak in Australia.

West Papua Army was formed after a series of Extraordinary Summits held among the High Ranking Officials of the West Papua Revolutionary Army (WPRA), the armed wing of Free West Papua Campaign, West Papua National Liberation Army – Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPN PB) – Organisasi Papua Merdeka (OPM) and West Papua National Army – Tentara Nasoinal Papua Barat (TNPB) of the Federal Republic of West Papua.

The Summit was held at Yako Village, nearby Vanimo Town, Sandaun or West Sepik Province of the Independent State of Papua New Guinea.

MPP West Papua Army: Terimakasih dan Selamat

MARKAS PUSAT PERTAHANAN
WEST PAPUA ARMY

MENYAMPAIKAN

Pujilah.Nama Allah, Moyang Bangsa Papua, Bangs Melanesia atas dianugrahi Penghargaan Noble Freedom of Oxford kepada Tn. Benny Wenda selaku Pemimpin Bangsa Papua.

Kami ucapkan banyak Terima Kasih kepada
Pemerintah Kerajaan United Kingdom atas kepercayaan yang diberikan kepada Bangsa Papua melalui Penyerahan ” Noble FREEDOM OF OXFORD” Kepada pemimpin Bangsa Papua, TN. Benny Wenda.

Doa dan Harapan kami, Berdasarkan Pemberian Penghargaan ini langkah-langkah kemajuan political akan meningkat di negara-negara bagian di kepulauan Pacific.

Doa, darah Dan air mata kami selalu menyertaimu, Amin.

Hormat Kami,
Markas Besar WPA, Wutung, Border 18/7/2019
Salam Satu Komando.
W P A.

Taripura YikwaInak.10

ULMWP Port Moresby and WPRRA Congratulates
ULMWP Port Moresby and WPRRA Congratulates

ULMWP dan WPA, OPM dan TPNPB: Siapa Penghianat?

Sekilas Catatan

Tiga faksi besar yang bergerilya di rimbah hutan sudah bersatu (TPN, TRWP, dan TNP) dengan sebutan nama” West Papua Army”.

ULMWP secara resmi diumumkan oleh Jubir Eksekutif ULMWP “Tn. Yakob Rumbiak”, di Port-villa Vanuatu tepatnya di Kantor Pusat ULMWP.

Pesan Tuan Ketua Eksekutif ULMWP (Tn. Beni Wenda), menyampaikan: ” persatuan military hari ini sangat penting utk lobi kita di kancah International, kalau ada yang bergerak di luar dari Komando West Papua Army maka ULMWP tidak akan bertanggung jawab.

Sekilas Historical

Hari bersejarah 1 Juli 1971 adalah:

  1. Nama kabinet yang diproklamasikan dengan sebutan nama “Pemerintahan Sementara Revolusi West Papua”.
  2. Alat tawarnya adalah TPN, sebagai sayap militer.
  3. Sebutan nama TPN-OPM dan TPNPB adalah salah dan keliru besar dalam perjuangan generasi sekarang.
  4. OPM dibentuk pada tahun 1949, dan puncaknya tahun 1965 di Arfaik-Manokwari.
  5. OPM mempunyai sayap militer adalah Pasukan Kasuari dan Pasukan Mambruk.

Tesisnya adalah

Semua sejarahwan telah memberikan mandat kepada ULMWP untuk mengakhiri perjuangan bangsa Papua.

Kalau tidak mengikuti arahan ULMWP, maka sesungguhnya adalah pengkhianat dan musuh rakyat bangsa West Papua.

Waa,waa,waa!!!.

Catatan Admin WPArmy.info

Menurut catatan kami, penghianat bangsa Papua ialah orang asli Papua (OAP)

  1. Yang pernah berjuang untuk Papua Merdeka tetapi kemudian menyerahkan diri kepada NKRI (Negara Kolonial Republik Indonesia)
  2. Yang tidak pernah berjuang untuk Papua Merdeka tetapi mendukung NKRI di Tanah Papua, seperti kelompok Merah-Putih.

Apakah keduanya harus dimusuhi dan dibasmikan?

Jawabannya tidak, sama sekali tidak! Yang harus dimusuhi ialah NKRI dan penduduknya, NKRI dan antek-anteknya yang merugikan bangsa Papua, merampas hak kebangsaan Orang Asli Papua.

State Seal - the Federal Republic of West Papua
State Seal – the Federal Republic of West Papua
State Seal - the Republic of West Papua
State Seal – the Republic of West Papua
1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army
1 Mai 2019, Deklarasi West Papua Army

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Create your website with WordPress.com
Get started
%d bloggers like this: