Blog Feed

Operasi Media Sosial Kembali Terdeteksi Berusaha Mengalihkan Isu Papua Merdeka

Oleh Farid M. Ibrahim

Operasi media sosial untuk menenggelamkan isu Papua Merdeka kembali gencar dilakukan melalui akun-akun palsu yang berhasil dideteksi oleh Bellingcat, suatu organisasi investigasi data online. (Supplied: Bellingcat)

Ratusan akun media sosial terdeteksi menyerang wacana Papua Merdeka secara daring dengan modus menggunakan foto profil palsu dan berbahasa Belanda dan Jerman dalam menyebarkan pesan-pesan yang mendukung otonomi khusus.

Temuan terbaru ini dipaparkan oleh Benjamin Strick, peneliti Open Source, melalui situs website Bellingcat, sebuah organisasi kolaborasi peneliti, penyelidik dan jurnalis warga yang tersebar di lebih dari 20 negara.

“Operasi media sosial ini belum bisa kami kaitkan kepada suatu pihak, karena hal itu merupakan aspek paling sulit dalam investigasi kami,” ujar Benjamin ketika dihubungi, Selasa (17/11/2020).

“Namun satu hal yang bisa saya pastikan yaitu adanya jejak dari jaringan ini, misalnya desain grafis video di YouTube, infografis di Facebook, dan gambar di Twitter, kesemuanya memiliki kesamaan desain dengan apa yang kami temukan tahun lalu,” jelasnya kepada Farid M. Ibrahim dari ABC Indonesia.

Konten video yang disebarkan oleh akun palsu di media sosial yang ditemukan peneliti Bellingcat. (Supplied)

Ia menjelaskan temuan Bellingcat tahun lalu berhasil mengumpulkan cukup bukti melalui data publik, untuk menghubungkan jaringan ini dengan InsightID yang mengklaim diri sebagai perusahaan marketing di Indonesia.

Menurut Benjamin, jaringan yang melakukan operasi medsos tahun lalu menargetkan para aktivis HAM dan menyuarakan propaganda Indonesia tentang Papua Barat.

ABC Indonesia telah mencoba menghubungi pihak InsightID.

Namun tahun lalu, media Jakarta Post menerima surat elektronik dari kelompok yang mengaku sebagai InsightID.

Mereka menyatakan diri sebagai “gerakan nasionalis yang terdiri atas praktisi komunikasi dan profesional”.

Kepada Jakarta Post, kelompok ini mengaku “prihatin dengan disinformasi masif dan bias yang dilakukan separatis Papua Merdeka pimpinan Benny Wenda dengan mempolitisasi dan memanipulasi isu kemanusiaan dan konflik di Papua demi kepentingan politiknya”.

Penyebutan InsightID juga dilakukan oleh pihak Facebook sendiri ketika mengambil tindakan terhadap puluhan akun palsu yang menyebarkan konten tentang West Papua.

Saat itu, Facebook mengumumkan telah menghapus 69 akun FB palsu, 42 laman FB, serta 34 akun Instagram karena “perilaku palsu yang terkoordinasi” terkait isu West Papua.

Investigasi Facebook saat itu menemukan kaitan dengan pihak yang menamakan diri InsightID, yang menurut Facebook telah membelanjakan iklan di Facebook setara dengan 300 ribu dolar.

Kelompok ini telah membantah keterangan Facebook mengenai iklan Facebook tersebut.

Lebih menargetkan audiens berbahasa Belanda dan Jerman?

Menurut Benjamin, temuan akun-akun palsu kali ini masih baru dan dampaknya pun minimal.

“Jaringan ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan operasi tahun lalu,” katanya. “Kontennya pun termasuk baru.”

Lewat penelusuran metrik media sosial jaringan, Benjamin menemukan terbatasnya interaksi manusia.

Kebanyakan akun-akun ini, katanya, berinteraksi dengan sesama akun palsu lainnya mengenai Papua Barat dan kurang melakukan dialog dengan akun medsos seseorang yang nyata.

Padahal, menurut Benjamin, sumber daya yang digunakan untuk membuat konten berupa video, infograifs dan postingan unik lainnya sangat besar serta butuh waktu.

“Yang perlu diingat bahwa, isu Papua Merdeka tidak diliput secara luas jika dibandingkan dengan konflik lainnya di dunia, serta tak populer sebagai isu internasional,” katanya.

“Sehingga apa yang dilakukan jaringan ini yaitu menarget perhatian tatanan internasional dengan menggunakan nama, wajah dan bahasa orang Barat,” jelas Benjamin.

“Mungkin ada hubungan yang bisa dilihat di situ, misalnya karena kebetulan hubungan sejarah antara West Papua dan Belanda atau keberadaan Mahkamah Internasional di Belanda,” jelasnya.

Benjamin mengatakan, dengan mengamati akun-akun dalam jaringan ini, misalnya yang menggunakan profil sebagai “jurnalis Australia”, atau yang mengaku tinggal di Den Hag, terlihat adanya upaya terkonsentrasi untuk mempengaruhi narasi masyarakat dunia tentang kemerdekaan Papua Barat.

“Satu kesamaan nyata dari jaringan ini dengan jaringan yang kami ungkap tahun 2019 yaitu sama-sama menarget masyarakat internasional melalui iklan di Facebook,” katanya.

“Iklan-iklan (di FB) tersebut menarget Inggris, Belanda dan Jerman, sehingga operasi mengalihkan isu Papua Merdeka ini tampaknya menyasar masyarakat internasional, yaitu Uni Eropa dan Belanda khususnya,” ujar Benjamin.

Melaporkannya ke perusahaan jejaring sosial

Bellingcat mengidentifikasi jaringan terbaru yang terkait isu Papua Merdeka ini di Twitter dengan memantau tagar #WestPaoua dan #PapuanLivesMatter.

Salah satu teknik mengidentifikasi foto-foto palsu melalui GAN, yaitu dengan mengamati posisi bagian mata. (Supplied)

Dikatakan, Bellingcat tak butuh waktu lama untuk menemukan sejumlah akun yang pengikutnya hanya beberapa orang, yang menyebar tagar ini dengan memberikan tautan ke beberapa situs website yang sama.

“Kebanyakan akun Twitter dibuat pada Juni, Juli dan Agustus 2020. Salah satu tanda adanya operasi semacam ini yaitu ditemukannya akun-akun serupa dengan hanya beberapa pengikut, dibuat pada saat hampir bersamaan, dengan fokus pada isu yang sama,” jelasnya.

Artikel-artikel yang mereka sebarkan, jelas Benjamin, umumnya berisi dukungan pada otonomi khusus bukan kemerdekaan Papua.

Bellingcat menyatakan pihaknya telah melaporkan akun-akun ini ke pihak Twitter, Facebook, Instagram dan YouTube.

Sejauh ini pihak Twitter menyatakan telah menghapus akun-akun dimaksud sesuai dengan kebijakan manipulasi dan spam. Sedangkan YouTube dan Facebook, yang juga mengelola Instagram, belum memberikan tanggapan.

Dewasa ini, menurut Bellingcat, pembuatan profil di akun media sosial dengan menggunakan foto dari orang yang tak pernah ada, sangat mudah untuk dilakukan, bahkan caranya tersedia di berbagai website.

Namun pembuatan foto-foto tersebut, meski secara kasat mata tampak sempurna, tetap memiliki kelemahan seperti “adanya kerutan wajah yang tidak nyambung antara sisi kiri dan kanan”.

Foto-foto palsu semacam ini bisa dibuat melalui apa yang disebut sebagai Generative Adversarial Network (GAN). Ini merupakan kerja mesin yang menciptakan foto baru dari koleksi foto-foto lama dari orang yang sebenarnya.

Dengan menggunakan GAN, maka akan mencegah upaya untuk menelusuri sumber dan asal-usul suatu foto, seperti yang umum terjadi dengan akun medsos palsu yang hanya mencuri foto orang lain.

Salah satu cara untuk mengidentifkasi foto-foto akun medsos yang diciptakan melalui GAN, yaitu dengan mengamati posisi mata dari foto-foto tersebut.

Posisi mata dari foto-foto buatan yang menggunaan GAN selalu beradsa di tempat yang sama.

Simak berita lainnya dari ABC Indonesia.

Otsus adalah Lambang Kejahatan terhadap Kemanusiaan Orang Papua

UU OTSUS Papua dirancang khusus untuk memusnahkan etnis Papua dari tanah leluhurnya. UU OTSUS bukan sebagai “political will” – kemauan baik dari Indonesia untuk meningkatkan taraf hidup bagi orang asli Papua, akan tetapi “political seckret war” politik perang rahasia dari Indonesia untuk meningkatkan pemusnahan etnis Papua. UU OTSUS adalah UU INVASI (OPERASI) MILITER baik secara terbuka dan tertutup.

Di era OTSUS Papua sudah terbukti perang terbuka dan tertutup secara masif terus dilakukan. Penculikan dan pembunuhan dgn sadis yg menimpa almarhum Dortheys Hiyo Eluay (pemimpin kharismatik) adalah bukti bahwa OTSUS bukan bermaksud untuk membangun Tanah Papua, tetapi menenggelamkan etnis Papua – ras Melanesia dari tanah leluhurnya. Orang asli Papua meninggal dunia setiap saat karena banyak sebab adalah bukti bahwa orang Papua sedang dalam bahaya pemusnahan etnis.

Kini Indonesia sedang berancang-ancang untuk memekarkan lagi 3 propinsi dan 30 kabupaten di Tanah Papua, diikuti ratusan pemekaran distrik dan ribuan pemekaran kampung. Pemekaran-pemekaran ini adalah jalan masuk untuk para amber menguasai, menjajah dan menjarah. Sudah terbukti dalam 58 tahun, lebih khusus dalam 20 tahun era OTSUS tak ada perubahan ke arah yang lebih baik, khususnya dalam pemberdayaan, perlindungan dan keberpihakan kpd orang asli Papua.

Pembangunan fisik, tanpa dibarengi dengan pembangunan manusia adalah sia sia. Pembangunan fisik itu untuk siapa? Pembangunan fisik: jalan, jembatan, dll bukan untuk kepentingan orang asli Papua. Tetapi itu dibangun untuk kepentingan amber.

Jalan, jembatan, pemekaran sebagai jalan masuk bagi amber untuk menguasai, menjajah dan menjarah. Orang Papua musti melihat implementasi UU OTSUS Papua dengan arif dan jeli.

Jangan dilihat dari satu aspek saja, tetapi musti dilihat semua aspek dan dampaknya.

Ingat: OTSUS BUKAN LAMBANG KESEJAHTERAAN BAGI ORANG ASLI PAPUA, tetapi OTSUS ADALAH LAMBANG KEJAHATAN KEMANUSIAAN BAGI BANGSA PAPUA.

Karena itu ORANG ASLI PAPUA BERSATU MENOLAK UU OTSUS JILID II yg sdg dirancang.

Marilah kita berekonsiliasi (bertobat, berdamai dan bersatu) menyambut pemulihan bangsa Papua yg akan dipulihkan Tuhan Allah indah pada waktuNya. JALAN BEREKONSILIASI TOTAL (bertobat, berdamai dan bersatu) adalah JALAN BEBAS HAMBATAN yang ditawarkan oleh Tuhan kpd kita, agar bangsa Papua ke luar dari perbudakan Indonesia.

TAK ADA YANG MUSTAHIL BAGI TUHAN.

Atas pertolongan Tuhan, PAPUA PASTI BISA.

Source: FB

ULMWP Tetapkan Konstitusi Sementara West Papua

melanesianews's avatarWest Papua Government

dailypost.vu, 27 Oktober 2020 [Adorina Massing]

United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) telah meningkatkan Anggaran Rumah Tangga ke status Konstitusional Sementara, menuju jalan untuk mencapai referendum dan kemerdekaan dari pemerintahan kolonial.

Ketua ULMWP Mr.Benny Wenda telah menulis pernyataan yang melaporkan keputusan yang dibuat dari sidang tahunan ketiga Kongres Dewan Legislatif pada 14-17 Oktober di Papua Barat, dan keputusan Dewan Legislatif untuk menetapkan Konstitusi Sementara yang mengikat untuk Papua Barat.

“UUD Sementara memastikan bahwa ULMWP diatur oleh aturan dan norma demokrasi, hak asasi manusia, dan penentuan nasib sendiri. Setiap unsur UUD Sementara ini demokratis, ”tulisnya.

“Setiap elemen dirancang untuk melindungi budaya, identitas, dan cara hidup kami.

“Ini menunjukkan jalan menuju impian kami untuk menciptakan Negara Hijau pertama di dunia, di mana setiap agama dan makhluk hidup dilindungi oleh hukum.

“Kami telah belajar dari dunia tentang perlunya melindungi dan membangun pendidikan, perawatan kesehatan dan energi terbarukan, untuk membela hak-hak migran Indonesia…

View original post 181 more words

Mengempuni dan Mendoakan Orang Indonesia Adalah Perintah Allah untuk Orang Kristen

Pada saat Angkatan Bersenjata Papua Merdeka atau West Papua Army berbicara tentang “pengampunan” dan doa untuk pengampunan bagi orang-orang yang membenci dan merencanakan serta melakukan kejajahtan terhadap bangsa Papua, maka tentu saja bisa menimbulkan penafsiran bahwa kita mengampuni Indonesia atas semua hal yang dia lakukan selama ini di Tanah Papua, atas diri dan nyawa bangsa Papua.

BUKAN BEGITU!

Amunggut Tabi, Gen. WPRA mengatakan,

Ini adalah strategi peperangan Rohani, karna kita tidak hanya berperang secara jasmani, tetapi terutama kita berperang secara rohani, untuk memenangkan hati Allah, karena Tuhan hanya berpihak kepada KEBENARAN, dan yang dimaksud “KEBENARAN” di sini ialah KEBENARAN DIA sendiri, bukan kebenaran saya, apalagi kebenadan Anda.

Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini,” *Yohanes 4:16a”, di sini Alkitab TIDAK mengatakan “Karena begitu besar kasih Allah akan orang Kristen”. Apalagi Alkitab tidak mengatakan, “Karena begitu besar kasih Allah akan orang Papua”. Sama sekali tidak!

Allah mengasihi semua orang, orang Papua, Indonesia, orang Kristen, orang Islam, orang Ibrani, orang Yunani, orang hitam-putih, orang timur-barat orang utara-selatan, orang Melayu, orang Melanesia. Semuanya

Pada saat kita berdoa, mengeluh tentang penjajahan Indonesia atas tanah Papua, mengeluh dan mengundang Allah untuk turun tangan membantu dalam penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM dan berbagai hal lain, kita harus tahu bahwa pertama-tama kita harus berbicara atas dasar kasih.

Kasih harus menjadi alasan, dasar, titik-tolak, dan sebab daripada doa kita. Bukan kebencian. Bukan denndam. Bukan kepahitan. Bukan….., bukan….

Kasih…. Kasih…. dan Kasih…. harus menjadi dasar.

Kasih kita harus kita buktikan dengan pertama-tama mengampuni. Setelah kita mengampuni, maka kedua kita doakan. Setelah kita doakan maka terakhir kita lupakan.

Setelah itu baru kita datang kepada Allah, menyampaikan petisi kita kepada-Nya, dengan tulus, dengan terus-terang, dengan berani, dan menuntut Tuhan berperkara.

Matius 5:24 TB

tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.TB: Alkitab Terjemahan Baru

https://www.bible.com/id/bible/306/MAT.5.24.TB

Amunggut Tabi, Gen. WPA: 1 Desember Hari Kebangkitan Nasional Papua 01

Dr. Jack Wanggai menulis di status halaman Facebook sebagai berikut

REMEMBER!History that we must straighten for the nation’s generation today.December 1st is NOT Independence day for Melanesian Papuans

Artinya: Ingat! Sejarah harus diluruskan untuk generasi bangsa hari ini. Tanggal 1 Desember BUKAN hari kemerdekaan untuk orang Melanesia Papua.

Amunggut Tabi, General WPA ketika ditanya di MPP TRWP mengatakan bahwa selama ini telah terjadi kekeliruan fatal di antara bangsa Papua, yang disebabkan pertama-tama oleh kolonial Indonesia, dan kedua karena orang Papua sendiri tidak sekolah baik, maka mudah dimanipulasi.

Karena dua alasan ini, maka bangsa Papua telah diajarkan bahwa 1 Desember 1961 adalah Hari Proklamasi Kemerdekaan Papua. Dalam hal ini secara konseptual dua kesalahan. Atau bisa dikatakan juga dua kebodohan.

Kesalahan atau kebodohan pertama, karena kita menyebut hari proklamasi tetapi tanpa Teks Proklamasi adalah sebuah kesalahan fatal atau kebodohan yang patut kita tertawai diri sendiri. Jadi, dengan demikian, kita bisa menertawakan diri sendiri dengan mudah bahwa kita sudah salah menganggap suatu hari tanpa teks proklamasi kita pandang sebagai HUT kemerdekaan

Kesalahan atau kebodohan kedua karena wacana 1 Desember HUT Proklamasi ini dikeluarkan oleh NKRI sendiri, bukan oleh para pejuang Papua Merdeka. Ini murni gagasan NKRI yang dikeluarkan lewat FOREGI – PDP, yaitu dua organisasi bentukan NKRI sendiri.

Bangsa Papua memang dasar tidak tahu diri secara jelas. Mudah ditipu, muda tertipu dan juga mudah percaya. Dibilang iblis itu baik, orang Papua bisa percaya. Dibilang “kata revolusi itu komunis punya”, orang Papua juga percaya. Dibilang “Papua harus baku-bunuh baru merdeka”, orang Papua juga masih saja percaya.

Jadi, singkatnya, menurut Dr. Benny Giay, bangsa Papua memang memenuhi syarat untuk dijajah.

Doa Undangan Terbuka untuk Octovianus Motte, Jeffry Pagawak, Victor Yeimo dan Sebby Sambom

Dalam doa bersama di Markas Pusat Pertahanan Tentara West Papua di Yako, Vanimo, Papua New Guinea, di antara para perwira Tentara Revolusi West Papua Gen. WPA Amunggut Tabi menyampaikan doa kepada Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus sebagai berikut.

Di dalam nama Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus, Aku sebagai hamba-Mu, General WPRA Amunggut Tabi datang menghadap, Lapor, Ya Yesus Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa.

Lapor, saya mengundang Engkau, datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu dalam perjuangan Papua Merdeka, sehingga apa yang terjadi dalam perjuangan ini bukan kehendak manusia, bukan kehendak oknum, bukan kehendak pribadi, tetapi adalah kehendak Tritinggal Allah, kehendak bersama dan kehendak untuk merdeka dan bebas bagi bangsa Papua, wilayah West Papua.

Lapor, di dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus, izinkan saya mengundang lewat doa ini, kepada

  1. Tuan mantan Ketua ULMWP, Dr. Octovianus Motte, di Amerika Serikat
  2. Tuan Victor Yeimo, mantan Ketua KNPB, di Tanah Papua
  3. Tuan Jeffry Pagawak, di Tanah Papua
  4. Tuan Sebby Sambom di Tanah Papua.

agar mereka datang bergabung dengan orang tua mereka, Mathias Wenda, Chief Gen. WPRA, dan bergabung ke dalam ULMWP untuk membawa perjuangan bangsa Papua memasuki tahapan-tahapan penyelesaian pendirian negara, sebelum berhadapan dengan NKRI.

Saya tahu bahwa NKRI menginginkan UUDS NRWP ini tidak disahkan pada tahun ini sebelum UU Otsus disahkan untuk memperpanjang pendudukan NKRI atas tanah Papua.

Saya tahu bahwa ada organisasi dan oknum di dalam ULMWP mendukung program NKRI secara terang-terangan. Saya sudah tahu nama mereka, dan saya juga telah tahu di mana mereka bertemu dan mereka membicarakan apa saja dengan NKRI. Akah tetapi itu tidak penitng. yang terpenting ialah bahwa kami semua satu bangsa, satu tujuan: One People – One Soul. Dan atas dasar itu Engkau tahu, saya mengasihi mereka dengan sungguh-sungguh dari dalam hati saya.

Ya, Yesus, Engkau sebagai Raja Damai yang akan datang memerintah segenap alam semesta sepanjang masa, yang sedang kami persiapkan di dalam Negara Republik West Papua untuk kedatangan-Mu.

Ya Yesus, Engkau tahu, bahwa Negara Republik West Papua ialah Negara yang didirikan dengan cita-cita untuk menghadirkan kerajaan Allah di Bumi, seperti di surga, bukan untuk keadilan dan kemakmuran materialis duniawi, bukan untuk kemerdekaan dan kebebasan jasmaniah yang fana, bukan untuk keadilan sosial bagi seluruh rakyat yang bersifat sangat duniawi. Engkau telah lihat dasar pemikiran dan rancangan Undang-Undang yang secara langsung mengundang keterlibatan-Mu secara legal-formal negara dalam perjuangan ini.

Iblis masih ada, dia bekerja menebar kecurigaan, menebar ke-akuan yang mematikan, dan menebarkan rasa takut, rasa saling mencurigai, rasa saling membenci dan rasa saling mendendam, yang tidak sehat dan tidak beradab.

Dalam Darah Yesus saya patahkan dan saya hancurkan segala kuasa kegelapan.

Sampaikanlah undanganku yang sangat pribadi ini kepada saudara-saudara-ku sebangsa, seiman, sependiritaan dan senasib.

Tuhan, lihat hatiku! Lihat pikiranku! Sampaikanlah hati ini, perasaan ini, cinta-kasih ini, kasih Allah yang ada di dalam hati kami kepada saudara-saudara-ku di mana-pun mereka berada.

Hadirlah dan nyatakan kehendak-Mu. Tunjukkan kuasa-Mu.

Engkah telah datang ke dalam dunia ini dan mati lalu bangkit mengalahkan iblis, yang memisahkan kami dari Allah, yang memisahkan kami suku-suku di Tanah Papua, mendamaikan kami dengan Allah dan mendamaikan kami di antara suku-suku di Tanah Papua.

Kepentingan kami, kehendak kami, pemikiran kami, kedudukan kami, perjuangan kami semuanya hanya sementara untuk di dunia ini selama kami hidup di dunia ini.

Kami berdoa demi kepentingan hidup kekal. Kami minta karena kewajiban kami sebagai orang Kristen, bukan karena kewajiban di dalam posisi kami secara politik ataupun militer. Itu sama sekali sementara. Yang kekal ialah kebenaran bahwa kami hanyalah manusia, yang telah dilahirkan, dan sekarang hidup dan kemudian akan mati, dan roh kami akan hidup di alam baka Bukan sebagai orang Yali, bukan sebagai orang Walak, bukan sebagai orang Mee, bukan sebagai orang Lani, bukan sebagai orang Papua, bukan sebagai orang Indonesia, tetapi sebagai anak-anak Allah, satu babptisan, satu kasih, satu pengharapn.

Dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus hamba-Mu berdoa. Kiranya kabulkan-lah doa kami ini. Berbisik dan berteriaklah ke dalam hati dan pikiran semua bangsa Papua, secara khusus saucara-saudara sebangsa, setanah air, seperjuangan dan senasib yang kaimi sebutkan secara khusus dalam doa ini.

Dalam Nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus! Amin!

Three Poisons in Free West Papua Campaigns (3b)

General WPRA Amunggut Tabi stated in one of the briefings to his troops at the Central Headquarters of West Papua Revolutionary Army (WPRA) at Yako Village, Papua New Guinea that there are three poisons that have destroyed our campaigns to free West Papua, namely egoism, gossiping, and fear.

Discuss Again: Spiritual and Emotional Fear Across Melanesia

There is a mix of both spiritual and emotional fear across Melanesian peoples, in dealing with Indonesia in relation to Free West Papua campaign, but it appears that the most Melanesians actually have spiritual fear rather than emotional or natural fear.

Yes, there is natural fear among Melanesians in Papua New Guinea, but this fear only spread along the border areas between West Papua and Papua New Guinea, from Port Numbay (Indos call her Jayapura) to Maroke (Indos call her Merauke). They have seen their brothers and sisters from western side suffered, they mourned for their dead ones together, they met those fleeing from West Papua to Papua New Guinea. These make them have natural fear.

Compared to Melanesians in Solomon Islands, Fiji, Vanuatu, and Kanaky, they have never seen any single Indonesian around. They have never met any Indonesian solider or police. They have no direct experience of contact with Indonesian peoples. They never met Melanesians from West Papua crying or fleeing.

They just read from the news, the internet and electronic media. They just heard from someone in or from West Papua. But they have fear of supporting Indonesia. They have fear, but the source of fear is from inside, fear that has no cause, but fear that comes from inside a person. The seed of this fear is inside the person, it is not from stimuli outside. It is an egocentric fear, fear related to toe ego of the person, “me”, “I”, “an-an”.

What are the actual information that make Melanesians, particularly Melanesian politicians and leaders are fearful to talk about and support West Papua?

In addition to previous three “Fear-Factors” under the sub-topic “Fear Factor in Free West Papua Campaign“, we hereby add two more factors:

  1. The number one reason : fear of supporting the cause when the campaigns and campaigners are not united. Melanesian leaders are fearful of supporting West Papua independence movement is the fractions and factions within the Free West Papua campaign organisations and individuals. They choose “wait-and-see” approach when leaders or organisations from West Papua start talking about each other and attacking each other.

    Just read the history of ULMWP membership at the MSG and you will know this is the case.
  2. The reason number two is the “fear of breaking the international laws” by supporting Melanesians in West Papua who are suffering from gross and systematic human rights violations since 1 January 1962, when Indonesia militarily invaded Western New Guinea.

    Many Melanesian leaders are wrongly convinced that West Papua is legally part of Indonesia accordion to the Act of Free Choice carried out in West Papua in 1969, therefore, those individuals, politicians, leaders who speak against Indonesia in relation to West Papua is against the international Law.

    Indonesia also emphasizes the sovereignty principle in international relations, and this forces Melanesian leaders not to speak the truth.
  3. Reason number two that makes Melanesian in general and Melanesian leaders in particular are fearful of supporting West Papua independence campaign is because they are told that Indonesia is very strong military power in the South Pacific and they carry out intelligence and military operations across the South Pacific to tame and finally finish off any Melanesian leaders who support West Papua independence. Most people will mention assassinations of Iambeki Okuk, Laurenz Dloga, Hans Bomay, Theys Eluay, Fransalbert Joku, Nicolaas Jouwe, Clements Runawery, Wim Zonggonau and many others as examples of cases that can face those who strongly support Free West Papua.

    Rumours spreading in Papua New Guinea that “Indonesia is portrayed as brutal mighty military power that can attack and destroy Papua New Guinea within a day.”
  4. The reason number three is that speaking against Indonesia will not get anything financially, but not speaking against Free West Papua Campaign will get financial benefits, women benefits and trade benefits.

    As mentioned before:
    Indonesian diplomacy is famous with double “W”, = Wang – Wanita, i.,e, money and women. Look at those diplomats speaking against Melansian top leaders. Indonesia uses young diplomats, most probably ex-prostitutes, to speak against Melanesian leaders. Look at many Melanesian leaders who used to speak very loudly against human rights violations in West Papua and for self-determination, but only a few years later, or even a few months later, their mouths shut, no more hello Wantok, no more good morning Bro, let alone speaking against Indonesia.

How to Rise Up Beyond Fear

Hon Powes Parkop, MP, the Governor of the National Capital District of Papua New Guinea is the only Melanesian politician so far who have spoken openly and continuously that both Melanesians and Indonesians “must rise up beyond fear“.

He repeatedly reiterated that fear should not rule our future. We must speak from the heart, based on the truth that West Papua independence will bring great benefits to Indonesia as a modern and civilized nation-state. He says by occupying West Papua, Indonesia becomes isolated from the rest of Melanesia. Indonesia must come out and trust that the independence of West Papua is a new important era for Indonesia to become a great nation in the South Pacific, politically and more importantly economically.

From West Papua, Gen. WPRA Amunggut Tabi also repeatedly speaks in various occasions that spiritual approach is the best way to defeat or rise up beyond fear.

Note:

We are still talking about the third poison in Free West Papua campaign. The last two articles talk about the poison called “fear”. The coming two more articles will still talk about “fear”, as fear is the most disturbing mental and spiritual poison and right now it is a disease that cause us all Melanesians cannot get up for our rights, and too weak to get up and speak the truth.

[…to be continued …]

Gen. WPRA Amunggut Tabi: WPA Fokus Satu Arah, Satu Bidikan: NKRI

Menanggapi berbagai kritikan atas langkah ULMWP mensahkan Undang-Undang Dasar Sementara (UUDS) Negara Republik West Papua (NRWP), di mana para perwira yang ada di rimba New Guinea memberikan ancaman dan teguran kepada ULMWP dan gerilyawan yang bersatu dengan ULMWP dalam West Papua Army (WPA), Gen. Tabi menanggapi dan mengatakan,

Kita ini orang Kristen. Ayah dan ibu kita orang Kristen. Kita dikandung dan dilahirkan dengan doa-doa Kristen. Kita dibesarkan dan menjadi pemimpin dengan bimbingan Panglima Mahatinggi Komando Revolusi semesta alam sepanjang masa bernama Yesus Kristus, Tuhan, Raja, Hakim Mahaagung dan Raja Damai”.

Agama Kristen tidak mengajarkan semua yang dipertanyakan. Semua ancaman, semua benci-membenci, semua teror, itu ajaran terorisme ada dalam agama apa? Ada dalam budaya siapa? Ada dalam realitas kehidupan bangsa mana?

Melanesia tidak! West Papua tidak! orang Kristen tidak!

Jadi, kami di Markas Pertahanan Tentara West Papua, bersama Panglima Komando WPA saat ini tidak mempermasalahkan dan tidak pernah menyalahkan siapa-siapapun, anak-anak Papua itu aset bangsa jadi kami tidak perlu menyalahkan apalagi mengancam mereka. Itu akan menghibur penjajah dan mereka akan bersujud-sembah melihat kita saling memarahi, apalagi memusuhi.

Ajaran agama Kristen, kita sebagai orang Kristen diajarkan (1) “Kasih” kepada Allah, dan (3) kasih kepada sesama manusia seperti (2) kasih kepada diri sendiri. Itu rumus matematika absolute, tidak dapat diganggu-gugat. Jadi, kalau ada yang menebarkan kebencian dan kata-kata yang memecah-belah, maka kita doakan dan kita ampuni, kita doakan agar Roh Kudus menjamah hati mereka, pikiran mereka, roh mereka.

Geenral Amunggut Tabi melanjutkan bahwa bilamana ada suara-suara kebenciran, serangan-serangan kepada pribadi kita atau kepada organisasi orang Papua, maka itu harus dilihat dalam satu kerangka, yaitu kerangka perjuangan Papua Merdeka. Dalam kerangka itu, maka yang tidak senang dan yang memusuhi perjuangan itu juga hanya satu pihak, yaitu NKRI, dan satu orang yaitu orang Indonesia.

Tidak ada satupun orang Papua yang sepenuhnya dan sesungguhnya mencintai NKRI. Dasar cintanya apa?

Gen. Tabi melanjutkan bahwa kita mencitai semua orang di dunia, termasuk orang Papua dan orang Indonesia, akan tetapi kita menentang NKRI, karena NKRI itu kerajaan iblis yang nyata hari ini.

Negara Kesatuan Republik Iblis (NKRI) adalah negara modern milik pribadi ibilis yang berasaskan ketamakan oleh keakuan dan ketakutan, kebencian oleh karena keakuan yang penuh nafsu dan kekerasan yang dipicu oleh ketakutan, lantaran tida percaya kepada diri sendiri dan kepada sesama.

NKRI identik dusta, NKRI identik dengen pecah-belah. NKRI identik dengan kebencian. NKRI identik dengan teror dan intimidasi, pembunuhan orang Papua, yang adalah manusia ciptaan Allah menurut rupa dan gambar Allah. Siapa yang mengancam, meneror dan merusak gambar Allah, ia akan dirusak oleh Allah sebagai pemilik rupa dan gambar itu sendiri.

Yang harus dilakukan ULMWP dan WPA ialah menabur kasih, membesarkan kasih dan menebar kasih dengan kepada semua orang, baik orang Papua maupun orang Indonesia. Orang Indonesia harus diselamatkan kepada Yesus Kristus, dan orang Kristen Papua bertanggung-jawab untuk itu. Caranya ialah pertama-tama melepaskan West Papua dari cengkeraman NKRI, lalu orang Papua akan bebas bergerak menyebarkan sayap penginjilan dibiayai dengan uang negara untuk menginjili dan meng-Kristen-kan seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Iblis, menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, mulai dari Sumatera sampai Bali.

Three Poisons in Free West Papua Campaigns (3a)

General WPRA Amunggut Tabi stated in one of the briefings to his troops at the Central Headquarters of West Papua Revolutionary Army (WPRA) at Yako Village, Papua New Guinea that there are three poisons that have destroyed our campaigns to free West Papua, namely egoism, gossiping, and fear.

We have discussed the two poisons in previous articles. We have looked into how the ego and “Nabok-Kabok”, poison human beings personally and socially.

We have seen that the most poisonous for an individual is the “ego”, and the most poisonous for a society, a group of people is “nabok-kabok”, or gossiping about each other.

It is the ego that produces the second poison and the last poison called “fear”.

“Nagabete” in Lani language or fear is rooted in the same seed, i.e., ego, self-centered image (an-an). Fear is the root of the poison, whereas the previous poison, “nabok-kabok” is the stem of the poison.

Spiritual and Emotional Fear

There are two types of fear. The most known one is “natural fear” or emotional fear, for example fear of pain, fear of darkness, fear of being interrogated, and finally fear of death.

The second one is spiritual fear, that is the source of fear, fear that has no cause, but it comes from inside a person. The seed of this fear is inside the person, it is not from stimuli outside. It is an egocentric fear, fear related to toe ego of the person, “me”, “I”, “an-an”.

Characteristic of a Fearful Person

  • Egocentric person will be fearful in almost everything and towards almost everyone.
  • The self-image of the egocentric person is reflected from others, not from inside herself/ himself as the inside of the ego is already poisoned by individualistic, self-centered view of the self and of this world.
  • Egocentric person does not trust anyone and even does not trust himself/ herself. There is no trust in the self.
  • Egocentric person will be fearful that nobody will listen to him and that almost everyone is against him.

In summary, the egocentric person will make a lot of noise about something or someone. Egocentric person will see everything and everyone, including himself/ herself as a problem and will bark to everything and everyone.

Exactly like a fearful dog, the fearful person will always make noise, will always find something to talk about, we never want to talk peace.

Fear Factor in Free West Papua Campaign

The first fear that took root inside all Melanesians in New Guinea was that Indonesia is brutal military power, the biggest in Asia, therefore, be careful to think, speak or act against the powerful militaristic nation of Indonesia.

This is shared by all Melanesian leaders, the only exception is Melanesian leaders in Vanuatu and some in West Papua.

The fear of being attacked, or killed planted by Indonesian and Australian secret agents took root and we are not doing things enough to heal from this.

The second fear factor across Melanesian leaders is the “fear of breaking the international laws” by supporting Melansians in West Papua who are suffering from gross and systematic human rights violations since 1 January 1962, when Indonesia militarily invaded Western New Guinea.

The third fear factor among Melanesian leaders is not getting financial support from Indonesia, to those personal leaders. Indonesian diplomacy is famous with double “W”, = Wang – Wanita, i.,e, money and women. Look at those diplomats speaking against Melansian top leaders. Indonesia uses young diplomats, most probably ex-prostitutes, to speak against Melanesian leaders. Look at many Melanesian leaders who used to speak very loudly against human rights violations in West Papua and for self-determination, but only a few years later, or even a few months later, their mouths shut, no more hello Wantok, no more good morning Bro, let alone speaking against Indonesia..

[…to be continued …]

Blog at WordPress.com.

Up ↑

Design a site like this with WordPress.com
Get started